Mendengar Curhat Driver Ojol Sore Hari: "Cerai itu Ya Gak Enak, Mas"



Saya diminta umi untuk datang ke Pengadilan Agama, kantor umi sejak bulan Agustus 2019 setelah pindah dari kantor PA Lamongan. Biasanya, akan ada satu-dua barang yang harus diambil. Atau saya butuh tambahan uang jajan sebelum punya rekening sendiri. Tapi hari ini saya tidak hanya akan mengambil jaket baru yang dibawakan dari rumah. Saya juga harus membawa dua kitab yang dititipkan teman umi untuk keperluan disertasi. Saya pun berangkat ke PA, dengan memesan ojek online setelah jumatan.

Berangkat dari UKM (karena bukunya saya titipkan di sana), saya naik motor sembari mendengarkan musik. Langit mulai menghitam dengan awan tebal menghantui. Dengan padatnya lalu lintas ke sana, saya masih sempat membuat instastory, tentang awan yang menghitam, dan saya yang tidak pernah pulang. Hiya hiya. Gaklah. Bukan gitu. Tapi memang jalanan macet sekali. Entah karena apa.

Driver ojol yang mengantar saya sempat salah alamat, dikiranya saya hendak turun di pengadilan negeri. Itu dikarenakan rute jalanan yang tidak ia lihat di Map. Untungnya, lokasi kedua pengadilan ini dekat, jadi sekedar lewat jalan kecil, sudah sampailah di hadapan pengadilan agama. Saya menelpon umi dan mengabarkan kalau saya sudah sampai di bawah dan menunggu. Saya meminta izin kepada mbak-mbak magang (keliatan kayak anak SMA) yang menjaga di meja resepsionis untuk duduk di kursi. Ia memperbolehkan dan saya pun duduk dengan kaki kiri di atas lutut kanan.

*****

Selesai urusan saya dengan umi, saya memesan ojek online lagi. Kali ini, tentu saja untuk kembali ke kampus karena saya ada kelas metpen setelah ashar. Langit makin menghitam tapi tak turun hujan. Seorang driver menerima pesanan saya sembari mengirim pesan untuk menunggu di dalam pagar PA, tidak di jalan karena itu masih redzone bagi ojol. Saya menyanggupi saja dan menunggu di dalam. Toh, tak lama kemudian, gerimis mulai turun dan driver itu datang.

Ketika melihat driver itu, umi bertanya tentang asalnya. Si Driver, yang di aplikasi Grab bernama Mahmud Ridwan, menjawab dengan nama suatu daerah -saya tidak mengingatnya- tapi umi saya tahu bahwa beliau asli Malang. Saya pun naik ke motornya dan pamit ke umi. Kami berangkat ke kampus dengan gerimis sepanjang perjalanan. Btw, itu pertama kalinya saya naik ojek online dengan mantel.

Setelah agak jauh dari PA, si Driver -kita sebut saja Mas Ridwan- bertanya kepada saya, "Loh, itu tadi ibunya sampean ta, Mas?" Saya menjawab iya dan menganggukkan kepala, meskipun tau bahwa Mas Ridwan tidak mungkin melihat ke belakang. Lalu ia melanjutkan, "Ibu itu yang mimpin sidang waktu saya cerai lho, Mas."

"Oh, iya?" saya sendiri terkaget. "Kok bisa?"

"Iya, bulan lalu saya sidang cerai." Mas Ridwan menjawab. "Dan ibu sampean yang mimpin."

"Hakim Ketua ya, Mas?" saya bertanya balik, sembari mengingat foto-foto lama di rumah yang menunjukkan bahwa umi menjadi Hakim Ketua dalam sidang. Saya sendiri menebak-nebak. Tapi benar.

"Iya, Mas. Pokoknya di tengah."

Maka Mas Ridwan pun mengobrol panjang lebar tentang kasus perceraiannya dengan istrinya bulan lalu.

Dia menikah tahun lalu. Sebagai driver ojol, ia dikenalkan dengan seorang wanita tetangga yang tidak terlalu akrab, yang ternyata wanita itu adalah lulusan pesantren. Maka, menikahlah mereka karena Mas Ridwan sendiri sudah lama melajang dan belum mendapat pasangan. Si Wanita lulusan pesantren, hanya mengikuti kisah perjodohan orang tuanya. Sebelum menikah, ia sudah berpacaran dengan lelaki lain yang tidak direstui keluarganya. Pernikahan mereka berjalan cukup lancar, dengan resepsi yang diadakan oleh pihak keluarga mempelai wanita karena mereka kaum berada. Keluarga Mas Ridwan sendiri hanya mengikuti jalannya pernikahan beserta resepsinya.

Yang tidak disangka, adalah cinta benar-benar tidak dapat dipaksakan. Karena perjodohan, si wanita belum bisa mencintai Mas Ridwan meskipun sudah berada dalam satu rumah dan diberi nafkah. Maka, setelah empat bulan bersama, sang Istri pun kabur ke rumah orang tuanya. Mas Ridwan sebagai suami yang baik mengajak ia berbaikan dan menjemputnya dari rumah mertua. Awalnya, usaha itu berhasil. Tapi, setelah berjalan cukup lama, pisah ranjang juga akhirnya.

Berada dalam situasi yang sulit, Mas Ridwan masih memberi nafkah sang Istri seminggu sekali. Dia tak berhenti meskipun sudah tahu bahwa sang Istri tidak mencintainya lagi dan kini lebih betah bersama orang tuanya. Mas Ridwan berusaha mempertahankan, ketika sang Istri meminta surat cerai sebagai bukti kepastian hubungan mereka. Awalnya, Mas Ridwan menolak. Tapi untuk kedua kalinya, ia tidak bisa menolak karena tahu istrinya sudah (atau memang sedari awal) tidak mencintainya.

"Akhirnya, saya beliin itu, Mas. Surat Cerai." Ia berkata dengann sedih. Saya sebagai penumpang tidak tahu bagaimana ekspresinya. Tapi suaranya seperti sedih dan tertawa, menertawakan kegetiran hidupnya yang benar-benar getir. Saya juga merasa bersalah, karena terlalu banyak tanya tentang kehidupan pribadinya. Toh, kisah ini sangat menarik untuk ditulis, mengingat saya sudah mulai jarang menulis.

Selain mendengar ceritanya yang pahit, saya juga bercerita tentang bagaimana orang Katolik tidak boleh bercerai. Pada mulanya, Mas Ridwan tidak percaya, tapi setelah saya beri tahu dengan embel-embel studi ilmu antropologi yang fokusnya pada budaya, ia mulai mengerti. Padahal, pegetahuan itu saya dapatkan dari Mojok, bukan di kelas. Toh, sama saja. Saya juga bercerita tentang satu-dua kasus perjodohan antar-santri yang dilakukan oleh kyai. Meski sama-sama dijodohin, kita sama-sama tahu bedanya: mana yang lebih langgeng dan samawa.

Meski bersyukur atas kehidupannya, Mas Ridwan juga merasa kosong setelah perceraian itu. Kini ia masih hidup sendiri bersama motornya mengelilingi Kota Malang menjadi driver ojek online. Ia belum mendekati satu pun perempuan setelah cerai, kecuali diperkenalkan oleh teman-teman sesama driver. Saya tidak berani mendoakannya secara lisan, hanya dalam hati. Dan percakapan kami berakhir setelah kami sampai di kampus dan beliau mengantarkan saya ke depan gedung UKM.

Komentar

  1. Waduh, umi jg tidak ingat, saking banyaknya perkara yg ditangani, dan jg memang tdk boleh ngingat dan kenal orng

    BalasHapus

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir