The Boys (2019): Worse than Brighburn!
Sudah lama saya tidak menonton film, apalagi mereviewnya.
Jika diingat-ingat, review film terakhir yang saya tulis adalah Friend Zone (2019), tepat pada 17 Agustus lalu, yang memang sudah lama saya nanti-nanti kehadirannya di situs film bajakan. Dengan premis yang sangat sederhana, film itu mengisahkan rumitnya hubungan asmara berkedok pertemanan. Premis yang terlalu sederhana itu dibungkus dengan komedi yang pas, kisah yang padat, dan karakter yang menonjol. Intinya, film ini bagus sekali.
Setelah itu, saya beberapa kali mencoba menonton film, tapi selalu berhenti di tengah karena bosan.
Tak lama kemudian, saya ingat dengan The Boys. Sebuah mini-series yang salah satu perannya dilakukan oleh Karl Urban. Saya mengetahuinya di SDCC lalu, waktu di mana orang-orang lebih memerhatikan marathon terbaru fil Marvel. Saya kemudian mencarinya, dan tersedia secara lengkap di situs film bajakan favorit saya.
Cerita
The Boys dimulai dengan kisah tragis seorang Hugh Campbell a k a Hughie (Jack Quaid) yang sudah berjanji akan hidup serumah dengan Robin, kekasihnya. Di detik-detik kemesraan mereka, datanglah A-Train (Jessie Usher), superhuman dengan kecepatan di luar batas manusia biasa, menembus kekasihnya hingga hancur lebur. Bukan tak bersisa: Hughie masih memegang kedua tangan kekasihnya. Dan Superhuman itu pergi. Tanpa meminta maaf.
Tak heran. Dunia tempat kisah ini dimulai, adalah dunia super. Memang tidak semua orang memiliki kekuatan atau kemampuan ajaib. Tapi, dunia mereka punya The Seven: sekumpulan superhero yang dinaungi Vought. Sesuai namanya, mereka semua bertujuh, dan anggota yang terkahir masuk, Starlight (Annie January), adalah salah satu tokoh kunci.
Terkuat di antara mereka, dengan bendera Amerika di punggung: Homelander (Antony Starr). Ksatria wanita yang tangguh dan lesbian: Queen Maeve (Dominique McElligott). Penyelam tangguh yang juga dapat berkomunikasi dengan makhluk laut: The Deep (Cahce Crawford). Ahli mimikri dan pengintip: Translucent (Alex Hassel). Sang pelari dan manusia tercepat di dunia: A-Train. Tentara khusus dan misterius: Black Noir (Nathan Mitchell).
Mereka semua adalah punggawa The Seven, dan selalu beraksi menyelamatkan jiwa manusia. Sayangnya, mereka adalah pegawai perusahaan sehingga tindak-tanduk mereka harus menguntungkan. Jika pekerjaan mereka tak menguntungkan secara finansial dan relasi perusahaan, mereka tak perlu beraksi. Dan ini mempertaruhkan nyawa.
Masyarakat mana yang tak bangga memiliki pelindung setia? Masyarakat macam apa yang tak bereuforia dengan adanya orang-orang yang menjamin keselamatan mereka? Tidak ada. Amerika adalah negara dengan budaya one-man Hero. The Seven adalah representasi Amerika yang lebih berani memberikan tanggung jawab kepada orang lain. Meskipun swasta dan tidak berada di bawah kendali negara atau masyarakat, The Seven tetap diterima.
Kecuali oleh satu orang.
Dia memperkenalkan diri sebagai Billy Butcher (Karl Urban), lelaki misterius dengan janggut lebat memenuhi dagunya. Ia datang dengan penuh kepercayaan diri dan tanpa basa-basi menawarkan pemabalasan dendam kepada The Seven. Pada mulanya, Hughie tak percaya. Tapi sedikit demi sedikit, Billy mampu meyakinkan lelaki canggung itu untuk ikut beraksi. Misi pertama, dimulai dengan menyusup ke gedung Vought, markas mereka. Tampak seperti tindakan bunuh diri. Dan memang.
Mereka memang berniat mengorbankan diri.
Parodi
The Boys sendiri, adalah adaptasi dari komik berjudul sama yang menjadi parodi dari karakter-karakter DC Comic. Ditulis oleh Garith Ennis dan Darick Robertson, The Boys menyajikan suatu anti-tesis dari perfilman masa kini: rumah produksi berlomba-lomba menciptakan superhero dan membangun dunia tersendiri. Dimulai dari Marvel, dan diekor oleh DC, cinematic universe menjadi tren belakangan. Dan layaknya gula, semakin banyak semut rumah produksi yang ikut.
The Boys yang tampil di Amazon, mengambil langkah yang berbeda. Mereka menyajikan negativisme: bagaimana jika superhero itu jahat? Bagaimana kalau mereka tidak independen, tapi berada dalam suatu perusahaan? Bagaimana jika... superhero adalah kepalsuan? Ia adalah konsep yang tak nyata, dan hanyalah ilusi bagi kerumunan yang berteriak kencang. Sewaktu-waktu mereka dapat beralih menjadi jahat, lalu tetiba saja membunuh manusia tanpa rasa sesal. Hal itu bukannya tidak mungkin bukan?
Kejanggalan dan Kejanggalan
Satu-satunya hal yang tidak saya pahami dari alur cerita The Boys, adalah bagaimana mereka mengisahkan The Deep yang dipindahkan ke kota kecil dengan tingkat kriminalitas sama kecilnya. setelah perbuatannya melecehkan Starlight di hari pertama superhero perempuan itu bekerja diungkap ke muka publik. Ia telah meminta maaf, tapi Vought tetap mentransfernya, dengan alibi jika sudah waktunya ia akan kembali. Tapi nyatanya tidak.
Ia tidak akan pernah kembali.
Madelyn Stillwell (Elisabeth Sue), manajer tertinggi Vought dibunuh. Kebohongannya kepada Homelander tentang istri Billy yang hamil anak super membuat Homelander marah. Kebenaran yang baru saja terungkap itu membuat semuanya berada dalam keadaan sulit. The Boys kehilangan pijakan, mereka kehilangan sosok pemimpin. The Boys, sekali lagi, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dalam kekosongan.
Ditunggu season 2-nya!


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?