Sedikit Kisah tentang Hari Ini


Sebagaimana hari-hari lain, Selasa ini tidak terlalu spesial. Tidak banyak  memang, momentum baik yang bisa dibuat. Tapi, saya akan selalu mengingat kebaikan: dari orang yang tidak saya kenal, ataupun teman-teman saya sendiri. Menulis, adalah salah satu cara saya menulis pengalaman-pengalaman baik itu.

*****

Saya akhirnya danusan sendiri. Kating yang seharusnya mengerjakan proyek ini sedang ada acara dan sebagai gantinya, saya mengurus hampir semua hal: mengambil tiga kotak gorengan, membayarnya, lalu memberinya nama dan menyebarkannya lagi di tiga titik. Dua titik sebelumnya, sudah terbukti keuntungannya. Kotak terakhir, lagi-lagi diletakkan di pintu masuk Gedung UKM. Dua minggu yang lalu, titik ini tidak laku sama sekali. Dan saya secara sengaja mengulang kesalahan yang sama.

Dan hasilnya, semuanya tidak laku. Dari modal 50 ribu, hanya ada 29 ribu yang kembali ke kantong. Itu bahkan tidak sampai balik modal! Saya mengelus dada, meskipun merasa sangat sedih di dalam hati. Saya sadar tidak berbakat dalam hal berdagang, dan sepertinya, kesadaran saya memuncak. Apakah saya akan melanjutkan hal ini, saya tidak tahu. Intinya, saya akan lebih sadar ke depannya. Mungkin saya akan memulainya dengan merambah titik-titik baru. Tunggu saja.

Itu urusan danus.

Di UKM, saya berkesempatan untuk mengajak seorang kating berdiskusi. Ini kesempatan yang sangat langka. Tentu saja, tidak banyak orang yang bisa diajak bicara tentang perkuliahan, apalagi keilmuan. Kating itu mengambil studi Ekonomi Islam dan telah memasuki masa-masa akhir. Saya mengajaknya berdiskusi terkait mitos barter, suatu topik mengguncangkan yang harus saya pelajari di mata kuliah Sistem Ekonomi dan Kebudayaan. Intinya, ini mata kuliah antropologi ekonomi. Hanya berganti nama saja.

Tak hanya itu, beliau juga sempat mengoreksi tulisan saya walau setengah. Sebelum akhirnya saya harus pergi untuk bertemu dengan orang tua saya. Diantar dengan - lagi-lagi - kebaikan seorang kating.

"Makasih banyak, Mbak Ana udah mau nganterin. Kalau minta traktir Mie Gacoan, jangan ke saya ya, saya miskin. Gak bisa makan di tempat mahal. Hehe."

Selain dua hal itu, saya juga ikut andil dalam video UKM yang rencananya akan dipadukan dengan UKM-UKM lain se-UB. Take video itu dilakukan siang hari tadi, selepas duhur. Tidak banyak kesenangan yang didapatkan, tapi setidaknya ada hal-hal yang menyenangkan terjadi dalam kehidupan kita.

*****

Kisah terakhir, tidak terlalu baik.

Driver Grab yang mengantar saya kembali ke asrama, mendadak kembali. Ia menagatkan bahwa saya membawa helmnya. Saya kaget. Tentu saja tidak. Untuk apa saya membawa helm driver kalau saya tidak punya motor atau tidak bisa naik motor?

Lelaki itu bersikeras. Ia dengan wajah yang meragukan tetap berkata bahwa ia tidak menerima helmnya. Bagaimana mungkin? Sebelum membayar cash, saya selalu melepas helm terlebih dahulu. Lagipula, ketika saya memesan jasanya, saya memakai earphone, dan ketika saya melepas helm, earphone itu terlepas dari telinga. Saya dengan jelas mengingatnya. Tapi lelaki ini tetap pada argumennya: ia tidak menerima helmnya dan masih pada saya.

Saya berpikir kembali: kalau memang helmnya belum saya kembalikan, kenapa dia pergi begitu saja, dan baru kembali setelah beberapa menit? Kenapa dia kembali ketika saya sudah melepas sepatu, naik ke lantai dua, masuk ke kamar, tidur-tiduran, scrolling timeline, dan melakukan berbagai hal lainnya? Kenapa ia tidak meminta dari awal, sebelum pergi?

Saya mencoba meyakinkannya kembali, dan akhirnya, setelah beberapa kali mengeluarkan argumentasi, driver itu menerima kenyataan. Saya memang tidak menyimpan helmnya. Dia pun pergi dengan kepasrahan hati. dan setelah dipikir-pikir kembali sembari saya menulis ini;

Apakah dia berniat menipu saya?

Bisa jadi. Kemungkinan itu selalu ada. Dan saya dianggapnya sebagai pelanggan bodoh yang selama berkendara tidak memperhatikan apa pun karena kecapekan. Bisa jadi. Tapi, kalau benar begitu, caranya memeras saya sama sekali tidak bagus. Ia tampak pemula kalau kemungkinan itu benar-benar nyata.

*****

Saya benar-benar capek ketika menulis ini. Tapi saya bukan orang lemah. Saya masih bisa menahannya. Secangkir milo di sisi kanan meja, dan musik dari Youtube. Itu formula yang saya gunakan agar bisa bertahan. Dan karena kisah hari ini tidak terlalu banyak, saya akan memberi foto yang bagus untuk pembukaan.

Sekamat Menikmati. Selamat Pagi.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir