Hanya Itukah (yang Terjadi pada) Malam Itu?


Selasa Malam, 12 November 2019

Tidak ada yang spesial hari ini, tapi hati aku tergerak untuk menuliskan sesuatu. Mungkin hal ini terasa agak lama. Tapi, manakala  kupikirkan kembali, ternyata kenangan itu terasa menyakitkan. Dan aku memang lelaki yang seperti ini: overthinking. Lalu menyakiti diri sendiri, dengan pikiran-pikiran tak perlu. Lalu membuat luka pada diri sendiri, dengan harapan-harapan yang terlalu tinggi. Lalu terjatuh terjerembab pada kubangan mimpi yang tak selesai dalamnya.

Untuk itu aku berikan label Cerpen pada tulisan ini, agar Anda -para pembaca yang budiman- tahu bahwa kisah ini fiksi. Atau setidaknya aku berharap ini hanya fiksi semata.

*****

Kami bertemu malam itu. Dengan harapan dapat melakukan sesuatu yang tak pernah saya bayangkan akan kulakukan sebelumnya. Namun sayang, takdir berkata bahwa kami tak bisa mencapai kesenangan-kesenangan itu. Maka kami pun terdampar pada suatu kekosongan waktu: berharap dapat melakukan satu-dua hal menyenangkan lain sebagai alternatif pengisi waktu malam kami yang panjang. Kami berhenti di suatu kedai kopi yang kurekomendasikan sebelumnya. Dan kami diam dalam duduk yang panjang.

Kami tidak benar-benar diam. Satu dua percakapan tanpa makna terkadang keluar dari mulut kami, mencoba memahami satu sama lain tapi tak mencapai pemahaman itu. Karena tak terlalu menyenangkan, aku bahkan tak mengingat satu pun poin percakapan kami. Karena tak terlalu membekas dalam pikiran atau hati, aku bahkan tak tahu percapakan macam apa yang kami jalani malam itu. Aku hanya tahu, bahwa malam itu kami memesan segelas teh untukku, coklat panas dan tiga buah donat untuknya. Selain itu, aku tak ingat apa-apa.

Oh, mungkin aku teringat pada mimpiku untuk melumuri baju -atau pakaian apapun yang kupunya-dengan lambang-lambang aneh, logo-logo abstrak, dan kata-kata aneh. Maka dia mengeluarkan buku dan bolpoinnya, memberikan aku kebebasan untuk menuliskan apapun yang kupikirkan, atau menggambarkan apapun yang terlintas dalam kepalaku. Lalu aku tak tahu. Aku tak ingat dengan hal lain lagi. Rasa sedih dalam hatiku menghentikan kerja otak, lalu mengajukan tanya:

Hanya itukah (yang terjadi pada) malam itu?

*****

Ada teman dari Madura yang datang menemui kami siang tadi. Sebelumnya ia ingin bertemu kami kemarin malam, tapi baru kesampaian tadi siang. Kami bertemu di Mastar UIN, lalu melanjutkan ngopi di pujasera belakang UIN. Dalam kesempatan itu, saku juga berjumpa dengan beberapa teman alumni pondok yang tidak sempat bertemu sebelumnya. Lalu kami berbagi kisah tentang diri pribadi dan kehidupan perkuliahan masing-masing. Tak luput pula kami berbagi informasi tentang teman-teman kami yang lain, entah yang berada di Madura maupun di Malang. Pada akhirnya, itu bukan cuma berbagi informasi.

Tentu saja kami ber-ghibah.

Malam ini aku pergi ke suatu tempat, di mana aku akan melamar pekerjaan sebagai tutor les. Beberapa berkas lama kuunduh kembali, agar sesuai dengan persyaratan pendaftaran yang tersedia. Setelah kuliah, kegiatan ukm, dan pondok, aku akan menambah satu aktivitas lagi apabila berkas pendaftaran lolos sehingga ada tambahan pengalaman mengajar. Saya tertarik untuk mencari uang sendiri. Setidaknya demi menambal borosnya kebiasaanku membeli buku.

*****

Semoga ada kesempatan di lain waktu. Agar aku tak menghabiskan waktu dengan sia-sia. Terutama dengannya.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir