Bagaimana Agama Dipahami Melalui Fenomenologi?


Setelah sebelumnya kami banyak berdebat tentang materialisme historis -yang sebenarnya cukup sederhana, kami akhirnya menginjak pada paradigma selanjutnya: fenomenologi. Sekedar info, kami melompati etnosains -yang menurut teman-teman lain masih belum cukup dibahas dalam mata kuliah Kebudayaan dan Kognisi. Lagipula, keputusan itu diambil dosen kami mengingat akhir semester yang semakin dekat. Dan empat pertemuan tersisa akan kami gunakan untuk mempelajari fenomenologi, dan satu paradigma lagi yang saya lupakan (atau dengan sengaja tidak saya ingat).

Fenomenologi secara sederhana menyatakan bahwa kebudayaan adalah apa yang terjadi saat ini: interaksi antar-manusia, simbolisme, dan segala macam perlambang dimaknai oleh manusia. Peneliti, tidak berhak memberikan prasangka atau prakonsepsi terhadap suatu kebudayaan sebelum berhasil mendeskripsikan kebudayaan itu sendiri secara lengkap dan utuh. Lagipula, usaha deskripsi itu, diakui atau ditolak, tidak akan pernah berakhir meskipun si peneliti menyelesaikan studinya terhadap kebudayaan.

Sebagai subjek yang memberikan makna, maka manusia berada dalam dua kondisi: pemberian makna individu dan penggabungan makna secara komunal. Terhadap suatu objek, manusia akan selalu memberikan makna simbolis yang mengikatkan hubungannya terhadap objek. Lalu, pemberian makna itu akan bertemu dengan pemberian makna lain: begitu terus sehingga menciptakan konsensus pemaknaan yang kemudian disebut budaya.

Hanya saja, pemaknaan manusia terhadap objek budaya akan selalu berbeda di tingkat individual bahkan di tingkat komunal. Salah satu pemaknaan yang didasarkan pada konsensus bersama adalah kepercayaan terhadap hal metafisik-empiris dan sistem yang mengelilinginya: hal ini kemudian disebut sebagai sistem kepercayaan. Di tingkat yang lebih lanjut, sistem kepercayaan ini berevolusi dan disebut dengan istilah agama: yang norma-norma dan tuhan yang disembahnya diperjelas.

Memahami Agama

Secara fenomenologis, agama didasarkan pada kesadaran akan adanya dua dunia: empiris dan tidak empiris yang mana manusia akan selalu berhubungan dengannya dan bagaimana dunia yang tidak empiris itu disimbolkan dalam hubungan sosial. Melalui kacamata fenomenologis, agama akan selalu dipandang sebagai realita komunal yang simbol-simbolnya dimaknai bersama tetapi juga tidak menampik adanya penafsiran individual.

Meski kajian agama dan sistem kepercayaan pada umumnya bersandar akan hal-hal yang tidak empiris atau 'gaib', kajian fenomenologis menaruh perhatian bagaimana para pelaku budaya atau tineliti merespon dan memberikan pandangan akan dunia yang tidak empiris itu. Di sini, peneliti akan selalu diuji agar tidak menggunakan pandangannya sendiri yang berupa prakonsepsi maupun prasangka sehingga terhindar dari seubjektivitas.

Fenomenologi agama mencoba memahami agama dalam arti yang seutuhnya: bagaimana pemeluk agama memberikan makna terhadap apa yang ia percayai dari agama baik secara individu maupun komunal. Pandangan-pandangan manusia secara individu maupun komunal juga berkaitan dan saling mempengaruhi, oleh karena itulah penafsiran terhadap simbol-simbol agama akan selalu berkembang, baik bertambah, berkurang, atau hilang dari kebudayaan. Dari sini, antropolog ditantang untuk memberikan deskripsi yang utuh terhadap pandangan agama beserta pemeluknya secara rinci dan lengkap -meskipun diakui, bahwa usaha semacam itu akan selalu terasa kurang.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir