Fenomenologi Seni: Meng-Etnografi-kan Pergelaran
Pada pembahasan sebelumnya, fenomenologi digunakan sebagai pendekatan untuk memahami agama. Manusia, sebagai makhluk sosial, menghimpun pengetahuan kolektif tentang dunia non-empiris dan hubungannya dengan dunia empiris sehingga dapat berkolerasi dalam kehidupan sehari-hari. Fenomenologi hadir untuk mengungkap bagaimana manusia memahami dan menghimpun pengalaman itu tanpa adanya campuran atau intervensi peneliti. Secara singkat, fenomenologi menghadirkan etnografi yang murni.
Tak hanya agama, seni sebagai salah satu unsur kebudayaan manusia juga dapat dipahami melalui pendekatan ini. Secara teori, fenomenologi berangkat dari pemahaman dan pengalaman manusia terhadap ekspresi seni yang terdalam. Pada praktiknya, pemahaman terhadap seni didapatkan pada pergelaran seni, baik dalam bentuk visual, audio, maupun kinetik. Oleh karena itu, fenomenologi memulai penelitian dan pencatatan etnografi dari pergelaran: dari titik inilah pemahaman manusia akan seni didapatkan.
Sebagai salah satu paradigma yang mendukung penuh orisinalitas pemikiran emik, maka fenomenologi berusaha untuk menahan asumsi atau pendapat pribadi dan menaruh perhatian sepenuhnya pada tineliti. Pada akhirnya, hasil penelitian atau etnografi tidak dapat diperbandingkan sehingga tidak ada hasil benar atau salah dalam penilaian karena murni berasal dari pengalaman yang berbeda-beda antar manusia.
Oleh karena itu, penekanan etnografi baik sebagai metode penelitian maupun metode penulisan sangat diperhatikan. Fenomenologi akan sangat bergantung pada metode etnografi yang baik agar pengalaman manusia dapat diperoleh secara rinci dan mendalam. Begitu pula dengan etnografi sebagai metode penulisan agar nantinya hasil penelitian dapat dipublikasikan dan dibaca dengan baik oleh masyarkat maupun kalangan akademisi.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?