Rabu dan Pertanyaan yang Biasa
Hari ini adalah hari yang biasa. Meskipun sudah lama saya tidak menulis keseharian -semenjak selesai UTS, mungkin- saya tetap berpikir kehidupan saya menyenangkan: musik di telinga kanan, medsos di tangan kanan, dan harapan di masa depan. Pesimisme dalam otak saya selalu berada dalam takaran yang tepat, sehingga saya tidak perlu murung atau sedih berlebihan. Lelucon-lelucon spontan hasil improvisasi asih tetap relevan dalam perbincangan santai sehari-hari.
Tapi, semua itu berubah sejak saya mendapatkan pertanyaan itu.
*****
Pagi ini, sebagaimana hari rabu di semester ini, adalah kelas mata kuliah Kajian Etnografi. Pak Doni mengampu mata kuliah ini dan mengawalinya dengan permintaan maaf setelah jadwal kami berantakan akibat seminar di minggu lalu. Beliau tetap berpakaian seperti biasa dan membawa sebotol air minum. Untuk hari ini, beliau mengajak kami mengulas Pulau Madura, beserta segala kompleksitas budaya dan penduduknya.
Pertanyaan pertama tentu saja terkait dengan, "Siapa yang Orang Madura di sini?"
Teman-teman menyebut nama saya, lalu menjelaskan kepada Pak Doni bahwa saya hanya tinggal tujuh tahun di Madura. Asli saya Sidoarjo, dan saya bukan penduduk asli. Beberapa teman lain yang memiliki keluarga, kerabat, atau sanak famili lain ditanya pula, tentang garis kekerabatan mereka dengan orang Madura. Satu demi satu teman menjelaskan bahwa orang tua atau kakek mereka berasal dari Madura, tapi tak satupun dari kami yang benar-benar Madura.
Maka, dimulai lah penjelasan Pak Doni tentang Madura, dengan dua pertanyaan sederhana: mengapa banyak orang Madura yang bermigrasi? Dan mengapa Pulau Madura tertinggal? Jawaban dari pertanyaan pertama, adalah bagaimana cuaca serta iklim yang tak merata membuat kondisi Madura menjadi tak subur, bertanah kapur, sehingga tidak menarik perhatian petani. Hal itu pula yang mengarahkan pemahaman pada jawaban dari pertanyaan nomor dua: kalau tidak tertarik untuk diolah, bagaimana dapat dikembangkan?
Dari dua pertanyaan itu pula Pak Doni menggambarkan pola pemukiman masyarakat yang mendukung perantauan laki-laki, taneyan lanjeng. Begitu pula dengan sistem pewarisannya yang matrilokal, berpusat pada perempuan (anak perempuan atau ibu) dan seterusnya. Dengan sumber daya yang dikuasai perempuan, lelaki menjadi perantau di luar, dan relasi sosial yang renggang, maka muncullah perselingkuhan yang kemudian melahirkan tradisi Madura terkenal: Carok.
Pada, suatu titik, Pak Doni menyebut bahwa saat ini, ada kelompok masyarakat yang terpisah dari keluarga atau semacamnya. Mereka dibiarkan merantau -sebagaimana orang Madura atau Minang- tapi tanpa jaminan akan kembali. "Anak-anak Pondok. Pesantren." Maka mengarahlah pandangan teman-teman sekelas ke depan, terutama saya yang berada di barisan paling depan. Pak Doni sendiri, berdiri dengan bersandar pada meja dosen, kemudian bertanya:
"Sejak kelas berapa mondok?"
Saya menjawab apa adanya, "Sejak SD." Pak Doni berusaha menyembunyikan kekagetannya, atau memang sudah pernah menemukan fakta yang sama. "Saya juga punya teman-teman yang seperti itu. Mereka dilepas dari keluarga sejak kecil." Saya pun masih diminta melanjutkan jawaban bahwa saya sejak SD hingga SMA menjalani sebagian masa hidup di pondok. Beberapa teman sudah tahu bahwa saya alumni pondok di Madura. Tapi mungkin fakta baru bagi mereka bahwa saya mondok sejak SD.
Pak Doni secara tepat mendeskripsikan kehidupan orang-orang pondok seperti saya, yang sudah kehilangan 'rumah' sejak kecil, dan ketika pulang hanyalah sebuah rutinitas menjenguk keluarga. Teman-teman merasa iba, tapi saya sendiri tersenyum kecut: kehidupan pahit ini sudah terasa manis. Saya tak menyesal tidak terlalu dekat dengan keluarga. Toh, jika garis waktu dapat diulang dan keputusan dapat diubah melalui jalan takdir lain, saya tak tahu bagaimana pahitnya hidup.
Ketika membandingkannya dengan kehidupan anak-anak lain yang masih bisa rindu dengan rumah, saya juga terkadang merasa iri. Tapi mau bagaimana lagi. Dalam, satu istilah, Pak Doni menyebut saya sebagai Sorjourner, entah apa arti kompleksnya. Dan lagi, beliau menyarankan saya meneliti hubungan keluarga sendiri, melalui metode auto-etnografi. Saya tertawa dalam hati. Hal seperti ini saja, sudah membuat mata kiri saya sembap, entah kenapa. Bagaimana mungkin saya akan melakukan auto-etnografi?
Pertanyaan semacam itu, sudah sering saya dapati, sekedar untuk memberitahu mereka yang bertanya bahwa saya sudah lama mengenyam pendidikan ala pondok, tapi tetap saja berperilaku seperti orang barbar. Tetap saja tak mampu mengembalikan hafalan yang sudah pernah dibaca. Hahaha.
*****
Selain pertanyaan semacam itu, yang dapat saya tulis secara rinci dan panjang lebar, saya juga memiliki banyak pengalaman lain yang juga cukup menyenangkan. Pertama, saya bertemu dengan senior di pondok yang masih saya panggil ustadz. Beliau menolak saya panggil ustadz, atau saya cium tangannya. Tak disangka, beliau baru saja masuk UB, S2 Teknik Elektro. Sebelumnya, beliau menempuh S1 di prodi yang sama di Unej. Kami berbagi cerita tentang pengalaman masing-masing, sebelum akhirnya beliau pamit bersama teman-teman kuliahnya.
Padahal ketika itu kami bertemu di Pujasera, setelah saya setuju untuk menemani ketum UKM yang mau makan. Tak disengaja.
Kedua, saya berhasil mengaktivasi tabungan Britama, yang sebelumnya sudah saya daftarkan melalui kepanitiaan. Saya mengambil antrian yang terlewat, lalu antri lagi dan ternyata salah antrian. Saya harus ke CS dan mengurus tabungan yang amat rumit. Dalam setengah jam, dengan segala kerumitan pendaftarannya, tabungan saya selesai. Saya diberi kartu dan servis aktivasi akun. Rekening tabungan Britama ini tanpa buku, jadi memang hanya kartu.
Yah, hanya ini untuk hari ini. Sekian.


Klo tdk mondok dari kecil, sulit punya hafalan, jangan2 sudah pegang rokok dan sulit diawasi
BalasHapusYg menyenangkan, minta uang brp? "terserah umi" meskipun jatah sebulan, dlm seminggu sdh habis krn dipinjamkan teman.
BalasHapus