Sapi Suci Marvin Harris


Pendahuluan

Salah satu kajian penting dalam buku Cows, Pigs, War and Witches (1991) yang ditulis oleh Marvin Harris adalah tentang fenomena Cinta-Sapi di India. Sebagai sebuah negara yang menjadi tempat lahirnya agama Hindu, orang India berpegang teguh dengan keyakinan mereka akan pantangan menyembelih atau mengkonsumsi sapi. Nyatanya, keyakinan ini menimbulkan masalah sosial -setidaknya dalam kaca mata agribisnis ala Barat yang mengagung-agungkan industrialisasi. Dalam bab ini, Marvin Harris mencoba menjabarkan temuannya, tentang bagaimana sapi berperan penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat lapis bawah petani India.

Pandangan Barat: Surplus dan Pemborosan

Fakta itu tidak main-main benarnya: Ford Foundation melalui penelitiannya menyatakan bahwa melimpahnya sapi di India berarti sama dengan surplus pangan. Seorang ekonom lain yang tidak disebutkan namanya dari University of Pensylvania bahkan menambahkan angka pasti: 30 juta ekor. Kedua penelitian itu membuktikan bahwa India -sebuah negara berkembang dengan angka kemiskinan yang tinggi- sedang mengalami pemborosan jika tidak mengkonsumsi sapi-sapi yang berkeliaran di jalanan.

Tapi, sayangnya, meskipun penelitian itu bersifat ilmiah dan valid, keduanya tidak dapat lepas dari bias pemikiran. Etnosentrisme ala Barat masih ada dan belum sepenuhnya terlepas dari dunia akademis. Marvin Harris mencoba menggunakan sudut pandang lain: ia melihat fenomena sapi di India sesuai konteks masyarakat yang terbagi dalam beberapa kasta. Tak lupa pula ia mengkomparasikannya dengan sistem peternakan ala Amerika tempatnya berasal.

Pandangan Marvin: Optimalisasi

Dari kajiannya yang sangat mendalam, setidaknya ada beberapa poin yang dapat diambil. Pertama, ajaran Hindu yang mengakar kuat pada masyarakat India setidaknya menjadi penyebab awal -bukan utama- atas fenomena ini. Meskipun Marvin Harris menyebutnya dengan frasa 'Cinta-Sapi', nyatanya kecintaan itu lebih menjurus pada fanatisme. Akhirnya, fanatisme itu sendiri melahirkan konflik: pertarungan berdarah kepada komunitas Muslim yang menghalalkan konsumsi sapi. Bahkan, konflik itu terus terjadi baik kepada sesama warga India maupun terhadap warga Pakistan.

Kedua, mayoritas kepemilikan sapi berada di tangan petani kecil di desa. Hal ini menunjukkan bahwa seandainya sistem agribisnis  Barat di terapkan secara langsung di India -dengan mengurbankan 30 juta ekor sapi itu- maka hal itu sama dengan menyingkirkan satu-satunya roda ekonomi masyarakat kecil. Lagi pula, setiap keluarga minimal hanya memiliki satu ekor. Jika dikurbankan, maka pertanian yang mereka garap tidak lagi berjalan dan kehidupan berhenti.

Ketiga, yang merupakan poin utama, adalah optimalisasi. Konsumsi daging di Amerika boleh saja tinggi, tapi sapi di sana hanya diambil dagingnya saja. Di India, sapi dioptimalisasi sedemikian rupa: tenaga untuk membajak sawah kemudian mendistribusikan hasilnya, daging dan susu untuk konsumsi, kotoran untuk pupuk organik dan bahan baku lantai, serta kulitnya untuk perkakas. Sapi di India boleh saja tidak disembelih -terutama masyarakat Hindu. Tapi, optimalisasi sapi di India lebih baik dari Amerika.

Kesimpulan

Dari sedikit catatan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwasanya sapi di India memiliki kedudukan yang kuat dalam kultur masyarakat India. Terutama, kaitannya dengan kehidupan agribisnis masyarakat tingkat bawah. Dalam bab ini, Marvin Harris mencoba menjabarkan caranya dalam melihat suatu fenomena kebudayaan melalui peradigma materialisme kultural: bagaimana suatu aset dapat menjaga keberlangsungan kehidupan ekonomi-finansial. 

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir