Terimakasih untuk Malam Minggu yang Memberiku Patah Hati Terdalam


Untuk kesekian kalinya, saya didapuk menjadi MC dalam kegiatan UKM. Karir saya sebenarnya dimulai dari sebuah ceramah di Masjid Raden Patah, di mana saya menjadi moderator menemani seorang kyai besar. Dari situ, saya mulai ditawari untuk menjadi MC: kegiatan muhadhoroh, bonding, first gathering kepanitiaan, dan harlah. Kegiatan yang saya sebut terakhir, adalah pengalaman terbaru saya yang kemudian menjadi titik di mana saya berpikir kembali.

Apa yang saya pikirkan? Tidak tahu. Intinya, saya merasa down. Saya merasa minder. Ini memang bukan pertama kalinya, tapi... kenapa kali ini terasa lebih sakit?

Di sela-sela acara, saya duduk di bawah pohon, di samping sebidang lapangan yang menjadi tempat kami menggelar Harlah. Dari situ, saya melihat satu demi satu teman mengisi acara. Mereka menampilkan kemampuan, kelebihan, dan -sebagaimana mata saya melihat- kesuksesan masing-masing. Tapi saya? Lagi-lagi rasa sakit itu menyerang. seolah-olah menusuk sangat dalam. Saya akhirnya tahu kenapa. Dan sepertinya jawaban itu ada di depan mata.

Saya tidak bisa apa-apa.

Itulah yang saya pikirkan. Apalagi, saya memikirkannya sembari membandingkan diri saya, dengan seorang teman yang -dengan memukaunya- memberikan penampilan luar biasa. Dan lagi-lagi saya bertanya dalam hati: apa yang bisa saya lakukan? Pembawaan saya ketika menjadi MC tidak terlalu bagus, hafalan qur'an tidak terlalu lancar, dan... karya tulis saya biasa saja. Lalu saya bisa apa? Apa benar saya memang serendah ini?

Rasa down itu, sebagaimana selama ini terjadi, bertahan lama. Hingga ahad siang, rasa sakit itu merasuk kembali. Tepatnya, ketika saya mendengarkan Skylar Grey menyanyikan Love The Way You Lie versi solo. Lagu itu menusuk, maknanya menggenggam jantung saya sedemikian kuatnya. Kalau saja ada orang yang membaca ini lalu berkata saya lebay: anda tidak tahu rasanya. Saat ini saya benar-benar minder, berharap tidak bertemu lagi dengan teman yang membuat saya membandingkan diri dengannya.

*****

Sore ini, saya memutuskan pulang dengan berjalan kaki. Meskipun secara fisik saya sangat capek, saya berharap bisa pulang memesan ojek online. Tapi sayang, saya terlalu malas mengeluarkan uang. Dompet sudah tertimbun dalam-dalam, mungkin di bawah leptop atau chargernya. Saya mulai pulang dengan berjalan kaki, dengan jaket hitam yang sebenarnya membuat gerah.

Musik yang saya setel akhir-akhir ini, adalah lagu-lagu lama Eminem, seperti Mockingbird, Beutiful, Beautiful Pain, dan lain-lainnya. Tapi playlist itu tidak menambah semangat saya. Saya mengambil hape dari dalam sarung, menggantinya dengan Take Me Home, John Denver.

Hati saya mulai tenang.

Musik tidak benar-benar membuat permasalahan manusia selesai, saya tahu itu. Pengaruh musik sebenarnya sama dengan rokok atau narkoba yang mampu membuat kita merasa rileks, tapi dengan efek yang tidak terlalu buruk. Oleh karena itulah, terkadang musik menjadi pelarian saya yang terus-menerus: karena memang tidak ada tempat lain yang dapat menjadi pelampiasan kemarahan dalam hati. Dalam kasus patah hati ini, yang kemudian membuat saya malas beraktifitas, musik menjadi kunci.

*****

Terimakasih untuk dua-tiga hari yang membosankan ini. Terimakasih untuk weekend yang membuat saya nge-down dan tidak bersemangat lagi. Semoga ada jalan lain yang bisa membangkitkan hari-hari saya seperti biasanya.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir