I Never Liked Your Friends: We Say It to Jokowi!


Kemarin pagi, saya mendapat notif Youtube dari Sumerian Records, studio rekaman asal Amerika yang juga menaungi salah satu band metalcore favorit saya: Asking Alexandria. Sayangnya, notif terbaru itu bukan dari AA, melainkan band lain dengan nama yang baru pagi itu saya dengar. The Federal Empire. Dengan sebuah lagu berjudul I Never Liked Your Friends, band dengan anggota dua orang itu berakustik.

Kesan pertama saya, adalah suaranya yang halus dan lembut. Band ini menyanyikan lagu-lagu folk khas Amerika. Musik yang mereka mainkan pas dan cukup bagus di telinga saya -yang selama 24 jam sehari selalu mendengarkan musik non-stop. Kedatangan lagu baru dalam memori otak saya biasanya sedikit lambat. Saya hanya mendengarkan, tapi tidak mengingatnya dan tidak mau menghafalkan liriknya. Tapi ini berbeda. The Federal Empire sudah membius saya sejak chorus pertama.

*****

Lagu ini menceritakan seorang lelaki yang melepaskan kekasihnya. Dalam kisah-kisah cinta modern nan kontemporer, hal ini jamak terjadi: seorang lelaki yang tak cukup diterima merasa bahagia jika wanita yang ia cintai juga bahagia. Begitu pula sebaliknya. Hal ini ditunjukkan dari awal: I wished you well / even though you're sleeping with somebody else. Kerelaan itu dikuatkan dengan fakta, bahwa meskipun sang kekasih melakukan hal yang ia inginkan semaunya sendiri, toh nanti ia akan kembali. You said 'go to hell!" / but I wonder if that's how you felt. 

Akhirnya, meskipun kekasihnya kurang ajar, ia masih mencintai sang pujaan hati dengan sebuah konsekuensi. I never liked your friends / I never wanna see them again.  Tapi ia tetap berjuang. No matter how this ends / I am never gonna try and pretends. Ya memang begitu. Kalau kita tidak suka dengan seseorang, untuk apa berpura-pura? Dalam kasus ini, sang kekasih berubah sikapnya karena lingkungan pertemanan. Maka dari itu, cukuplah membenci teman-temannya saja.

Di zaman modern ini, cinta adalah sesuatu yang cukup mudah untuk dilakukan. Yang sulit, adalah bagaimana mempertahankan kesetiaan. Hal itu berlaku di mana saja: cinta seorang lelaki kepada wanita pujaannya, seorang pengagum kepada motor kesukaan yang sudah lama ia incar dan baru dapat terbeli setelah lama menabung (plus kredit, hehe), dan masih banyak contoh lainnya. Untuk memeprtahankan cinta, kadangkala kita harus mengorbankan banyak hal. The Federal Empire, memberikan kita contoh bahwa kita (lelaki baik hati seperti saya juga termasuk), harus merelakan wanita yang kita cintai bersenang-senang dalam dunianya.

You know that I love you / but I never liked your friends, adalah sebuah pesan keikhlasan.

*****

Jam-jam terakhir, media sosial kita disibukkan dengan panggilan untuk turun ke jalan, mengganggu stabilitas negara demi menuntut orang-orang Senayan yang bertindak semaunya. Sebagai warga negara yang baik, saya ikut mendukung pergerakan pemuda seperti itu, meskipun saya tidak ikut turun ke jalan: ada kelas pagi dan saya tidak mau absen saya ternodai (saya absen satu kali karena lupa tanda tangan). Intinya, ada berbagai aksi demontrasi menolak revisi KUHP yang keterlaluan sewenang-wenang yang diinisiasi di seluruh negeri.

Di Jogja, para penulis dan penerbit buku yang saya ikuti instagramnya menyerukan #GejayanMemanggil. Di Malang, hal ikuti diikuti dengan gerakan #DPRMemanggil, mengajak para mahasiswa untuk memindahkan kelas ke Gedung DPR. Tak hanya itu, ternyata pergerakan-pergerakan lain juga memindahkan mahasiswa yang selama ini rebahan di kamar sambil nonton Youtube lalu tertidur karena bosan ke jalanan. Yang tak disangka, adalah dukungan luar biasa dari para orang tua. Yah, meskipun ada juga sih orang-orang tua yang menolak mendukung.

Tapi hal yang paling ingin saya sorot lebih dalam, adalah bagaimana masih ada orang-orang yang dengan sepenuh hati masih mencintai Jokowi. Narasi-narasi #orangbaik yang dulu sempat populer dalam kontestasi pemilu, kembali digaungkan. Hanya saja, kali ini bukan Prabowo lawannya, melainkan cebong-cebong yang menagih janji manis Nawacita. Saya pribadi, meskipun tidak memilih Si Tukang Mebel, turut menagih janjinya pula. Toh dalam demokrasi, suara mayoritas adalah suara saya pula. Maka, tak ada salahnya.

Nah, tokoh-tokoh yang masih mendukung Jokowi bahkan ketika rakyat adalah lawannya inilah yang kemudian disebut buzzer istana. Entah berapa bayarannya, mereka tetap menggaung-gaungkan bahwa Jokowi tak bersalah. Revisi KUHP adalah ulah DPR yang hendak turun jabatan. Eh, tapi tunggu dulu. Para mahasiswa yang turun jalan kan bukan cuma urusan Revisi KUHP: poster-poster mereka juga berisi tuntutan masalah kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera, pelemahan KPK, dan lain sebagainya.

Dalam penglihatan saya, masih ada kok orang-orang yang mencintai Jokowi, hanya saja orang-orang di sekitarnya itulah yang bikin buruk kekuasaan: Wiranto, Luhut, orang-orang kaya yang berkuasa sejak reformasi 1998 runtuh, dan para pebisnis yang berlindung di balik partai politik. Lingkungan semacam itulah yang membuat marah para pemuja Jokowi, lalu menganggapnya tetap sebagai perwakilan rakyat yang benar-benar merakyat, dengan wajah ndeso dan karirnya sebagai pemilik usaha mebel dan batu bara.

Bagi saya, Jokowi adalah Jokowi. Yang sejak dulu dipilih karena sosoknya, bukan ide-ide orisinilnya. Di belakangnya masih ada keluarga cucu presiden pertama. Di sekelilingnya, masih ada jenderal-jenderal purnawirawan. Di istananya, yang belum benar-benar suci dari permasalahan. Bahkan ketika ia membawa cucu yang menggemaskan sekalipun. Saya dulu sempat kagum dengan sosoknya ketika memimpin Jakarta bersama sang wakil yang minoritas ras dan agama. Tapi semua kekaguman itu hilang seketika: beliau berpose mencium sang saka merah putih untuk menyatakan pencalonannya sebagai presiden.

Mendengar lagu The Federal Empire, mengingatkan saya pada para cebong-cebong yang masih memuja Jokowi. Mereka masih mencintainya, tapi dengan lantang mengatakan: But I never liked your friends!

Komentar

  1. Semoga Allah memberi kekuatan, petujuk dan perlindungan pada P. Jokowi, aamiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir