Kisah Ospek Akhir Pekan dan Pendapat Pribadi
Kisah ini saya mulai dari Sabtu, masa-masa kosong di mana saya tidak ada kerjaan sama sekali. Maka, setelah tasmi' juz lima di pagi hari, saya memulai tidur panjang hingga adzan duhur terdengar. Setelah itu, saya bangun dan sholat. Teman-teman mengajak saya untuk ikut memasak dan saya berangkat ke pasar membeli tahu dan telur. Hanya sepuluh ribu, tidak terlalu banyak. Kami makan seadanya: sayur kelor yang dipetik dari pinggir jalan entah punya siapa, tahu, tempe, sambal, dan telur.
Setelah itu, saya membaca majalah National Geographic bulan lalu yang baru saya beli. Malamnya, ada undangan untuk datang ke rumah teman, bersilaturrahmi dengan teman-teman alumni pondok satu angkatan. Saya berangkat setelah maghrib mengendarai sepeda tanpa bawaan: hanya dompet, hape, dan earphone. Dengan jaket parasut, peci, dan sarung, saya menembus ramainya jalanan Merjosari. Sempat tersesat, saya akhirnya sampai juga setelah bertanya kepada warga setempat. Sudah ada beberapa teman yang datang sebelum saya. Saya datang dan meminum energen hangat yang disediakan.
Pertemuan kami tidak terlalu membekas dalam ingatan. Saya hanya mengingat bagaimana teman-teman perempuan yang selalu bicara sendiri, tidak tahu tata krama diskusi. Bukannya saya paling beradab, toh akhirnya saya juga berbicara dengan keras dan bernada amarah karena diskusi yang tak kunjung selesai. Hasilnya, kami punya dua agenda ke depan. Yang pertama, akan ada khotmul Qur'an di tanggal 22 bulan ini, dan akan ada wisata ke Gua Cina bulan depan. Untuk yang kedua, saya tidak ikut. Saya tidak pernah bisa menikmati wisata.
Malam itu dilanjutkan dengan makan-makan dan diskusi bebas. Kami membahas apa saja, termasuk kenangan-kenangan di pondok. Saya sendiri lebih tertarik kepada teman-teman Unisma yang mendapatkan kerja berupa mengajar. Sampai saat ini, saya masih tertarik untuk bekerja, mendapatkan uang dari keringat atau pikiran sendiri. Blog ini, tentu saja tidak cukup. Pembacanya masih belum banyak meskipun sudah saya iklan-kan kemana-mana. Hahaha.
Saya memutuskan untuk menginap di rumah teman malam minggu itu, bersama dengan teman laki-laki lain. Kami tidur dini hari, lalu terbangun di pukul delapan esok hari.
*****
Hari ahad itu saya punya agenda Ospek. Yang saya tahu, panitia ospek diharapkan datang pukul delapan, untuk mempersiapkan segala kebutuhan baik itu ruangan dan dekorasi. Saya erangkat pukul sembilan, tapi ternyata acara baru dimulai setelah duhur. Itu adalah pengalaman pertama ospek diadakan setelah duhur, melihat paginya ada agenda dies natalis fakultas. Ospek kali ini saya tidak bertugas sebagai MC, kembali menjadi medis yang selalu siap siaga. Klise. Bullshit.
Tidak banyak hal menarik. Bahkan, ospek kali ini terkesan sedikit berantakan. Hal ini tak lepas dari peran MC, dibawakan oleh salah satu teman kami, yang berantakan. Saya bukan ahli MC meskipun sudah beberapa kali menjadi MC di tingkat organisasi. Tapi saya tahu bagaimana orang-orang membandingkan reputasi saya di ospek sebelumnya dengan penampilan teman MC kami kali ini. Dia tak bisa membawakan suasana menjadi lebih cair, dan lebih memilih diam ketika maba -yang menjadi peserta ospek- juga memilih diam. Saya tidak mendengar satu pun tawa yang muncul dari maba, entah ini konsep panitia untuk lebih serius dalam melaksanakan acara, atau memang tidak lawakan sama sekali. Jujur saja, saya sedikit kecewa sejak awal. Dan saya tidak bisa menyalahkan MC yang sudah dipilih.
Apalagi, selama acara berlanngsung, yang juga dihadiri senior-senio sok galak, MC kami berlaku lebih galak. Ia banyak memotong pembicaraan senior lebih cepat meskipun berpatokan pada durasi. Pada kasus sebelumnya, saya berusaha berdamai dan bertoleransi dengan senior yang terlalu banyak tanya, dengan kata-kata yang saya usahakan sesopan mungkin. Teman kami yang satu ini, tidak terlalu banyak berinteraksi dengan senior seperti saya. Tapi tingkahnya yang tidak sopan membuat panitia lebih terkejut lagi.
Sayangnya, ketika acara selesai, anak itu pergi duluan. Entah merasa bersalah atau tidak, keputusannya untuk pulang lebih dulu menurut saya jelas sebuah kesalahan. Ia seolah-olah lari dari kritik yang datang padanya dan lebih memilih untuk tidak peduli. Bahkan, senior yang keluar ketika acara selesai berteriak dengan lantang, agar teman kami yang satu ini tidak boleh pulang lebih dulu. Ia harus ikut evaluasi, tidak seperti dua agenda sebelumnya yang selalu absen.
Secara gamblang saya katakan bahwa saya tidak terlalu suka ospek. Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar bagaimana hal itu saya katakan, tapi sudah banyak orang tahu saya tidak aktif dalam kepanitiaan. Menurut saya, hal ini membuang-buang banyak waktu, meskipun pada akhirnya banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan ini. Dulu saya ikutr KMD, PKM, dan sebagainya. Di pondok, hal itu membuat saya dan teman seangkatan menjadi semakin solid. Ospek tidak. Entah karena pelaksanaan atau pesertanya, menjadi panitia ospek membuat saya dan teman seangkatan di perkuliahan menjadi semakin renggang.
Ah, itu mah saya-nya aja yang memang gak mau ikut. Hehe.
Ah, itu mah saya-nya aja yang memang gak mau ikut. Hehe.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?