The Death of Expertise (2017): Membaca Kemarahan Orang Pintar


Judul Buku: The Death of Expertise
Penulis: Tom Nichols
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan, Tahun: Ketiga, Mei 2019
Tebal: 293 hal + xviii
Harga: lupa, pokoknya lumayan mahal

Dengan cover yang begitu sederhana -terdiri atas empat warna- dan judul yang simpel, buku ini menarik perhatian saya yang sedang mencari-cari buku untuk dibeli di hari ulang tahun. Bulan Juli lalu, saya mengangkut buku ini dari Gramedia, lalu memutuskan untuk membacanya di bulan Sepetember ini. Hari ini, The Death of Expertise tamat saya baca, dan mungkin akan ada sedikit komentar tentangnya.

Biografi Penulis

Tom Nichols tidak banyak memberikan biografinya dalam buku ini, selain fakta bahwa beliau adalah seorang dosen yang juga sempat menjadi penasihat senator. Studi yang beliau tekuni adalah politik Rusia. Dengan keterbatasan itulah, saya harus mencari lagi biografinya melalui laman Wikipedia:

"Tom Nichols (lahir 7 Desember 1960) adalah seorang spesialis akademis untuk urusan internasional, saat ini menjadi profesor di Akademi Perang Angkatan Laut AS dan di Harvard Extension School. Karyanya membahas masalah-masalah yang melibatkan Rusia, senjata nuklir, dan urusan keamanan nasional. Dia sebelumnya adalah seorang rekan di Pusat Studi Strategis dan Internasional, Dewan Carnegie untuk Etika dalam Hubungan Internasional, dan Sekolah Pemerintahan John F. Kennedy di Universitas Harvard.
Buku terbarunya adalah The Death of Expertise (Oxford University Press, 2017), sebuah studi tentang mengapa orang tidak mempercayai pengetahuan yang mapan dan bagaimana hal ini merusak stabilitas demokrasi."

Kegeraman Nichols yang Tertahan

Salah satu hal yang saya soroti dari tulisan Nichols adalah bagaimana ia punya kemarahan untuk segala hal yang berkaitan dengan faktor-faktor yang membuat masyarakat tidak lagi percaya pada pakar. Saya dengan sengaja melewatkan bagian definisi pakar, dan lain sebagainya yang menjadi dasar dan pendahuluan, karena memang perihal kegeraman inilah yang menarik. Lihatlah pada setiap bab yang membahas hal itu: pendidikan tinggi yang semakin menjamur, jurnalistik memihak konsumen, internet menjadi ladang sampah (iya, ladang sampah: tempat di mana sampah dapat ditanam dan berbuah) dan saat-saat di mana pakar salah.

Nichols tidak geram pada masyarakat secara umum: ia geram pada gejala-nya. Masyarakat tidak lagi memandang pakar itu penting, mereka adalah kelompok elit pendidikan yang berkongsi dengan pejabat dan jutawan. Pakar memberikan nasihat, saran, dan rekomendasi yang menyesatkan: beberapa kali hal itu terjadi, dan dampaknya sangat-sangat merugikan (Anda tidak akan pernah melihat saya menulis kata 'sangat' dua kali kecuali dalam tulisan ini). Jutaan nyawa menjadi korban dan pejabat melakukan judi atas kebijakan publik. Peran pakar menyusut, mencapai tahap dimana tidak lagi menjadi referensi.

Secara pribadi, saya merasakan itu. Setiap kalimat yang ditulis Nichols adalah kemarahan. Tapi, karena ia tertahan, ia hanya menjadi sebuah kegeraman.

Benarkah?

Benarkah masyarakat tidak lagi memercayai para pakar? Benarkah masyarakat lebih mempercayai internet sebagai sumber informasi (utama)? Benarkah pendidikan tinggi membuat mahasiswa semakin merasa memiliki legitimasi untuk memperdebatkan pengetahuan dengan para pakar? Benarkah jurnalisme gaya baru (dan serampangan) mereduksi pengetahuan publik? Nichols memaparkan setiap permasalahan berdasarkan pengalaman pribadinya terhadap budaya Amerika terkini dengan bukti-bukti yang mendalam, lalu mengkritisinya. Sejauh yang saya pahami, ia berhasil menjabarkan setiap masalahnya.

Buku ini berawal dari sebuah artikel sederhana yang intinya sama. Mendapat banyak feedback, ide tentang 'matinya kepakaran' pun mendapat dukungan luas di berbagai pihak: dokter, dosen, penasihat publik, dan ahli dari berbagai bidang. Dan dengan diterbitkannya buku ini, semoga kebodohan publik yang berupa 'ketidakpercayaan kepada para pakar' tidak lagi semakin meluas dan mengakibatkan hal yang ditakuti seorang Tom Nichols: menghancurkan demokrasi.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir