The Religion of Java - A Personal Review


Membaca Pendahuluan

Clifford Geertz adalah pengamat yang baik. Penggambarannya tentang keadaan alam dan geografis Mojokuto, sangatlah rinci dan alami, dengan potongan-potongan gambar yang langsung tersirat dalam pikiran ketika dibaca. Begitupula dengan keadaan sosialnya. Ia seolah-olah tinggal di sana, bangun pagi dan mengamati, lalu pulang kembali ke rumah induknya yang Abangan. Tak lupa pula ia ikut makan bersama mereka, satu lantai, dengan lauk yang sederhana. Clifford Geertz adalah "orang Mojokuto", tapi ia menulis kebudayaannya sendiri dengan lancar.

Abangan, santri, dan priyayi, adalah konsep-konsep yang tidak ia terjemahkan, melainkan ia sampaikan ala kadarnya.

Bagian Awal: Abangan

[Bab 1: Slametan - Pesta Komunal sebagai Upacara Inti] Slametan digambarkan dengan sangat rinci dan mendetail, sebagaimana masyarakat menyelenggarakannya berulangkali dalam jangka waktu tertentu. Laki-laki dan perempuan mendapat jatah kerjanya masing-masing, sekaligus menggambarkan bagaimana pembagian kerja masyarakat. Slametan dimaknai sebagai suatu yang semi-magis, sekaligus pseudo-ritual: ia dilaksanakan dengan setengah hati walaupun memiliki output yang jelas. Satu hal yang saya pertanyakan dari catatan awal buku ini: Clifford Geertz mengartikan slamet sebagai suatu ketenangan negatif, bagaimana bisa? Apa artinya?

Bagian Dua: Santri

[Bab 10: Santri Versus Abangan] Inti ajaran Islam -menurut Geertz- adalah rasionalisasi dan penyederhanaan ajaran agama sebelumnya. Meski Nabi Muhammad menyatakan bahwa ajarannya berasal dari langit (wahyu), arah minat keagamaannya tidaklah transendental melainkan berpaut kepada dunia nyata. Islam di Indonesia terputus dari ortodoksinya di Mekah, menumbuhkan tradisi Islam baru di lingkungan tropis Nusantara. Santri muncul sebagai pemeluk Islam praktikal yang murni, meninggalkan segala bentuk takhayul. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa para santri ini kemudian beradaptasi dengan kelompok abangan dan menunjukkan hidup yang berdampingan. Islam adalah sebuah agama yang unik, eksklusif, dan universalis, yang menuntut penyerahan total kepada tuhan yang jauh dan mengabdi kepada suatu perjuangan abadi melawanb mereka yang tidak percaya. Di mojokuto, perkembangan ini juga terjadi, di mana para santri berjumlah sepertiga dari total penduduk dan hidup secara terpisah. Kalangan abangan tidak peduli pada doktrin keagamaan, tapi lebih peduli pada detail keupacaraan. Sedangkan kalangan santri lebih perhatian terhadap doktrin Islam. Organisasi sosial kalangan abangan berpusat pada keluarga, sedangkan kaum santri

Bagian Tiga: Priyayi

[Bab 17: Latar Belakang, Dimensi Umum Kepercayaan, dan Etiket Umum Priyayi] Priyayi adalah bagian ketiga dari suku Jawa. Bukan berarti ia kelompok agama yang berbeda: priyayi berada dalam tataran keagamaan yang masih sama. Titik yang membedakan antara priyayi dan santri serta abangan, adalah posisi strukturalnya dalam masyarakat. Ia berada di level yang lebih tinggi, dengan penguasaan khusus pada kekayaan dan pengaruh sosial. Priyayi secara kultural dianggap sebagai keturunan raja, hingga mendapat perlakuan istimewa yang berbeda.

Dalam ritual keagamaan, priyayi menganut iman animisme yang sama dengan abangan, hanya saja dilaksanakan dengan lebih berkelas dan lebih mewah. Di masa pasca-kolonialisme, strata priyayi sangatlah penting dan berpengaruh. Hal itu ditunjukkan dengan pergaulan antar sesama yang eksklusif dan kebarat-baratan, seolah-olah budaya yang diadopsi itu lebih mulia nilaimya. Meski begitu, hal itu tidak menyurutkan relasi mereka dengan kelompok lain seperti santri atau abangan.

Membaca Penutup: Konflik dan Integrasi

Geertz menyatakan bahwa Mojokuto yang ditelitinya, merupakan masyarakat yang dinamis. Meskipun terbagi dalam tiga kelompok sosial yang berdasarkan pada struktur-religi, ketiganya masih berinteraksi dengan cukup nyaman dan berimbang. Kata 'berimbang' merujuk pada kondisi di mana keseimbangan sosial terdiri dari kedamaian dan konflik-konflik laten yang menguntungkan. Konflik-konflik itu dijaga, dengan maksud memberikan batasan-batasan yang tepat antara ketiganya.

Setidaknya ada tiga poin konflik yang secara lazim terjadi: konflik ideologis antara abangan dengan santri, konflik kelas atau strata sosial antara abangan dengan priyayi, dan konflik politis yang mungkin saja terjadi antara ketiganya -karena Geertz tidak menjabarkan secara mendetail siapa yang bertarung di ranah ini. Dengan adanya tiga poin konflik itu, masyarakat Mojokuto sebagai miniatur Jawa, melanggengkan konflik antar-kelompok masyarakat.

Tapi bukan berarti tidak ada integrasi. Sebagai manusia, masyarakat Jawa juga mengenal integrasi agar tidak terjadi perpecahan secara nyata. Hal itu dilandasi dengan ajaran moral agama, warisan budaya tradisional, ide nasionalisme yang mulai berkembang, dan perayaan hari besar. Poin-poin integrasi ini-lah yang kemudian mencoba membantu masyarakat agar terjadi perpecahan.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir