Sabtu ini Ospek Prodi dan Saya Menjadi MC


Hari ini, saya diundang untuk menjadi MC sekaligus moderator dalam ospek prodi. Pengalaman yang tidak terlalu baik tentang ospek prodi sebelumnya sudah saya ceritakan dalam suatu kisah, entah apa judulnya saya sendiri lupa. Tapi sekarang berbeda. Karena saya menjadi MC, entah bagaimana saya cukup menikmati proses melelahkan ini. Kepada divisi acara, saya sudah memesan hal ini jauh-jauh hari. Tapi saya tak menyangka kalau waktu berjalan terlalu cepat. Dan akhir pekan saya lagi-lagi harus direcoki dengan kegiatan kampus.

Minggu lalu saya ikut kepanitiaan di UKM. Selama dua hari, saya sibuk terus-menerus. Kisahnya belum ada, masih saya susun dengan kisah-kisah selama UTS.

Saya datang pukul lima, sesuai dengan kesepakatan panitia sebelumnya meskipun saya tidak mengikuti rangkaian rapat yang mereka laksanakan. Saya juga tidak ikut sebagian besar rapat yang dilakukan pada malam hari: saya lebih memilih kembali ke pondok dan mengaji. Bukan berarti saya bersikap seenaknya. Tapi memang begitulah adanya. Meskipun, pada akhirnya, saya harus selalu izin dan lama-kelamaan yang lain memaklumi.

Ketika saya datang, pagar gedung belum dibuka. Saya menunggu cukup lama hingga seorang teman datang dan memanggil satpam pembawa kunci gedung. Ternyata saya adalah yang pertama datang. Tak lama, teman-teman yang lain menyusul. Jika mengikuti jadwal, maka dalam setengah jam kami harus briefing dan sarapan. Nyatanya, hingga satu jam kemudian, tak banyak teman kami yang datang dan saya harus membeli sarapan dulu. Saya pergi dengan seorang teman ke arah gerbang Fapet, mencari warung yang buka di pagi hari.

Sepanjang perjalanan, teman itu bercerita tentang pengalamannya mengurus mahasiswa baru. Maba, menurutnya, sangat sulit diatur terkait penelitian. dalam hati, saya memakluminya. Toh, kami juga begitu dulu. Tapi menurutnya maba kali ini berada daam level yang berbeda. Mereka lebih parah dari angkatan kami dan penelitian mereka cukup tersendat. Maba kali ini berada dalam level di mana harus curhat terkait kesulitan mereka dalam meneliti. Saya dulu juga kesulitan, tapi untuk penelitian saya tidak pernah menyerah.

Hari Sabtu ini, banyak prodi lain yang juga melaksanakan ospek internal. Di depan gerbang fapet, beberapa kating berpakaian hitam sedang mengumpulkan mabanya. Setelah ospek kami selesai, kami juga sempat melihat beberapa maba dari FT baru pulang dari ospek. Sebagai orang yang selalu ingin terlihat sombong, saya berjalan saja di antara mereka, tidak memerdulikan mahasiswa-mahasiswa tua yang terlihat sok jago. Meski kecil, saya berani bertarung. Apalagi dengan orang yang tidak dikenal.

Teman yang saya temani membeli sarapan itu ternyata mencari roti: ia tidak kuat sarapan nasi pagi hari dan memutuskan membelikan nasi untuk kedua temannya saja. Saya memesan sebungkus pecel dengan lauk sosis goreng dan telur dadar. Penjualnya, seorang ibu-ibu, memberikan bonus sepotong tempe goreng. Dengan lauk sepenuh itu, harganya masih cukup terjangkau, sembilan ribu saja. Dua teman yang menitip nasi kami belikan menu yang serupa.

Kami kembali ke ruangan panitia, mendapati teman-teman yang sudah banyak berdatangan. Kami segera berkumpul dan melakukan briefing. Saya juga mendapat briefing khusus, mengingat saya akan memandu jalannya acara dari dimulai hingga berakhir. Setelah briefing itu, masih ada waktu luang sekitar satu jam sebelum saya benar-benar masuk ke ruangan. Saya memutuskan untuk sarapan, ditemani vedio-video youtube, lalu mempersiapkan diri.

Pagi tadi, ketika menjadi MC, saya memakai kurta berwarna merah dan kopiah hitam. Untuk sebuah fakultas yang cukup liberal, pakaian yang saya kenakan cukup jarang ditemukan. Saya masuk ke ruangan sekitar pukul delapan lewat lima menit, bersamaan dengan teman PDD yang hendak menjadi operator laptop. Ruangan cukup sunyi ketika saya datang. Dan setelah saya membuka acara, suasana menjadi cair dan tenang. Saya membuka dengan perkenalan, sekaligu memeperkenalkan acara yang kami adakan.

Yang tak disangka adalah, bagaimana antusiasme maba mendengar joke-joke yang saya bawakan. Meski sendiri, tanpa partner atau tandem, saya cukup mencairkan suasana. Beberapa kali maba tertawa, hingga teman-teman panitia yang ada di belakang barisan. Waktu saya setengah jam untuk melucu, sekaligus melakukan beberapa interaksi basa-basi dengan maba. Di akhir, saya lelah dan stok joke saya berkurang. Beberapa lawakan saya akhirnya garing. Tetapi secara keseluruhan, teman-teman panitia dan peserta terhibur dengan pembawaan saya yang apa adanya.

Hal lain yang membuat saya terkejut adalah pertanyaan dari seorang alumni yang saya kenal, meskipun tidak terlalu dekat. Beliau baru saja lulus dan kali ini diundang untuk menggantikan dosen memberikan materi metode penelitian. Belaiu sempat bertanya kepada saya tentang pengalaman saya dalam menjadi MC. "Belum pernah, mas." jawab saya. "Selama ini, saya cuma sering jadi MC di UKM." Beliau tertawa saja. Ketika saya menanyakan alasannya, beliau tidak menjawab.

Saya menerka-nerka saja: antara beliau kagum dengan kemampuan saya, atau skill MC saya payah. Tapi tak apa. Toh beliau memilih untuk tidak menjawab.

Untuk kali ini, saya terus-menerus berada dalam ruangan yang sesak dan terasa lebih panas. Tidak seperti kemarin di mana saya stay di ruangan medis dan bolak-balik untuk mengantarkan obat, saya tidak mondar-mandir. Saya lebih tau urutan acara dan hiruk-pikuknya. Ketika presentasi, senior-senior yang diundang untuk datang memberikan beribu pertanyaan terhadap maba. Ketika alumni memberikan materi, maba terlihat lebih mengantuk dan bosan. Tak heran, materi yang diberikan cukup sulit dengan bahasa ilmiah yang bertumpuk.

Acara kami selesai sekitar pukul satu. Karena tidak ingin ikut bersih-bersih, saya lebih memilih untuk mengantarkan pemulangan maba. Saya mengannti kurta dengan seragam kepanitiaan UKM yang baru saya dapatkan setelah acara berakhir. Jadi, meskipun seminggu tidak dicuci dan hanya digantung di paku dinding, seragam itu masih pantas dipakai. Setelah itu, saya baru sholat duhur dan kembali. Kami melakukan evaluasi. Evaluasi kami kali ini tidak panjang dan tanpa senior. Tidak ada lagi evaluasi hingga malam hari. Tidak ada lagi yang menangis sesenggukan meratapi nasib kawannya yang tidak mau ditangisi.

Secara umum, saya bersyukur telah dilibatkan dalam acara ini. Secara khusus, ini akan menjadi ajang peningkatan karir MC saya di fakultas. Toh, saya tidak tahu lagi bakat apa yang dapat saya tampilkan. Saya hanya mahasiswa biasa yang menulis kesia-siaan, dan mencoba menjadi MC dengan modal percaya diri. Joke saya tidak melimpah, tapi saya berani bertaruh dalam hal improvisasi. Hal yang saya takutkan sejauh ini adalah bagaimana jika saya secara tidak sengaja bersikap tidak sopan.

Semoga karir saya lancar. Amien.

Komentar

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir