in the dark: Menyelami Penyesalan ala Oli Sykes


Beberapa minggu terakhir, kita dikejutkan dengan seorang gadis kecil umur sekolah yang dengan berani menantang para pemimpin negara di seluruh dunia untuk membuat aksi melawan perbuhan iklim. Ya, tak lain dan tak bukan, gadis itu adalah Greta Thunberg. Umurnya baru menapak angka 16 tahun, tapi sudah berani memimpin orasi di kota-kota besar Amerika. Atas keberaniannya, ia diundang pula dalam rapat PBB. Berbondong-bondong masyarakat dunia mengikutinya. Begitu pula dengan organisasi non-provit yang berfokus pada isu-isu lingkungan.

Aksinya mengajak masyarakat dunia bersiap-siap menghadapi perubahan iklim turut dicontoh banyak pihak.  Salah satunya, Bring Me The Horizon.

Melalui salah satu video klip-nya, in the dark (2019), Oliver Sykes dan kawan-kawan melakukan hal yang serupa dengan yang dilakukan Greta Kecil. Dalam video yang beberapa hari lalu dirilis itu, BMTH menceritakan seorang lelaki tua (diperankan oleh Forest Whitaker) yang duduk dan menangis menonton layar besar dihadapannya. Layar itu menampilkan berbagai hal, termasuk kerusakan dunia yang tak terelakkan. Ia menangis dan tak bisa bergerak di atas kursinya, sembari diperhatikan oleh para ilmuwan aneh yang mengelilinginya.

Bagaimana BMTH memandang kerusakan lingkungan? Pendapat dan aspirasinya terangkum lengkap dalam in the dark. 

Kegelapan Macam Apa?

Kegelapan yang tak berdasar. Kegelapan itu adalah neraka yang terus membuatnya jatuh tanpa pernah menemukan dasarnya. Dan dalam kegelapan itu, ia merasakan dinginnya kematian: seharusnya ia merasakan kehangatan. Oh, I've done it again / Dug a little deep, and it's all caved in / Now I free fall in a black hole / I know I'm getting warm 'cause I feel so cold. 

Tapi ia tak berlama-lama di dalamnya. Ia memutuskan pergi, menuju sisi yang lebih terang. But I'm looking on the bright side now. Meskipun ia tahu, bahwa membayangkannya saja sedikit mustahil. Trying to figure out somehow (None of this is real, no). Maka, ia pun berusaha mengajakmu bicara. It's looking like a write off now  I think we need to talk, like, now. Agar kau tahu kepeduliannya. Agar kau tahu obsesinya.

Jangan Hanya Berdoa, Lakukan Sesuatu!

So don't swear to God, He never asked you
It's not his heart you drove a knife through
It's not his world you turned inside out
Not his tears still rolling down
Jesus Christ, you're so damn cold
Don't you know you've lost control?


Hal yang ingin dikatakan Oli adalah permasalahan manusia berhubungan dengan sesama. Ketika bencana datang, hal yang perlu dilakukan adalah menolong manusia, memastikan masih ada nyawa yang dapat diselamatkan. Ketika konflik sosial pecah, jangan mencari siapa yang benar atau siapa yang salah. Itu tugas Tuhan. Yang harus dilakukan adalah melerai mereka, memaksimalkan relasi kebaikan, dan mengupayakan perdamaian. Kita yang bertingkah di atas bumi. Jadi, ketika dampak itu datang, jangan meminta Tuhan menyelamatkan kita. Kita harus menyelamatkan diri.

Sekilas, kata-kata saya terkesan agnostik. Tapi tidak. Saya mengelak jika ada yang berpendapat seperti itu.

Kini, kita berada pada masa di mana sains dianggap sebelah mata. Sains seolah sihir pada abad perburuan penyihir di Amerika. Padahal, kemajuannya yang sangat cepat membantu kita dalam berbagai hal. Memilih sains sebagai cara hidup bukan berarti mengesampingkan Tuhan. Toh, saya tetap beragama Islam dan mengimani Allah, meskipun percaya dengan teori evolusi -heh, teori evolusi itu bermasalah di mana sih? 


Forget about the things you think I know
No secrets, you can't keep me


Oli Sykes menambahkan, bahwa kesadaran pemuda yang meningkat akan ancaman kerusakan lingkungan membuat orang-orang yang lebih dewasa juga sadar: ia mengobrol dengan ayahnya terkait Brexit dan lain-lain. Di Endonesa tercinta, kita mengenal gerakan Reformasi Dikorupsi. Di Hongkong, anak muda turun jalan menuntut pembebasan negeri kecil mereka. 2019, sebagaimana diwartakan Tirto melalui infografik di Instagramnya, menjadi tahun penuh pergerakan-turun-ke-jalanan. Isu-isu lama boleh bangkit, tapi rakyat makin dewasa dan peduli.

Penyesalan yang Berguna

Setidaknya, penyesalan Oli Sykes sebagai manusia pada umumnya dan kesadarannya akan isu-isu manusia membantu ia merumuskan video in the dark. Tapi, bukan berarti ini benar-benar berguna. Seharusnya orangt-orang mulai paham apa yang terjadi: video ini menggambarkan banyak hal, meskipun tidak keseluruhan ide. in the dark memvisualisasikan kerusakan bumi dengan sederhana: seorang lelaki (atau Tuhan? karena ia berbaju putih) yang menangis melihat (putri) kesayangannya merusak diri hari demi hari.

Greta?

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir