Luka-Luka itu Banyak dan Semakin Bertambah


Sore ini, kulit jari kelingking saya tergores pisau dapur yang baru saya beli kemarin. Saya buru-buru cuci tangan dan mengambil hansaplast, yang terkubur jauh di antara buku-buku. Setelah ketemu, saya langsung menutup luka itu, berharap tak ada infeksi dan jari saya baik-baik saja. Sejauh ini, luka yang ada di tubuh saya tidak hanya itu dan ini benar-benar terjadi. Ada banyak luka ringan, yang datang satu per satu, bergantian menyerang tubuh. Luka di satu jari bukan masalah: masih ada belasan lainnya.

Saya bukan tipe orang yang mudah mengeluh. Keluhan akan saya sampaikan hanya kepada orang-orang terdekat saja, yang kemudian akan memberi saran atau sekedar mendengarkan. Lalu, tentang luka-luka di tubuh ini, saya tidak terlalu suka membicarakannya di sini. Saya selalu tidak ingin terlihat lemah. Selalu. Itulah kenapa saya tidak memakai masker ketika bersepeda di jalanan yang penuh dengan asap kendaraan bermotor padahal saya sudah membawanya di saku.

Itulah kenapa saya selalu bertanya bagaimana cara jalan saya kepada teman-teman: "Keliatan pincang, gak?" Tentu saja tidak. Saya berusaha keras agar tidak terlihat berjalan tertatih-tatih meskipun saya merasakan nyeri di kaki kiri: dari lutut hingga telapak kaki. Saat ini, saya tidak kuat berdiri terlalu lama. Saya menolak ajakan menonton konser di waktu yang dekat karena takut tidak kuat: lalu saya mengecewakan orang yang mengajak. Lebih baik tidak. Iya, kan?

Selain jari tangan dan kaki kiri, bekas luka operasi juga sempat membuat saya mengerang kesakitan, tapi hal itu sudah lewat beberapa hari lalu. Entah kenapa, bekas luka operasi itu mengirim rasa sakit kembali, seolah-olah kolaps saya selama setengah hari di ruang operasi tidak cukup. Seolah-olah usaha saya menahan tubuh agar tidak bergerak bebas dan membuka luka selama kurang lebih dua minggu tidak cukup. Seolah-olah saya memang ditakdirkan untuk sakit karena luka bekas operasi.

Telapak tangan kanan saya banyak mengeluarkan darah, tapi itu cepat sembuh. Sejauh ini, cukup itu luka-luka yang bisa saya berikan penjelasan. Yang lainnya, terlalu dalam dan tidak terlalu sering terasa, tapi ada. Terkadang, ada kekhawatiran rasa sakit itu memberhentikan saya di tengah-tengah perjalanan, lalu membuat saya kerepotan dengan kadar yang tidak biasa. Tapi selama ini, kekhawatiran ini tidak terjadi. Saya hanya merasa kesakitan dalam jangka waktu yang oendek, dan tidak terlalu membuat jadwal kehidupan saya berantakan.

Saya tidak mungkin berbicara tentang luka di hati: meskipun ada, hal itu akan terasa kekanakan jika saya bicarakan di sini. Saya juga tidak mungkin berbicara tentang luka di pikiran: saya baru saja memikirkan kemungkinannya. Melalui catatan kecil ini, saya cuma ingin berbagi, tentang bagaimana lelaki kecil seperti saya, berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat sakit nan memprihatinkan. Masih banyak orang lain seperti saya di luar sana, dengan luka yang lebih beragam dan rasa sakit yang lebih tak tertahankan. Dan bagi kita seharusnya, adalah tidak lagi memperlakukan sesama manusia dengan sesuka hati: manusia punya sejarah lukanya masing-masing. Kau tidak harus tahu, tapi cukuplah dengan menghormatinya.

Apakah kata-kata seperti itu pantas keluar daei pikiran saya? Hahaha.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir