Main-Main Nyawa, Yuk di Ready or Not (2019)!
Dua anak kecil berlari di antara koridor-koridor panjang sebuah rumah. Lukisan-lukisan terpampang, terkabur dengan ingatan yang berlari terburu-buru, tak tahu arah. Entah berapa kali mereka berdua berbelok, ke kanan ke kiri, mendatangi satu per satu ruangan-ruangan besar penuh aksesori. Piyama tidur masih tersemat, memperlihatkan biru indah yang mereka kenakan. Dan ketika sudah terasa aman, sang kakak yang memimpin jalan berhenti pada suatu lemari, membukanya dan menyuruh adiknya masuk. Dari belakang, lelaki itu datang.
"Daniel, Daniel." Ia terengah-engah, menyebut nama anak kecil di depannya. "Tolong aku, please. Aku janji tidak akan ada suatu hal yang terjadi."
Namun bocah itu mengelak, lalu memanggil anggota keluarga lain dengan keras. Tak lama, anggota keluarga lainyang menggunakan topeng buruk rupa datang dan memanah lelaki itu. Istrinya berteriak tak rela, dengan gaun putih yang masih utuh sejak pagi. Akhirnya, mempelai wanita itu, Helena, menarik air matanya masuk, mengusapnya dari pipi, lalu ikut dalam ritual turun-temurun keluarga Le Domas.
Setidaknya, itulah prolog dari kisah menyeramkan ini.
Cerita
Seorang wanita muda berbicara sendiri di depan cermin. Ia menyusun kata demi kata, yang kemudian akan menjadi kalimat janji sucinya dalam akad pernikahannya nanti. Gaun putih sudah dikenakan, tapi rasa cemas belum kunjung hilang -atau setidaknya menurun. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku, lalu menghisapnya sedikit. Manakala ia menyinggung keluarga suaminya yang aneh, dan menatapnya dengan penuh kecurigaan, calon suaminya datang.
"Aku memberimu kesempatan untuk pergi, Grace." kata lelaki dengan tuksedo hitam itu. "Kalau kau masih ragu, kau boleh pergi." Sayangnya, Grace (Samara Weaving) tetap teguh. Ia akan tetap bertahan dari tatapan tak menyenangkan, sindiran-sindiran yang mengatakan bahwa ia mata duitan, atau adaptasi yang sulit di sebuah keluarga yang kaya raya. "Aku akan tetap di sini, Alex." Maka menikahlah ia dengan si lelaki, Alex Le Domas (Mark O'Brien), anak kedua keluarga Le Domas saat ini.
Malamnya, ketika hendak bercinta, Alex bercerita tentang proses inisiasi anggota keluarga baru yang melibatkan permainan mematikan. Permainan itu sendiri ditentukan oleh kotak Le Bail, salah satu orang yang memeberi modal agar usaha Le Domas dalam industri game berkembang besar. Malam itu, setelahg sekian lama, mereka memainkan kembali hide & seek. Grace harus bersembunyi hingga matahari terbit di pagi hari, dan anggota keluarga yang lain harus menemukannya...
...dengan menopang senjata.
Bintang Tiga Setengah
Premis film Ready or Not (2019) sudah banyak dibawakan sebelumnya, dengan variasi yang beraneka ragam dan latar yang bermacam-macam. Permainan nyawa sudah kita nikmati dalam Trilogi Hunger Games bahkan ketika arena perburuan itu hancur dan permainannya meluas hingga ke tingkat yang politis. Permainan dalam rumah sudah sering kita dapatkan -dan dalam kasus Zathura (2005) bahkan rumahnya ikut ke luar angkasa. Ready or Not tak ubahnya mengulang premis dari film-film thriller pada umumnya, lalu membuat latar belakang baru dengan balutan aktor kelas dua.
Tapi darah yang keluar tidak main-main.
Meskipun keji, Ready or Not terkesan ragu mengerluarkan sisi kejamnya. Beberapa darah dimunculkan, luka-luka di tubuh juga diperlihatkan bagaimana rasa sakitnya. Tapi tetap terasa kurang. Kengerian yang dialami oleh Grace sebagian besar berasal dari nasib sialnya sendiri, bukan karena tertembak atau disiksa keluarga suaminya. Ketika hendak mencapai menit-menit terakhir, beberapa senjata mungkin keluar untuk membunuhnya, tapi tetap tak berhasil. Keluarga Le Domas mungkin memiliki darah pemburu dari leluhur mereka, tapi sudah hilang ketika sudah lama tak bermain nyawa.
Grace memberi kita gambaran bagaimana seorang perempuan berjuang -secara harfiah- melawan dominasi keluarga kaya nan mapan, lalu membalikkan keadaan dengan cara melawan balik dan mengambil semua kesempatan bahkan yang terburuk. Jangan pernah menyerah: kalau kau tak bisa kabur dari pagar berduri atau lahan yang luas, maka datanglah balik dengan senyuman yang kejam dan niat membunuh. Setidaknya hal itu akan membuatmu selamat hingga pagi hari.
Seorang wanita muda berbicara sendiri di depan cermin. Ia menyusun kata demi kata, yang kemudian akan menjadi kalimat janji sucinya dalam akad pernikahannya nanti. Gaun putih sudah dikenakan, tapi rasa cemas belum kunjung hilang -atau setidaknya menurun. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku, lalu menghisapnya sedikit. Manakala ia menyinggung keluarga suaminya yang aneh, dan menatapnya dengan penuh kecurigaan, calon suaminya datang.
"Aku memberimu kesempatan untuk pergi, Grace." kata lelaki dengan tuksedo hitam itu. "Kalau kau masih ragu, kau boleh pergi." Sayangnya, Grace (Samara Weaving) tetap teguh. Ia akan tetap bertahan dari tatapan tak menyenangkan, sindiran-sindiran yang mengatakan bahwa ia mata duitan, atau adaptasi yang sulit di sebuah keluarga yang kaya raya. "Aku akan tetap di sini, Alex." Maka menikahlah ia dengan si lelaki, Alex Le Domas (Mark O'Brien), anak kedua keluarga Le Domas saat ini.
Malamnya, ketika hendak bercinta, Alex bercerita tentang proses inisiasi anggota keluarga baru yang melibatkan permainan mematikan. Permainan itu sendiri ditentukan oleh kotak Le Bail, salah satu orang yang memeberi modal agar usaha Le Domas dalam industri game berkembang besar. Malam itu, setelahg sekian lama, mereka memainkan kembali hide & seek. Grace harus bersembunyi hingga matahari terbit di pagi hari, dan anggota keluarga yang lain harus menemukannya...
...dengan menopang senjata.
Bintang Tiga Setengah
Premis film Ready or Not (2019) sudah banyak dibawakan sebelumnya, dengan variasi yang beraneka ragam dan latar yang bermacam-macam. Permainan nyawa sudah kita nikmati dalam Trilogi Hunger Games bahkan ketika arena perburuan itu hancur dan permainannya meluas hingga ke tingkat yang politis. Permainan dalam rumah sudah sering kita dapatkan -dan dalam kasus Zathura (2005) bahkan rumahnya ikut ke luar angkasa. Ready or Not tak ubahnya mengulang premis dari film-film thriller pada umumnya, lalu membuat latar belakang baru dengan balutan aktor kelas dua.
Tapi darah yang keluar tidak main-main.
Meskipun keji, Ready or Not terkesan ragu mengerluarkan sisi kejamnya. Beberapa darah dimunculkan, luka-luka di tubuh juga diperlihatkan bagaimana rasa sakitnya. Tapi tetap terasa kurang. Kengerian yang dialami oleh Grace sebagian besar berasal dari nasib sialnya sendiri, bukan karena tertembak atau disiksa keluarga suaminya. Ketika hendak mencapai menit-menit terakhir, beberapa senjata mungkin keluar untuk membunuhnya, tapi tetap tak berhasil. Keluarga Le Domas mungkin memiliki darah pemburu dari leluhur mereka, tapi sudah hilang ketika sudah lama tak bermain nyawa.
Grace memberi kita gambaran bagaimana seorang perempuan berjuang -secara harfiah- melawan dominasi keluarga kaya nan mapan, lalu membalikkan keadaan dengan cara melawan balik dan mengambil semua kesempatan bahkan yang terburuk. Jangan pernah menyerah: kalau kau tak bisa kabur dari pagar berduri atau lahan yang luas, maka datanglah balik dengan senyuman yang kejam dan niat membunuh. Setidaknya hal itu akan membuatmu selamat hingga pagi hari.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?