Memahami PostModernisme yang Mencoba Jujur pada Diri Sendiri


Semenjak Malinowski, tokoh pencetus fungsionalisme sebagai salah satu paradigma, turun lapangan dan mencatat etnografi langsung dari sumbernya, antropologi sudah berada di tahap modernisme yang meninggalkan penelitian budaya dan penulisan etnografi dari balik meja. Teori-teori klasik berdiri sendiri sembari memberikan pondasi pemikiran pada paradigma-paradigma selanjutnya. Begitu pula teori-teori modern. Para antropolog berusaha untuk terus-menerus meperbaharui cara pandang dan perspektif agar selalu mendapat pemahaman yang utuh nan saintifik dalam dinamika kebudayaan manusia.

Semangat itulah yang kemudian memunculkan post-modernisme: perspektif baru yang berasal dari dunia seni dan artsitektur tentang bagaimana modernitas tak berhasil memberikan kedamaian pada diri manusia, melainkan turut menambah beban psikis dan psikologis tentang bagaimana manusia terus berprogres dalam kemajuan. Di tahap ini, modernitas digugat dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang humanitas: seberapa penting kemajuan? Apakah kemajuan benar-benar membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik dan nyaman? Apakah kemajuan hanya akan membuat manusia akan terus mengeksploitasi alam demi keberlangsungan hidup? Sudut pandang modern tidak hanya memuat perspektif Barat yang kapitalis, tetapi juga tidak memberikan solusi atas efek sampingnya yang tak berhenti.

Kesadaran itulah yang kemudian, dimiliki pula oleh para ahli dalam ilmu sosial: bahwa penelitian tentang masyarakat tidak akan pernah lepas dari bias subjektivitas, bahwa apa yang mereka gambarkan kemudian tulis tentang kebudayaan adalah suatu proses pemilihan dan pemilahan: mana yang bagus dipaparkan, mana yang musti disimpan. Post-modernisme tidak mau terlibat dalam utopia idealis, bahwa penggambaran masyarakat dan kebudayaannya mustilah dipaparkan sebagaimana adanya, ditulis tanpa subjektivitas. Cita-cita dan ambisi objektif, yang kemudian disebut-sebut akan menjadikan antropologi semakin saintifik, tidak dimiliki oleh post-modernisme.

Secara mendasar, post-modernisme tidak memberikan banyak pengaruh dalam dasar-dasar pemikiran antropologis, hanya saja membangkitkan kesadaran akan subjektivitas peneliti dalam kepenulisan. Dengan begitu, kreatifitas peneliti untuk menulis etnografi akan semakin bertambah, meskipun pada akhirnya tidak dapat menggambarkan konsep kebudayaan yang sepenuhnya dipahami masyarakat setempat, tetapi setidaknya antropolog dapat menjadi jembatan edukatif nan informatif lalu memberikan pemahaman yang baik akan kebudayaan tertentu.

Pertanyaan

Apakah post-modern menjadi akhir dari paradigma antropologi? Apakah ada kemungkinan munculnya paradigma baru untuk melihat fenomena kebudayaan di kemudian hari?

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir