Ward H. Goodenough dan Antropologi Kognitif: Sebuah Review


Pendahuluan, Riset, dan Publikasi

Artikel ini menjelaskan banyak hal tentang Goodenough, tentang kelahirannya, seluk beluk kehidupan pribadinya, hingga karirnya dalam dunia antropologi. Daftar risetnya yang beragam dihadirkan dengan sangat lengkap. Selain itu, Goodenough juga menulis berbagai publikasi, baik berupa buku, artikel jurnal, esai, dan lain sebagianya. Hal itu yang membuat ia banyak menjadi rujukan terkait pembelajaran antropologi. Tak hanya itu, Goodenough adalah salah satu pelopor antropologi kognitif. Dengan model linguistik, ia mengembangkan paradigma dan metode terbaru penelitian antropologi

Model Penerapan

Model utama dalam antropologi kognitif adalah persamaan persepsi bahwasanya, gejala bahasa sama dengan gejala kebudayaan. Penyamaan persepsi itu setidaknya berpengaruh pada studi komparasi lintas-budaya, kekerabatan, analisis komponensial, analisis peranan, dan studi atas identitas sosial. Dengan begitu, ia memiliki persepsi tersendiri tentang kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan itu secara epistimologis berada dalam wilayah yang sama dengan bahasa maupun aturan-aturan ideasional.

Konsep-Konsep Dasar

  • Sistem Komponensial adalah sistem klasifikasi dalam bentuk komponen-komponen kebudayaan berdasarkan pada sistem pengetahuan.
  • Untuk memahami suatu kebudayaan, peneliti haruslah mengambil sudut pandang masyarakat asli (emik) dan dapat menjelaskan atau menafsirkan fenomena kebudayaan tersebut (etik) untuk menjadi pemahaman bagi peneliti atau masyarakat lain.
Teori

Sebelum ada pandangan strukturalisme berdasarkan model linguistik, para antropolog selalu bermasalah dalam penelitian yang disebabkan oleh reliabilitas etnografi. Setidaknya, ada tiga faktor yang menyebabkan reliabilitas itu: perbedaan minat peneliti yang akhirnya menyebabkan perbedaan data, perbedaan metodologi dan penemuan titik permasalahan, serta perbedaan pendapat tentang sistem klasifikasi.

Maka dari itu, diusulkanlah istilah 'etik dan emik' yang diadopsi dari model linguistik. Dengan begitu, tiga  permasalahan yang menyebabkan reliabilitas etnografi itu dapat dipecahkan: antropolog memiliki metode yang serupa dalam meneliti suatu kebudayaan meskipun terkendala perbedaan pandangan dan minat. Tak hanya itu, analisis komponensial dalam model strukturalisme juga menuntut ilmuwan untuk mengevaluasi, bagian mana dari objek kebudayaan yang benar-benar berbeda dan tak memiliki padanan dengan latar belakang kebudayaan peneliti.

Perspektif antropologi kognitif pun berubah: kebudayaan adalah sistem pengetahuan yang terstruktur dari dalam pikiran. Ia tak hanya mewujud dalam tingkah laku atau produk kebudayaan populer. Ia menghimpun segala pemikiran, ide, gagasan, dan kumpulan persepsi. Setiap kebudayaan, memiliki pemikirannya tersendiri, karena dalam praktiknya, tak ada pemikiran yang sama bahkan dalam tingkat individu sekalipun.

Kritik Teori

Pandangan utama antropologi kognitif yang mengungkapkan bahwa kebudayaan adalah 'sistem pengetahuan' dikiritik habis-habisan oleh Clifford Geertz. Menurutnya, kebudayaan adalah sistem komunal, bukan individual sehingga ketika kebudayaan itu terwujud, itu merupakan gabungan dari berbagai individu. Boleh jadi kebudayaan memang ideasional: ia diwujudkan dari pemikiran, tapi pemikiran itu tidak hanya oleh satu pihak, melainkan dari berbagai pihak.

Selain pada dasar pemikirannya, antropologi kognitif juga mendapat kritik atas 'analisis komponensial'-nya yang bisa jadi tak terbatas. Nyatanya, setiap analisa memiliki batas, dan variabel yang disusun pun hanya terdiri dari beberapa poin. Output-nya, analisa komponensial akan menghasilkan pemahaman yang mendalam terhadap struktur kebudayaan.

Review

Artikel ini secara lengkap menjelaskan bagaimana Ward H. Goodenough membangun antropologi kognitif. Dalam perkembangannnya, antropologi kognitif turut serta dalam merekonstruksi beberapa paradigma, utamanya Etnosains dan Strukturalisme. Penggunaan model linguistik, etik dan emik, menjadi dasar dalam penelitian antropologis hingga saat ini. Sayangnya, artikel ini memiliki banyak kekurangan, salah satunya adalah pengulangan poin-poin di beberapa titik dan paragraf. Deskripsi terhadap antropologi kognitif memang membuat pembaca semakin yakin, tapi di sisi lain, pengulangan yang terus-menerus akan membuat pembaca bingung.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir