Ahad Pagi yang Lain
Seiring waktu, blog ini kemudian hanya berisi catatan-catatan keseharian saya yang tidak penting dan beberapa tugas kuliah. Tak terasa, semakin malas saya menulis, maka semakin dekat juga dengan. UTS. Hari ini hari Ahad dan besok, adalah hari pertama UTS. Sejak awal, saya tidak pernah mengkhususkan hari-hari ujian selayaknya Ramadhan, yang harus dijalankan dengan persiapan matang dan niat sepenuh hati. Saya rasa hari-hari ujian adalah hari-hari yang sama. Hari-hari dimana kita juga diuji kesabarannya.
*****
Tadi pagi, saya mengepost story, dengan nada persuasif mengajak teman-teman follower saya berlibur ke CFD. Mbak Fitri merespon. Ia mau ke sana pukul delapan dan itu terlalu siang. Saya mengiyakan saja, toh jika saya berangkat duluan, saya tidak ada teman. Dalam kerumunan, usahakan Anda tidak sendirian. Jika Anda seorang perasa seperti saya, Anda akan tahu sakitnya hati melihat manusia berpasangan atau berkerumun dalam kelompok.
Saya menunggu Mbak Fitri datang hingga pukul setengah sembilan. Ia sempat tidak mau berangkat, dalam arti PHP, tapi kemudian berniat lagi. Entah apa yang merasuki orang ini, saya terima saja. Tak lama kemudian, Mbak Fitri datang. Ia menjemput saya di depan pondok dan kami berangkat ke Idjen. Ketika hendak ke Veteran, Mbak Fitri lebih memilih belok, berharap jalanan belakang UM lebih sepi. Ia banyak bercerita tentang ta'ziran yang ia terima di pondok. Saya tertawa mendengar nasib buruk di pagi harinya itu.
Kami sampai di CFD ketika matahari pagi sudah mulai panas. Kami memutuskan untuk jalan-jalan saja, melihat kerumunan orang-orang seperrti biasa. Tapi sayangnya, perasaan kami menjadi tak enak tatkala kami menyadari sesuatu: saat ini lebih banyak orang yang berjualan daripada berlibur. Mereka mangambil momentum dengan membuka lapak dan menjual produk-produk mereka: makanan, minuman, tiket konser, tiket seminar, tanda tangan petisi mendukung tukang mebel, dan lain sebagainya.
Hanya sedikit orang-orang yang berjalan kaki di antara kami dan rasanya miris melihat hal itu.
Setelah berputar balik -dan ini memang budaya orang-orang yang CFD di Idjen, kami bertolak ke pasar, mencari makanan. Mbak Fitri berniat encari buah-buahan, tapi ia tak melihatnya di lokasi biasa. Saya mengajaknya masuk ke kerumunan, lalu berjalan lambat di antara orang-orang yang berbelanja. Awalnya, ia tak mau. Mbak Fitri gak suka berada dalam kerumunan yang sesak. Tapi, setelah beberapa kali ajakan, ia mau juga akhirnya. Saya tidak punya keinginan untuk beli apapun. Tapi kalau ada makanan yang menarik, saya bisa berhenti untuk membeli..
*****
Kami keluar pasar dengan tiga kresek makanan: Mbak Ftri membeli gula kapas dan kucur, sedangkan saya hanya satu kantong kucur. Kami berjalan ke arah kembali, berusaha mencari tempat sepi nan teduh yang bisa kami tempati. Alhamdulillah, setelah agak jauh, kami menemukan tempat yang cukup sepi. Orang-orang sudah berniat kembali tapi kami masih berniat di sini. Kami membuka makanan dan mengobrol banyak hal. Mbak Fitri sadar saya jengkel dengan kelakuannya: ia lebih banyak melihat hape. Tapi toh saya juga tak terlalu mempermasalahkan. Kesediannya menemani saya sudah tak ternilai harganya.
Banyak orang yang melewati kami, dan beberapanya ada yang kami kenal: salah satu kating senior saya di UKM -yah, seangkatan juga sama Mbak Fitri, kakak kelas satu generasi di pondok yang saat ini menempuh pasca-sarjana di UIN, dan seorang teman satu kepanitiaan yang menjengkelkan dan tidak bakat melawak. Tak lama kami beristirahat, kami pun memutuskan kembali. Mbak Kamal kembali karena sudah terganggu dengan kewajiban yang harus dilaksanakan, sedangkan saya tidak terlalu peduli dengan kewajiban saya sendiri.
Hahaha.
Toh, selama tidak merepotkan, akan selalu saya kerjakan.
*****
Apakah pantas jika saya memohon maaf sekarang? Kalau-kalau ketika waktunya datang,k, saya tak lagi menulis dalam blog ini dan saya pergi tanpa pamit? Hehe.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?