Perjalanan, Sarapan, dan Larangan
Setelah dua hari tidak menulis, ada baiknya hari ini saya mulai menulis kembali.
Akhir-akhir ini, saya sibuk dengan tugas. Mata kuliah pengantar antropologi terapan, yang oleh Pak Hipo kami disuruh penelitian, membuat saya harus melakukan wawancara mendalam kepada orang-orang terdekat saya. Sejauh ini, sudah empat orang yang berhasil saya wawancarai, meskipun tidak semuanya berhasil memberikan fakta-fakta baru atau poin tertentu. Nanti malam, tugas ini akan dikumpulkan. Esok pagi, kelas Pak Hipo akan dimulai lagi.
Hal yang ingin saya tulis adalah tentang perjalanan. Bukan. Ini bukan bagaimana saya melakukan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain secara harfiah. Ini juga bukan tentang bagaimana saya pergi berlibur ke suatu tempat yang mahal nan eksotis. Bukan. Saya ingin bercerita tentang jalan kaki dan bagaimana ia membantu saya dalam menyusun tugas perkuliahan.
Setelah kemarin mendapat dua informan sekaligus -saya kesulitan mencari informan yang tepat- saya sangat bergembira hingga sangat lancar dalam menulis catatan lapangan. Hasil dari dua wawancara tersebut langsung saya tulis, tapi belum dapat saya olah. Kenapa? Karena saya tidak tahu, poin-poin apa saja yang dapat saya susun dalam bab pembahasan. Maka, ketika ada undangan untuk melakukan rapat di kampus padahal saya sudah kembali ke asrama, saya memutuskan untuk tidak membawa sepeda. Saya akan berangkat naik grab, lalu pulang dengan jalan kaki.
Andai pembaca tahu: ketika saya sudah memutuskan untuk memikirkan tugas, maka akan sangat sulit menghilangkan pikiran tugas itu dari konsentrasi saya. Artinya, ketika rapat, saya benar-benar tidak berkonsentrasi. Saya memasang musik di telinga kanan dengan volume yang rendah, sembari mendengarkan anggota divisi acara menjelaskan panjang lebar apa saja hasil rapat. Tidak ada informasi baru, karena sebelumnya sudah pernah saya dengar. Saya pun memutuskan untuk pulang mendahului teman-teman yang masih sibuk (atau hobi?) rapat.
Sepanjang perjalanan, melalui gerbang Fapet, Kertoleksono, UIN, dan Jl. Sunan Kalijaga, saya menyusun teks makalah saya. Ini benar-benar terjadi. Sebelumnya, saya hanya bisa menyusun dalam otak, bagaimana gambaran umum saya akan menulis. Tapi kali ini tidak. Saya menyusun poin-poin pembahasan saya sepanjang perjalanan. Sepinya jalanan di jam sembilan membuat saya semakin leluasa: saya seolah-olah sedang berbicara sendiri, sambil mempresentasikan makalah yang saya tulis. Dan ketika kaki saya sudah mencapai kamar, lalu membuka laptop, saya sudah tahu apa yang akan saya tulis.
Tugas itu saya kerjakan hingga tengah malam. Ditemani kopi buatan sendiri yang akhirnya emmbuat saya sakit perut dan tidak bisa tidur. Biasanya, saya tertidur di tengah-tengah pengerjaan tugas, atau di tengah-tengah proses menulis, lalu terbangun dengan laptop dalam keadaan sleep. Tapi kemarin malam saya masih sempat mematikan laptop, lalu memaksakan diri untuk tidur. Mata saya baru terpejam sekitar pukul satu malam. Esoknya, karena terlalu mengantuk, saya tidak setoran.
*****
Selepas setoran pagi -ya, saya tidak setoran tapi tidur, saya kembali ke kamar untuk membuka laptop, lalu memeriksa pekerjaan semalam. Kelas dimulai agak siang, tapi saya menunggu panggilan kating yang ingin mengajak saya mencuci karpet UKM (pada akhirnya, kating itu tidak memanggil saya tapi tetap marah). Ketika jam memunjukkan pukul tujuh, saya merasakan lapar yang luar biasa. Padahal, malam sebelumnya saya masih sempat makan nasi goreng di Panjaitan (tepat sebelum saya datang terlambat ke rapat).
Saya pun akhirnya mengupdate story di IG, menunjukkan bahwa saya merasa lapar, tapi malas beli karena di sekitar asrama semua makanan terasa mahal. Tak lama, ada balasan di story, dari seorang kating, "Ayo ke Qonaah."
Saya masih sempat menjawab. "Di mana Qonaah?"
"Soto belakang UIN."
"Oh, yang rame sama anak UIN itu, ya?"
"Iya."
"Jemput."
"Oke. Tunggu 15 menit-an."
Saya pun bersiap-siap, sekaligus berangkat kelas pagi karena akan dimulai pukul 8.50, dan saya memutuskan untuk tidak mandi pagi ini. Tak lama kemudian, kating (ya Allah, gak enak nulis kating terus-terusan. Sebenarnya saya pengin ganti pronoun -nya jadi mbak atau apalah gitu, biar enak rasanya kalo nulis. Tapi ya gimana lagi: mau ditulis Mbak, lha kok hubungan kami bukan adik-kakak, tapi senior-junior) itu menjemput saya di depan asrama.
Kami pergi ke pujasera belakang UIN, mendapati masih banyak mahasiswa UIN yang makan di sana. Karena merasa tidak dapat tempat, Mbak Fitri (ya udahlah ditulis gini aja) menawarkan saya ke tempat baru. "Farid suka pedes, kan?" Suka banget, saya menjawabnya. Lalu kami pergi ke arah merjosari, lalu belok kanan setelah Indomaret. Kami berhenti di sebuah rumah makan warung benuansa reggae. Warung ini mengingatkan saya pada warung sejenis di deket pondok dulu.
Bedanya dengan reggae di pondok dulu, warung reggae kali ini menawarkan menu yang beragam. Mbak Fitri minta ikan tongkol dipenyet dan kuah ceker, sedangkan saya minta telur dan tempe penyet. Kami makan dengan duduk lesehan, dengan karpet berwarna biru menjadi alas duduk kami. Warung reggae ini besar, dengan berbagai peralatan dan barang-barang tersimpan di area belakang. Warung ini layaknya sebuah gudang, yang sebagian tempatnya dibersihkan dan diberi meja makan.
Uang saya hanya habis 14 ribu, untuk dua porsi makan dan air putih gratis. Setelah makan, saya menunggu Mbak Fitri yang masih mengambil tas dengan berjalan kaki (ternyata pondoknya deket situ). Kami akan berangkat ke kampus, dan Mbak Fitri kembali dengan bau harum dari parfum yang baru disemprot.
Sebagai pemilik hidung yang amat sangat sensitif dengan bau harum (tapi ndak sensitif dengan bau tidak enak), saya merasakan perbedaan sejak Mbak Fitri kembali: ia pakai parfum di kerudung dan bau harumnya merasuk ke hidung. Saya agak menjauh, sebelum akhirnya kembali mendekat untuk ikut nebeng ke kampus.
*****
Saya juga mau bercerita tentang bagaimana tulisan saya akhirnya mendapat sedikit ketidakberuntungan.
Beberapa hari yang lalu, atau mungkin di minggu lalu, ada notifikasi dari pihak Google yang mengatakan bahwa ada salah satu konten saya yang melanggar hak cipta. Di akhir notifikasi dari Google yang berupa no-reply email itu, sebuah link diberikan untuk melihat di bagian mana konten saya yang bermasalah. Nyatanya, link itu berupa video pendek Stranger Things, sedangkan saya tidak pernuh menulis satu pun hal tentang Stranger Things.
Menurut Google, akan ada konten saya yang terhapus tanpa persetujuan dari saya. Saya tidak peduli. Toh, saya tidak pernah tulisan apa aja yang pernah saya tulis, selain yang mendapat banyak pembaca seperti kisah tentang Dewi, atau kisah Seorang Nabi di Kota Kecil, dan lain sebagainya. Andaikan tulisan-tulisan itu hilang juga akhirnya, karena dianggap melanggar hak cipta, maka saya tidak pedulis. Toh saya masih bisa menulis yang lain.
Dan ingat. Blog ini tidak punya back up.
Notifiikasi terbaru datang dari kawan sendiri. Hari kemarin saya memposting tentang Krima di IG. Tak lama kemudian sebuah pesan LINE datang. Seorang teman memohon pada saya agar post itu dihapus, agar tidak terlihat oleh maba. Saya katakan padanya bahwa tidak ada maba yang follow saya (lagipula siapa saya: orang penting bukan, pintar tidak, ganteng enggak). Tapi teman saya itu tetap memaksa. Maka, sejak kemarin, akun IG saya ubah menjadi privat.
Tapi tadi sore sudah saya buka lagi. Hahahaha.
Tak akan ada orang yang dapat menghalangi saya menulis. Kalau mereka membuat saya sibuk hingga menulis, mungkin saja. Tapi tidak akan ada orang yang merasa wajib mengontrol tulisan saya. Bahkan pihak Google sekalipun.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?