Menguliti Perempuan Tanah Jahanam (2019): Horornya Lumayan


Dua orang wanita mengobrol lewat telepon. Situasi jalan tol yang cukup sibuk membuat keduanya kerepotan. Maya (Tara Basro) mengeluhkan sebuah mobil rongsokan yang sering kembali melalui pos-nya tanpa tujuan. Ketika mobil itu datang, pengemudinya menatap Maya lebih lama, lalu menepikan kendaraan di tepi jalan. Dan malam itu, kejadian yang sama terulang. Lelaki itu datang lagi, tetapi dengan intimidasi.

Maya yang ketakutan meminta tolong pada Dini (Marissa Anita), temannya, untuk memanggil petugas atau polisi. Maka, ketika lelaki itu kembali dengan sebilah golok di tangan kanan, Maya berlari. Nyawanya di ujung tanduk, bersama impiannya membuka toko baju yang sepertinya harus ikut kandas. Untungnya, polisi datang dengan tembakan tepat di kepala. Kejadian itu membuat Maya trauma, tapi ia memperoleh informasi berharga tentang asal-usulnya.

Keluarga dan Desa

Film horor dalam negeri ini menggunakan ramuan yang relatif cukup sama. Kisah tentang desa yang penuh hantu, atau kejahatan di masa lalu yang belum terselesaikan adalah premis yang cukup sering digunakan. Perempuan Tanah Jahanam, menggunakan formula yang sama. Joko Anwar sebagai sutradara menggambarkan desa itu dengan sedikit samar: terpencil, terisolasi, tanpa rumah tembok (hanya satu yang terlihat), tidak ada kendaraan bermotor dan listrik. Gambaran seperti itu, di masa kini relatif tak pantas. Apalagi ketika dibandingkan dengan Maya dan Dini, datang dari kota membawa smartphone android.

Bahan baku 'keluarga' juga tidak luput dikembangkan. Sebagaimana kita ketahui, kisah-kisah horor selalu menghantui dua hal: sebuah tempat atau keluarga. Layar lebar Hollywood memberi contoh akan hal itu: The Conjuring meneror semua penghuni tanah penyihir, meskipun tanah itu sudah dibagi dalam beberapa petak dan dihuni oleh beberapa keluarga. Insidious menghantui seorang anak dan keluarganya secara turun-temurun. Mengembangkan film horor dengan basis kisah keluarga tidak salah, tapi memang terlalu mainstream.

Perempuan Tanah Jahanam, memberikan kisah yang lebih menakutkan sebenarnya. Maya harus menelusuri kisah kelam keluarganya, tanpa tahu bahwa ia berada dalam desa neraka yang memburunya.

The Missing Point 

Ada beberapa hal yang musti dikritisi, mengingat saya menulis ini bukan untu memuji-muji. Meskipun sudah menarik minat saya untuk menonton film dalam negeri (dulu saya benci film Indo ya karena Jailangkung) dengan tawaran horror phsychology, saya harus berani mengkritis. Dan akhirnya, berikut poin-poin yang hilang dari film ini,

Pertama, sosok Bibi yang mengasuh Maya aka Rahayu tidak pernah ditampilkan walaupun sedikit. Hal ini cukup membingungkan karena perannya yang cukup kuat. Bibi inilah salah satu pembantu di rumah Ki Danawangsa yang cukup loyal dan dengan berani menyelamatkan Rahayu kecil. Bibi tanpa nama ini pula yang mengasuh Maya hingga dewasa dan tidak mau bercerita tentang masa lalu majikannya. Kalau saja dihadirkan, walau sedikit, mungkin penonton akan memiliki asumsi kenapa Bibi ini terlalu pendiam.

Kedua, adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul sekitar mistisisme desa Harjosari. Mengapa kutukan itu muncul dalam bentuk 'bayi tanpa kulit'? Mengapa kutukan itu bermula di Rahayu? Apakah karena dia anak haram antara Ki Saptadi dan Nyai Sinta? Kalau kutukan itu berlanjut, saya cukup paham dengan dendam tiga anak perempuan yang selama ini masih ada di sana, menunggu Rahayu pulang. Bentuk kutukan itu membuat saya cukup terheran-heran, meskipun pada akhirnya, menghibur juga kisah-kisah seperti ini.

Ketiga, melalui film ini, saya jadi tahu bagaimana sulitnya melahirkan bagi perempuan. Apalagi, menjadi orangtua yang anak bayinya rela dibunuh semenjak kelcil. Banyak adegan yang menggambarkan bagaimana sulitnya perempuan bergerak dan beraktivitas ketika hamil. Tapi setidaknya, hal itu tidak terlalu dieksplor terlalu dalam sehingga masih memberikan efek horor bagi penonton

Perempuan Tanah Jahanam memberikan saya sedikit pencerahan, tentang film-film horor Indonesia yang kembali naik daun tidak hanya mengandalkan adegan-adegan panas tapi nanggung atau setan murahan yang melawan ustadz ahli ngaji (versi yang serupa sedang digemari di negara lain). Sebelum menonton film ini, penonton juga disuguhi trailer Lampor, kisah lama tentang keranda terbang yang sepertinya akan mengambil formula yang sama. Yah, semoga saja kualitas sinema horror Indonesia membaik. Dan variatif.

Komentar

  1. Calon penulis sekenario dsn sutradara film, itu cuma bonus, Ilmu Agama dan yg lain, yg utama.

    BalasHapus

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir