Semangat yang Menurun dan Alasan Kenapa Saya Belum Berhenti


Akhir-akhir ini, semangat menulis saya mulai menurun. Entah kenapa, saya tidak tahu. Beberapa alasan mungkin bisa saya sebutkan, seperti tidak adanya pengalaman berarti, atau sibuknya kegiatan selain 'tugas menulis' dari matkul, dan lain sebagainya. Yang saya sebut terakhir benar adanya, karena memang minggu ini saja, hanya ada satu tugas review. Tapi ada tugas penelitian yang dikumpulkan di hari Kamis, minimal lima halaman. Tapi tetap saja, semua alasan itu tidak seharusnya membuat saya berhenti menulis.

Ada banyak kegiatan di hari kemarin, Sabtu 21 September, seperti rapat besar kepanitiaan yang dimulai pukul setengah delapan, lalu siangnya saya melakukan rapat divisi dengan kating fakultas, sekaligus SC saya di divisi. Sorenya, saya mempersiapkan acara dengan terburu-buru, karena tidak banya panitia yang bersedia datang. Malamnya, acara first gathering anggota pembinaan UKM dimulai dan lagi-lagi saya menjadi MC. Untuk ini, saya mendapuk diri, bukan ditunjuk.

Di berbagai acara yang demikian padatnya itu, saya bukan tak mau menuliskannya, tapi karena memang tidak ada sisi emosional yang dapat saya tulis. Misal, pada malam minggu dua pekan yang lalu, saya menulis tentang betapa sakit hatinya saya pada acara itu. Atau bagaimana saya merasa sangat lelah di malam minggu yang lalu. Kalau dilihat-lihat, sepertinya akhir pekan memang waktu yang melelahkan, karena di situlah puncak berbagai kegiatan.

Bagi saya pribadi, akhir pekan tanpa liburan memang sudah terasa biasa. Sejak semester dua berkuliah di antropologi, saya memulai rutinitas hidup semacam itu: bagaimana semua matkul selalu memiliki tugas yang harus dikerjakan di rumah, entah itu review, penelitian berskala kecil, dan lain-lain. Akhirnya, saya harus merelakan waktu akhir pekan dengan berkutat pada tugas. Mungkin terasa melelahkan, tapi ada gantinya: hari-hari perkuliahan saya santai tanpa beban yang berlebihan.

*****

Sebenarnya ada satu pembicaraan menarik tadi malam, yang kemudian baru saya ingat pagi ini. Yaitu tentang bagaimana saya tidak ingin menjadi pengurus UKM, meskipun kesempatan itu ada di depan mata.

Secara struktural, posisi saya dalam UKM berada di paling bawah: saya tidak punya banyak kewajiban selain piket di hari Rabu dan mengikuti pembinaan setiap hari. Okelah, pembinaan itu memang tidak berjalan mulus, apalagi saat ini saya sudah berada di Rumah Tahfidz, jadi saya tidak perlu lagi memiliki keharusan untuk ikut pembinaan Hifdzil Qur'an. Sejujurnya, ada berbagai alasan yang bisa saya gunakan untuk pergi dari UKM. Toh, sudah banyak contoh teman-teman lain yang hanya mendaftar, ikut Diklat, lalu tidak lanjut di pembinaan. Banyak.

Tapi sayang, saya tidak bisa. Saya selalu menyempatkan diri datang ke UKM, sekedar menunggu kelas selanjutnya, atau mengerjakan banyak hal sia-sia. Saya datang ke UKM tanpa alasan yang jelas, lalu kemudian tidur ketika benar-benar tidak ada kerjaan. Beberapa teman menyebut UKM sebagai kos kedua saya, dan rasanya memang benar: saya lebih sering ke UKM daripada ke fakultas. Di fakultas sendiri, saya tidak banyak mengenal orang. Di UKM, saya hampir mengenal semuanya.

Lalu, apa yang membuat saya tetap bertahan, meski tanpa tujuan. Seorangkating berbicara kepada saya tentang hal itu, dan membuat saya berkata: karena saya merasa nyaman. Saya merasa senang berada di lingkungan santri, di mana kami memiliki kemiripan budaya karena rata-rata berasal dari kultur pondok pesantren. Saya merasa senang bertemu dengan orang-orangnya, yang mungkin awalnya menganggap saya anak salaf, kemudian berbaur dengan 'rerata' anak NU.

Saya tidak pernah bermasalah dengan ideologi. Dua pondok yang menjadi tempat saya menuntut ilmu memiliki madzhab yang sama: Di atas dan untuk semua golongan. Islam yang saya anut tidak pernah mempermasalahkan perbedaan ideologi, selain kemudian kelompok-kelompok yang dituding sesat dan semacamnya (yang kemudian ketika kuliah antropologi saya pelajari kembali benarkah mereka sesat?) Jadi, ketika beberapa anak UKM (yang terafiliasi dengan NU tentunya) mengolok-olok salafi, saya tidak bermasalah.

Lalu, kenapa saya tidak ingin menjadi pengurus? Angkatan 2016 yang kini menjabat struktural tertinggi akan menyerahkan kepemimpinan akhir tahun, dan angkatan 2018 (yaitu saya dan kawan-kawan lain) berkesempatan untuk mendaftar menjadi pengurus UKM selanjutnya. Meski begitu saya tidak mau. Kating saya bertanya, "Kenapa?"

Sederhana saja: saya tidak mau terikat secara struktural. Saya tidak ingin memiliki kewajiban-kewajiban yang kemungkinan akan menyusahkan saya. Selama ini, saya membantu UKM sebisa saya, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan acara. Maka, itulah bentuk kontribusi saya. Itu adalah ganti yang saya berikan atas kenyamanan yang tersedia. Saya tidak mau sesumbar, kalau saya banyak berkontribusi atau semacamnya, tapi saya sudah memberikan segenap kemampuan saya. Begitu pula waktu dan lain sebagainya.

Menjadi pengurus adalah hal bagus. Tapi saya bukan tipe orang yang berambisi dengan jabatan. Saya lebih berambisi meraih prestasi. Dan kalau ada orang yang menganggap bahwa menjadi pengurus atau mengetuai sebuah UKM besar adalah prestasi, tentu saja pandangan atau anggapan semacam itu bersebarangan dengan saya. Ibarat perang dunia, saya lebih mengagumi tentara yang banyak membunuh atau panglima dengan strategi terbaik, daripada seorang pemimpin negara yang kebingungan menghadapi nasehat dari berbagai sisi sedangkan ia tidak terjun langsung menembak musuh.

*****

Baru saja, seorang kating yang menjadi Kabid Pembinaan Hifdzil Qur'an di UKM meminta saya untuk membantunya menyimak anggota baru. Beliau menge-chat saya ketika bermain game, dan pesannya baru masuk ketika saya iseng melihat notifikasi. Untuk itu, saya menolaknya. Mungkin saya masih punya beribu alasan lain untuk menjadi pengurus, tapi dalam hal ini, saya tidak punya alasan. Saya hanya menjawab dengan pesan-pesan yang lebih singkat. Intinya, saya menolak.

*****

Akhirnya, setelah sekian lama, keinginan saya untuk CFD akhirnya kesampaian juga. Dengan mengajak seorang senior asrama, saya pergi pukul delapan kurang seperempat. Sampai di sana, kami parkir agak jauh dari Simpang Balapan, yang kemudian memaksa kami berjalan kaki agak lama.

Jalan Ijen masih seperti biasa: mewah dengan segala kesunyiannya. Beratus orang bergerombol: ada yang senam di depan Richeese, ada kompetisi yel-yel antara pemuda Arema, dan pejalan kaki biasa di sepanjang ruas jalan. Terakhir kali saya CFD, adalah semester lalu, entah dengan siapa. Dan sejak saat itu, saya merasa CFD kali ini lebih ramai. Malang kedatangan orang-orang baru setiap tahun, dan orang-orang lama tidak beranjak pergi. Efek samping urbanisasi macam inilah yang menyebabkan Malang terasa sesak.

Tanpa tujuan tertentu, kami berdua berjalan layaknya warga kota yang lain, memperhatikan aktivitas pagi yang tidak biasa di setiap minggu: penggalangan dana, penjualan tiket acara, berkumpulnya pecinta satwa (ada anjing dan iguana di sana), dan pedagang-pedagang kaki lima yang memenuhi Wilis serta sekitarnya. Saya sebenarnya punya tujuan khusus, tapi karena tidak terlalu penting, bisa saja ditunda. Kalau ketemu yang bagus, barulah membeli. Apa itu?

Gelang.

Pergelangan tangan kiri saya kosong semenjak gelang coklat berbettuk kayu bambu yang saya beli di Dalwa hilang. Tentu saja saya merasa sangat kehilangan. Gelang itu telah banyak menemani hari-hari saya, sejak sebelum masuk UB, hingga saat ini menginjak semester tiga. Dulu, saya membelinya ketika masa-masa pesantren kilat, dengan pengkhususan di bahasa Arab. Istilahnya, takhassus bahasa Arab. Meski tidak membuat saya sampai menangis, gelang itu sangat berarti. Saya telah memasukkannya ke dalam berbegai cerita. Intinya, gelang itu spesial.

Sayangnya, saya tidak melihat ada gelang yang cocok. Dompet saya hanya mengeluarkan 15 ribu rupiah, untuk segelas jagung manis dan empat botok. Saya membawa botok itu untuk dibawa pulang, lalu saya jadikan lauk tambahan. Di mana lagi saya dapat menemukan botok selain di sini? Warung-warung sekitar UB yang selalu jadi langganan saya tidak menyediakan.

Kami pulang manakala jalan Idjen sudah dibuka untuk kendaraan bermotor. Jam di ponsel menunjukkan pukul 9.26, tepat beberapa menit sebelum setengah sepuluh. STNK motor senior saya sempat diperiksa, yang kemudian membuat kami agak terhambat. Kami pulang dengan selamat, melewati gang-gang kecil menuju jalan Sigura-Gura.

*****

Terimakasih untuk motivasinya. Setiap pembaca adalah penikmat, maka mohon dinikmati saja. Saya hanya bisa menulis ala kadarnya.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir