Membaca Madura dalam Empat Zaman: Sebuah Review
Madura adalah anomali. Letaknya yang strategis membuatnya berada dalam jalur perdagangan dengan pelabuhan Surabaya, tapi tidak memiliki banyak perkembangan finansial. Madura dihuni oleh orang-orang kuat, tapi mereka selalu tunduk di bawah kekuasaan-kekuasaan yang tidak membangun tanah mereka -hingga saat ini. Membaca Madura, adalah sebuah usaha yang cukup sulit, mengingat literaturnya yang tidak sebanyak sejarah Jawa. Tapi Madura adalah sebuah tantangan tersendiri, bagaimana pulau ini dapat dikembangkan hingga taraf yang lebih layak.
Madura
Huub de Jonge memulai pembahasan Madura tentang kondisi alamnya yang kering dan bergelombang: perbukitan di utara, pemukiman nelayan yang tersebar di seluruh garis pantai baik utara maupun selatan, ladang garam yang melimpah, pulau-pulau kecil di selatan dan kepulauan di ujung timur, hutan-hutan yang jarang tapi tetap menjadi sumber penghidupan utama, sungai-sungai kecil berair asin yang menjadi tempat menambatkan perahu, dan lain sebagainya. Huub de Jonge menggambarkan Madura dengan lengkap.
Setelah membahas kondisi alamnya, Huub de Jonge menuliskan gambarannya tetang pola pemukiman masyarakat Madura. Di sinilah pembaca diperkenalkan dengan tanean lanjeng, konsep pemukiman keluarga besar Madura yang hingga saat ini masih bertahan di desa-desa. Pola pemukiman ini diatur dalam kognisi masyarakat berdasarkan pada peranan dan tingkatan individu. Meskipun sudah mulai ditinggalkan sejak mengenal rumah modern, beberapa rumah di desa masih dibangun dengan konsep ini.
Penduduk Madura sendiri sama dengan progres pembangunannya: tumbuh dengan lambat. Sebagai sebuah pulau yang "dianaktirikan" penghitungan sensus di Madura terlambat dilakukan. Selain itu, kepadatan penduduk juga dipengaruhi oleh migrasi. Dalam hal ini, banyak alasan yang membuat orang-orang Madura berpindah dari tanah kelahirannya: kerja paksa pada masa kolonial, romusha pada masa Pendudukan Jepang, dan alasan ekonomis yang dipakai hingga saat ini.
Tetapi, tak hanya orang Madura saja yang tinggal dan menetap di Madura. Meskipun dikucilkan dari pusat-pusat pemerintahan, Madura tetap menarik bagi orang-orang asing, yang kemudian berhenti di Sumenep. Hanya di Sumenep sajalah ditemukan Kampung Arab, Pecinan, dan kelompok minoritas agama. Mereka hidup berdampingan dengan penduduk lokal, meskipun sempat berada dalam tensi tertentu setelah ada sentimen anti-Cina atau semacamnya.
Pembahasan selanjutnya, yang oleh Huub de Jonge ditulis dalam sub-bab 'Komunikasi', sebenarnya mendeskripsikan 'transportasi' dan aksesibilitas Madura secara internal maupun eksternal. Masyarakat Madura lebih mudah melakukan perjalanan ke luar, daripada mengelilingi tanah sendiri. Orang Bangkalan contohnya, lebih mudah menjadi buruh sawit di Kalimantan atau TKI di Singapura daripada mengunjungi pantai-pantai indah yang kini mulai menjadi tujuan wisata.
Tidak hanya karena pembangunan infrastruktur, karena memang orang Madura tidak memiliki kebiasaan seperti itu -menurut saya pribadi yang telah hidup di sana selama kurang lebih tujuh tahun. Jika tidak ada kenalan di suatu daerah, maka lebih baik membawa teman dari kampung halaman untuk melakukan perjalanan ke daerah Madura lain. Di Madura mungkin ada Jalan Nasional -satu-satunya jalan besar yang membentang dari Suramadu hingga Sumenep, tapi itu tidak cukup. Madura membutuhkan lebih banyak akses infrastruktur untuk meningkatkan kualitas kehidupan ekonomi.
Mata pencaharian masyarakat tetap bergantung pada pertanian, meskipun di masa modern ini sudah banyak penduduk yang beralih pada kerja perkantoran. Jagung adalah komoditas utama, disusul kemudian oleh tembakau, padi, dan tanaman perkebunan lainnya. Di pesisir, masyarakat Madura menjadi nelayan atau petani garam. Di perbukitan, ada sebagian yang bertani dan berkebun. Usaha wiraswasta tetap ada, baik dalam pengadaan produk-produk rumah tangga dan elektronik.
Masyarakat Madura, dengan segala kelebihan sumber daya alamnya, selalu berada di bawah pemerintahan Jawa. Kerajaan-kerajaan kecil berdiri di setiap teritori yang kini menjadi kabupaten, tapi mereka tunduk dalam kuasa Majapahit, Singosari, dan Mataram. Setelah kerajaan-kerajaan besar itu runtuh, mau tak mau mereka harus ikut dalam kolonialisasi Belanda dan Jepang. Setelah proklamasi, Madura masuk babak baru dalam pemerintahan Indonesia. Tapi nasibnya tidak sebaik Jawa, meskipun masih dalam administrasi Jawa Timur.
Penutup
Membaca Madura melalui buah tulisan Huub de Jonge tidak jauh berbeda dengan saat ini. Hal ini seolah-olah membuka ingatan penulis tentang serba-serbi Madura yang kaya dan kering: kaya akan budaya, tetapi kering dengan pembangunan. Membaca Madura tak jauh beda dengan mengunjunginya secara langsung: tanah-tanah kosong selepas Jembatan Suramadu, jalan yang bergelombang di Sampang, perahu-perahu yang ditambatkan sepanjang Talang Siring, dan kota besar Sumenep yang mulai berbenah. Huub de Jonge berhasil menuliskan Madura dengan lengkap, lalu membangkitkan ingatan-ingatan tentang gambaran Madura seutuhnya.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?