Cara Singkat Memahami Materialisme Marx: Bukan Belajar Komunis!


Setelah sebelumnya dihadapkan pada materialisme kultural a la Marvin Harris, saya mencoba untuk memahami satu lagi teori materialisme yang dipelopori oleh Karl Marx dengan nama materialisme historis.

Paradigma ini muncul sebagai kritik atas materialisme yang melihat esensi dari realitas hanyalah sebagai materi. Di awal, Karl Marx setuju dengan asumsi ini. Nyatanya, tidak hanya realitas material yang menjadi penggerak kehidupan, tapi juga butuh realitas kebudayaan: yang hanya bisa diwujudkan sebagai 'perlambang' atau representasi dari esensi manusia sebagai makhluk sosial. Tanpa ada realitas kebudayaan atau realitas sosial yang diwujudkan manusia, maka materi tidak memiliki nilai dalam kehidupan manusia.

Tapi bukan berarti materi bergantung sepenuhnya kepada eksistensi manusia. Ia akan selalu ada, mau manusia tahu atau tidak. Manusia-lah yang bergantung dan dipengaruhi oleh materi. Manusia bisa mempengaruhi keberadaan materi, tapi tidak bisa menghapus seutuhnya eksistensi tersebut. Oleh karena itu, relasi subjek dan objek dalam paradigma ini eksternal-asimetris. Kesadaran manusia akan materi bisa jadi berubah, tapi hal itu tidak akan merubah apapun terkait eksistensi materi.

Karena sifatnya yang tidak menuhankan materi sebagaimana materialisme, tapi lebih kepada menyetarakan posisi antara realitas material-objektif dan relasi sosial kebudayaan, maka materialisme Marx mencoba untuk ber-'dialektika'. Relasi sosial manusia berhubungan secara langsung dengan produksi dan reproduksi material. Ia akan selalu berubah sepanjang zaman bergantung sepenuhnya kepada kebijaksanaan manusia dalam proses pengolahan dan pengelolaan materi.

Dampaknya, Marx tidak bisa menampik bahwa masyarakat tersusun dalam hierarki. Lingkar sosial manusia mengharuskan mereka bekerja sama dalam kelompok dan susunannya masing-masing, demi tercapainya produksi dan reproduksi materi. Tapi, untuk mengetahui bahwa manusia berada dalam hierarki sistem tersebut, manusia tidak perlu lepas dari sistem. Ia hanya perlu berkontemplasi dan hal itu tidak berpengaruh dalam proses produksi. Pengaruhnya terhadap eksistensi material juga tidak ada.

Demi meluruskan apa yang selama ini dituduhkan kepada materialisme Marx, Dede Mulyanto sebagai penulis bagian ini mengemukakan bahwa Marx dalam kajiannya, menolak positivisme yang empiris, fenomenalis, dan reduksionis. Empiris yang dimaksud adalah fakta yang menyatakan bahwa objek maupun subjek setara. Hal itu tidak dapat dibenarkan mengingat material akan selalu menjadi material meskipun tanpa adanya realitas sosial manusia.

Begitu pula dengan fenomenalisme yang menolak adanya realitas budaya sebagai bagian yang terpisah dari fenomena manusia. Fenomenalisme sekali lagi menganggap bahwa budaya adalah bagian dari kehidupan. Nyatanya, kebudayaan hanya terjadi pada manusia yang menggunakan materi sebagai perlambang. Tanpa kebudayaan, materi tetap menjadi sebuah materi. Hal itu pula menjelaskan, mengapa Marx menolak reduksionisme, karena asal-mula materi (yang disebutnya dengan pra-kondisi) berbeda dengan esensi materi.

Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Marx mencoba mengajak kepada pemahaman bahwa materialisme begitu sederhana: ia hanya memerlukan pengakuan akan keberadaan material-objektif yang berdiri sendiri dan dapat dipengaruhi oleh manusia. Selain itu, di sisi lain material, ada pula kesadaran subjektif manusia yang memiliki kemampuan mengolah materi dan mempelajari keberadaannya sehingga dapat diproduksi dan dikelola demi keberlangsungan kehidupannya.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir