Diare di Hari yang Sibuk
Mungkin karena kemarin malam saya memakan dua bungkus mie sedaap sambal goreng, ditambah sebungkus sambal terasi, saya terkena diare sepanjang hari. Paginya, setelah mengaji, ada nasi kotakan yang sambelnya pedes banget. Sumpah.
*****
Hari ini dimulai dengan lancar. Saya menyetorkan juz delapan seperempat awal dan memutuskan untuk terus menambah murojaah. Toh, saya belum diberi izin untuk membaca lima juz bil-ghoib sekali duduk. Padahal, saya sudah mengajukan diri dalam dua minggu. Ya sudahlah. Mungkin setelah genap sepuluh juz, saya boleh tasmi' lima juz. Kalau ditunda-tunda terus, bisa hilang hafalan saya.
Setelah setor, saya tidur. Itulah kebiasaan buruk saya.
*****
Berangkat ke kampus pukul delapan, saya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, duduk di salah satu bangku kosong. Karena ujian nanti bersifat open book, maka saya harus mempersiapkan bahan contekan. Yang sifatnya halal tentunya. Selain itu, saya juga masuk ke perpus untuk meminjam buku Sejarah Teori Antropologi II. Nyatanya, catatan-catatan itu tidak berguna. Hanya empat soal yang diajukan oleh Mas Iwan dan saya mengerjakan semuanya tanpa membuka catatan. Itulah kekuatan seorang pengarang seperti saya.
Total, saya hanya duduk lima belas menit dalam ruangan, meninggalkan teman-teman yang -bukannya sombong ye, tapi memang- masih berjibaku mengerjakan soal-soal ujian.
Soalnya mudah-mudah kok. Mau dikasih tahu? Nih. Kali aja berguna nanti:
- Berpijak pada proses perkuliahan, silahkan jelaskan apa itu paradigma dalam Ilmu Sosial? Mengapa kita membutuhkan paradigma dalam menelaah teori antropologi modern?
- Menurut Anda, bagaimana model yang digunakan dalam Strukturalisme Levi-Strauss untuk menjelaskan suatu komunitas?
- Menurut pemahaman anda, bagaimana Clifford Geertz membangu tafsir pada masyarakat Bali dalam "Permainan Mendalam: Catatan tentang Sabung Ayam di Bali'?
- Silahkan ceritakan pengalaman anda dalam mengikuti perkuliahan ini. Paparkan hal-hal yang dipelajari, jabarkan bagian yang menarik bagi anda, dan buat pertanyaan-pertanyaan relevan yang sekiranya belum anda ketahui.
Nah, begitulah soal yang berhasil saya ambil tadi pagi. Merasa catatan ini bermanfaat? Silahkan copy-paste atau langsung saja subscribe blog ini. Hehehe.
*****
Setelah itu, saya pergi ke perpus, berharap bisa meluangkan waktu untuk membaca Sapiens atau mengerjakan satu-dua tugas. Sayangnya, ada panggilan dari Mbak Pia yang mengajak saya berkonsultasi ke dosen pembimbing PKM. Dia akan menunggu saya di GRL. Padahal saya baru saja membaca beberapa paragraf. Menjawab panggilan itu, saya berkemas dan mengangkut tas. Saya pindah lagi ke GRL.
Di kantor jurusan, dosen pembimbing kami tidak ada. Setelah saya chat WA, beliau ternyata sedang ada pelatihan. Kami pun akhirnya berdiskusi di koridor kantor jurusan dan merancang makalah. Saya kebagian bab satu: latar belakang kami menyusun proposal ini dan Mbak Pia mengerjakan bab dua: spesifikasi produk yang kami ajukan. Setelah adzan duhur berkumandang, kami bubar dan menunggu balasan chat WA dari Mas Iwan. Iya. Mas Iwan dosen pembimbing kami.
*****
Setelah itu, Umi datang. Saya membantu umi yang ingin mengurus kartu sakti agar dapat mengakses buku di Perpus UB. Sayangnya, setiap kali mengurus hal ini, semua pegawai perpus bertanya pertanyaan yang sama.
"Dari universitas mana?"
"Dari UINSA, pak."
"Negeri atau swasta, itu?"
"Negeri-lah, pak. UIN lho, UIN."
Kami pun berhasil mengurus kartu sakti yang selesai pada pukul satu. Tak lupa, umi juga meminjam beberapa buku perbankan syariah dengan kartu saya.
*****
Saya masih diare sampai malam ini. Tapi bedanya, diare ini tidak terlalu sakit, tidak membuat saya harus berguling-guling di atas lantai atau kasur seperti dulu di hari-hari lebaran, momen di mana saya trauma minum soda. Tak lama setelah itu, saya masuk ruang operasi dan kolaps setengah hari. Sampai saat ini, saya masih belum berani menyentuh soda.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?