Perang Melawan Siapa, Diri Sendiri? - National Geographic Oktober 2019
Kalimat itu menjadi headline dari edisi bulan lalu. Sekedar pengetahuan (untuk pembaca yang masih belum tahu), arktika berada di kutub utara, sebuah wilayah es yang terbagi dalam beberapa teritori terklaim oleh negara-negara sekitarnya: Amerika dengan Kanada, Rusia, Eropa, dan masih banyak yang lainnya. Tidak seperti Antartika yang merupakan benua tersendiri dan tak diperbebutkan (setidaknya hingga saat ini), Arktika mendapatkan perlakuan yang berbeda.
Gelombang manusia modern menyerbunya, dan mengancam eksistensi dengan pencairan es di seluruh wilayah.
*****
NGI tidak terburu-buru membahas arktika. Bab pertama kajian utama diisi dengan penelusuran asal mula bahasa Indonesia modern yang berasal dari sebuah pulau kecil di Provinsi Kepulauan Riau: Penyengat namanya. Agni Malagina memaparkan bagaimana bermacam-macam budaya melebur jadi satu dalam wadah berbentuk pulau, dan melahirkan bahasa Melayu yang secara mudah tersebar dan digunakan dalam kegiatan berdagang hingga akhirnya menyebar ke penjuru Nusantara.
Kajian terhadap asal mula bahasa Indonesia sendiri, tak lain dan tak bukan, adalah sebuah upaya basa-basi, mengingat Oktober adalah Bulan Bahasa. Ya. Sesederhana itu.
Neil Shea adalah penulis pertama dalam kajian arktika. Ia menceritakan dari sudut pandang ilmuwan yang ikut dalam barisan tentara, menjadikan arktika sebagai medan latihan menghadapi perang dalam situasi dingin. Selain itu, dengan kemajuan sains, arktika kini menjadi lahan perebutan politis antar negara utara, yang juga mengikutkan negara non-arktika sebagai investor kapal dan tambang minyak. Arktika diklaim akan menjadi lahan ekonomi baru, meskipun kini hanya sebuah bongkahan es raksasa di kutub utara.
Selain Neil Shea, ada pula Jennifer Kingsley, yang menceritakan lika-liku kehidupan ilmuwan yang keras di Greenland, tempat enam orang peneliti diposkan di sana. Mereka, terdiri dari berbagai macam keilmuan, menjadi garda terdepan ilmu pengetahuan yang memantau penyusutan es. Mereka pula yang tidak tahu harus bertindak apa melihat kemunduran ekologi terjadi dengan cepat di depan mata. Enam orang ilmuwan ini, hanya bisa berharap kepada kita sebagai sesama penghuni bumi, untuk tidak terburu menghancurkan alam dan diri sendiri.
Beralih dari isu ekologi, Heather Pringle mencoba mengajak pembaca untuk menguak satu persatu kasus eksplorasi Arktika yang gagal. Setidaknya, sejak tahun 1497, sudah ada keinginan manusia untuk mengeksplorasi daerah dingin di utara ini. Hal itu terus-menerus dilakukan hingga menimbulkan banyak korban jiwa: mati kedinginan, hilang dalam badai salju, maupun tersesat dan kembali ditemukan dalam kemah-kemah penuh rangka. Tapi ilmuwan tdak pernah mneyerah. Mereka yang telah mati, kini menjadi bahan museum untuk eksplorasi Arktika berkelanjutan.
Bergeser dari Arktika ke Pulau Ellesmere di Greenland, Neil Shea kembali mengajak kita untuk melihat serba-serbi kehidupan serigala abu-abu (Canis lupus) yang tenang dan bersahaja. Tak seperti fauna lain di seluruh dunia yang terancam dengan keberadaan manusia, serigala abu-abu tetap berkontak dengan penduduk lokal tapi tidak terpengaruh sama sekali. Mereka hidup dalam kawanan yang kecil dan berburu tanpa halangan. Mereka tidak hidup di atas es. Tapi perubahan iklim pastinya akan mempengaruhi kehidpan mereka pula.
Terakhir, ada Acacia Johnson yang dengan foto-fotonya, bercerita tentang budaya Suku Inuit terancam bersamaan dengan terancamnya es di kutub. Hilangnya kesadaran akan budaya memang menjadi masalah global, tapi suku ini berhasil mengantipasinya dengan mengadakan kemah berburu, baik bagi remaja maupun orang dewasa. Meski tak mewah, kehidupan mereka di atas es menjanjikan eksklusifitas tertentu: pengetahuan akan budaya sendiri.
NGI Oktober ini, memberikan pertanyaan penting bagi kita sebagai pembaca: siapkah kita menghadapi mencairnya es kutub utara? Siapkah kita tenggelam bersama budaya yang kita agung-agungkan? Beranikah kita bertindak hari ini, memperlambat kematian kita sendiri? Ini bukan lagi perang dingin. Kita tidak melawan sesama manusia yang mungkin saja bernafsu dengan tambang minyak di utara. Kita melawan diri kita sendiri: manusia-manusia penuh dosa yang selalu merasa menjaga lingkungan tetapi tetap mengundang kerusakan alam semakin cepat, hari ke hari.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?