X-Men: Dark Phoenix (2019) - Still Same with The Death of Jean Grey


X-Men selalu melempar dadu, mengundi nasib, dan tak tahu hendak pergi kemana. Ia seperti seorang lulusan baru unversitas terkemuka yang punya tanggungan study loan, tapi tak tahu harus bekerja di mana. Ia sudah mengajukan lamaran pekerjaan dengan sebuah map berisi ijazah, sertifikat kejuaraan, dan berbagai surat rekomendasi, tapi tetap saja tak mendapat kerja. Dunia ini sudah cukup kompetitif, dan ia tak mampu bersaing. Akhirnya, ia hanya menjadi remah-remah. X-Men tak berjasa apapun dalam kancah perfilman dunia, selain memperkenalkan semesta Marvel yang lain.

Gambaran seperti itulah yang saya tangkap, setelah menonton film terakhir dari serial kedua X-Men. Masih tetap dengan formasi yang sama seperti film-film sebelumnya, Dark Phoenix sebenarnya mencoba untuk menghindar dari kegagalan The Last Stand. Tapi nyatanya, kegagalan itu tetap diulang. Jika orang-orang berbicara tentang kurangnya usaha marketing, saya tidak. Dalam film, saya lebih menekankan penulisan cerita. Dan Dark Phoenix, di mata saya tetap gagal.

Cerita

Dari trailer, penonton sudah dapat menebak bahwasanya Jean Grey akan mendapatkan phoenix, entitas berkekuatan besar. Versi komik orisinalnya menceritakan bahwa kekuatan itu jatuh ke bumi dan mengarah langsung kepada Jean Grey, sebagai mutan yang memiliki kapasitas kekuatan yang amat besar. Di film, X-Men mendapatkan misi langsung dari presiden AS untuk menyelamatkan astronot yang tertabrak. Misi itu secara langsung mengubah Jean Grey. Phoenix masuk ke dalam dirinya.

Selanjutnya, mudah saja ditebak. Untuk penonton lama yang mungkin mengikuti X-Men sejak awal milenium baru, akan tahu bagaimana kisah ini bergulir. Hanya saja, kali ini tanpa Wolverine yang telah tamat dalam film solo ketiganya -bersama Xavier tua. Menonton Dark Phoenix artinya menyaksikan Jean Grey mati lagi. Tak perlu marah karena spoiler. Orang-orang juga menikmati ketika tahu Iron Man mati sebelum menonton Infinity War. 

Hampa

Sebagaimana saya sebut dalam narasi awal, X-Men seperti tak berguna. Ia memiliki hampir setengah dari keseluruhan tokoh Marvel, dan mampu mengenalkannya secara luas. Tapi X-Men benar-benar tak tahu mau kemana. Mulanya, ia berhasil merilis dua film apik, tapi dikritik ketika membunuh Jean Grey di film ketiga. Mereka akhirnya memperbaiki keputusan dengan cara aneh -mengulang lagi dari awal dengan memunculkan kembali Xavier di akhir Wolverine (2013). X-Men merekrut aktor-aktor hebat, tapi hanya meunculkannya di satu film. Alur cerita memaksa mereka melakukan itu.

Tak hanya serial X-Men, semua film dari universe ini adalah ketidakseimbangan. Coba lihat Deadpool (2016) yang berkomedi dan The New Mutant yang tidak kunjung jadi. X-Men mau menampilkan kesan gelap atau jenaka? Kebingungan ini membuat mereka bekerja setengah-setengah. Hasilnya? Hampa. saya hanya mampu memberikan nilai 2,5/5 untuk Dark Phoenix. Selanjutnya, kalau X-Men benar-benar masuk ke MCU, saya berdoa agar Kevin Feige mampu menaruh tokoh-tokoh X-Men di tempat yang seharusnya.

Another Comment

Transformasi Jean Grey menjadi lebih kuat membuat saya teringat dengan Captain Marvel. Keduanya sama-sama hiperpower, tapi tak dapat memenuhi ekspektasi penonton. Jika Captain Marvel useless ketika berhadapan dengan Thanos, Jean Grey mati: ya, mengulangi kematiannya adalah keputusan terburuk.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir