Menyelesaikan Sapiens: Humor Yuval tentang Sejarah Manusia
Judul Asli: Kitzur Toldot Ha'enoshut
Judul Terjemah: Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia
Cetakan: Kesembilan, Mei 2019
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: viii + 525 hal
Harga: Rp. 110.000,- (beli di gramed, Bos!)
Sapiens bukanlah buku yang bagus-bagus amat. Bagi sebagian orang yang terpana dengan kualitas buku ini melalui pembicaraan orang-orang di ruang publik, simpan kekaguman itu dalam hati. Cari cara untuk mendapatkan buku ini, dan baca sendiri.
Saya membeli Sapiens di hari ulang tahun saya, sebagaimana kebiasaan saya setiap ulang tahun. Karena berada dalam momen yang bagus, saya dengan berani mengambil sapiens, yang harganya mencapai 100 ribu. Tapi itu setimpal. Yuval Noah Harari, penulis asal Israel yang belum pernah saya dengar namanya, menyajikan buku ini dengan apik. Terlebih, penggunaan diksi dan metafora yang ironis terkadang membuat saya tertawa. Berikut adalah sedikit ulasan saya.
Dibagi dalam Babak Revolusi
Pengetahuan yang dimiliki Yuval bukanlah suatu hal baru. Ia hanya mengumpulkan banyak hal dalam satu tempat dan berhasil menyusunnnya sesuai dengan urutan sejarah manusia -dalam hal ini Homo sapien- dalam empat babak revolusi: Kognitif, Pertanian, Penyatuan Manusia dan Sains. Revolusi kognitif mengangkat sedikit martabat manusia -yang sebelumnya hanyalah hewan sibuk sendiri di pedalaman Afrika- menjadi pemburu pengumpul yang sedikit pintar. Revolusi kognitif memperkenalkan kita dengan bahasa, budaya, dan teknologi sederhana. Ketika hewan lain masih berburu untuk mendapatkan makanan, sapien merangkak sedikit demi sedikit menuju puncak piramida makanan.
Revolusi pertanian,, sebagaimana Yuval katakan berulang-ulang, adalah dosa pertama manusia selain memetik khuldi dan diusir dari surga. Dengan pertanian, manusia melakukan manipulasi alam untuk pertama kalinya. Mereka memenjara hewan-hewan dalam kandang dan mengumpulkan padi atau gandum dalam satu lahan. Manusia juga tak lagi berpindah-pindah, yang sebenarnya malah membuat repot mereka karena munculnya sampah domestik serta penyakit. Keputusan manusia untuk bertani dan menetap, membuat mereka berevolusi -meskipun harganya setimpal.
Setelah kenyang dengan hasil pertanian, manusia dihadapkan pada kemapanan. Tapi itu tak cukup. Insting manusia untuk selalu mendapatkan segala sesuatu mengantarkan mereka pada janji manis kekuasaan. Penyatuan umat manusia pun segera dilakukan, dengan tiga cara utama: uang, imperium, dan agama. Kapitalisme saat ini berkembang dari perekonomian lokal yang berdosa. Imperium didirikan atas pondasi darah dan genosida. Agama, ajaran yang selalu baik itu, menjadi berdarah-darah di tangan manusia. Revolusi ketiga manusia adalah membuat semua manusia serupa, tapi harga yang perlu dibayarkan untuk itu terlalu mahal.
Setelah manusia berhasil dikumpulkan dalam negara-negara kecil demokratis nan sistemis, manusia mencapai pada tahap kemakmuran: peperangan antar-bangsa semakin menurun, kelaparan berkurang di tingkat terendah, dan sapiens bereproduksi hingga angka 7 miliar! Penuhnya manusia di seluruh dunia mengorbankan spesies-spesies lain: jutaan hewan dan tumbuhan punah serta spesies yang masih hidup berada dalam penangkaran buatan manusia -entah untuk diternak atau sekedar dipajang.
Tapi manusia tak berhenti di situ. Revolusi lain sedang muncul dan harga yang dibayar untuk revolusi itu tidak main-main: kemanusiaan! Sains sedang menggeliat dan temuan akan biokimia, sel organik, dan teknologi artifisial mengancam identitas manusia. Setidaknya, ada tiga jalan bagaimana identitas Sapiens berubah: rekayasa biologis, rekayasa cyborg (yang sudah setengah jalan), dan rekayasa kehidupan anorganik berupa komputer dan semacamnya. Tiga jalan itu, merupakan metode-metode puncak, di mana manusia akan berubah seutuhnya, atau malah menghancurkan dirinya.
Humoris: Saya Cukup Tertawa
Jujur saja, buku ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya beli. Bukan karena harganya yang cukup mahal (di atas angka 50 ribu itu sudah mahal di mata saya), tetapi karena kemampuannya berkorelasi dengan pikiran saya. Selain informatif, Yuval juga memuat humor-humor intelektual di mana tak cukup bagi saya tertawa dalam hati. Hanya dengan pemilihan diksi dan metafora, sudah mampu membuat saya tertawa terbahak-bahak. Contohnya:
Terlepas dari berhasil tidaknya Proyek Gilgamesh, menarik untuk dilihat dari sudut pandang historis bahwa sebagian besar agama dan ideologi zaman modern akhir telah menyingkirkan kematian dan kehidupan setelah mati dari pembahasan. Sampai abad ke-18, agama-agama dan ideologi-ideologi seperti liberalisme, sosialisme, dan feminisme kehilangan minat sepenuhnya akan kehidupan setelah mati. Apa tepatnya yang terjadi kepada seorang komunis setelah dia meninggal? Apa yang terjadi kepada seorang kapitalis? Apa yang terjadi kepada seorang feminis? Tidak ada gunanya mencari-cari jawaban dalam tulisan-tulisan Marx, Adam Smith, atau Simone de Beauvoir. Satu-satunya ideologi modern yang masih memberikan peran sentral kepada kematian adalah nasionalisme. Dalam momen-momennya yang lebih puitis dan kepepet, nasionalisme menjanjikan bahwa siapa pun yang mati demi bangsanya akan selamanya hidup dalam ingatan bersama. Namun, janji itu sedemikian kabur sehingga bahkan sebagian besar nasionalis tidak tahu janji itu harus diapakan.Anda tidak tertawa ketika membaca paragraf di atas? Berarti selera humor anda berbeda dengan saya. Lagipula, tidak masalah bagi pembaca tulisan ini lucu atau tidak. Bukan masalah pula jika Yuval menulis ini dengan rasa kecewa, bukannya gembira. Toh, dengan keseriusannya, Yuval sudah membuat say jatuh hati dengan humor-humor gelap seperti ini.
Masih banyak lagi paragraf lucu yang dapat ditemukan dalam buku ini. Untuk penikmat humor intelektual, buku ini cukup menghibur.
Bintang Empat
Informatif, kontroversial, dan humoris. Tiga poi itu membuat saya memberikan empat dari lima bintang untuk buku ini. Informasi yang disajikan cukup melimpah, lintas disiplin ilmu, dan teangkum dengan baik. Penyajiannya yang sederhana membuat saya terbantu dalam meluaskan wawasan, termasuk pada hal yang selama ini tidak saya mengerti.
Sebagaimana banyak evolusionis lain, Yuval rasanya juga atheis alias, tidak mempercayai eksistensi Tuhan. Ia bukan agnostik, orang yang masih percaya akan keberadaan zat Maha Kuasa tapi tidak memeluk agama tertentu. Yuval dengan mudah menyebut agama sebagai mitos atau ilusi bersama. Ia menganggap manusia mencapai pada taraf yang sesempurna ini berkat evolusi yang dilakukan oleh Sapiens, bukan karena perbuatan Tuhan. Intinya, ia menolak ketuhanan.
Tak hanya itu, gagasan-gagasan lainnya pun juga terasa kontroversial, dan mengancam akan mengubah wawasan masyarakat pada umumnya. Anda bisa baca sendiri, saya tidak sanggup menjelaskannya.
Poin ketiga sudah cukup saya jelaskan, dan bagaimana humor buku ini relatable dengan kualitas humor pribadi saya. Lagipula, bintang empat cukup untuk sebuah buku lama (terbit pada 2012, sudah tujuh tahun) yang kini kembali best-seller. Selanjutnya, saya akan membaca Homo Deus, yang entah bagaimana saya mendapatkannya.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?