Permainan Mendalam: Catatan tentang Sabung Ayam di Bali - Review

Penggerebekan

Clifford Geertz datang ke sebuah desa di Bali. Ia datang dengan maksud tertentu yang sudah diketahui oleh pemuka desa, kemudian pemuka desa menyebarkan berita itu ke penduduk. Dalam hal ini, penduduk tahu seluk-beluk kedatangan dua orang asing (Geertz dan istrinya) dan mengapa mereka berada di antara mereka. Meski begitu, sebagai sosok yang asing, ia tidak dianggap. Kehadirannya tak ubahnya batu, pohon, atau debu di jalanan. Masyarakat hanya menatap sinis kepadanya, lalu pergi berlalu. 

Lalu semua itu berubah dalam semalam.

Saat itu, Geertz dan istrinya mencoba datang ke arena sabung ayam. Mereka berada dalam kerumunan orang-orang yang menyaksikan dengan sangat dekat pertarungan antar-ayam. Lalu, sebagai tradisi yang tak diizinkan sejak masa kolonial, datanglah aparat (yang rerata orang Jawa, bukan penduduk asli) dengan popor senjata menggerebek massa. Tanpa aba-aba, semua masyarakat bubar dan lari tunggang langgang. Begitu pula Geertz dan istrinya.

Mereka berdua lari di antara rumah-rumah penduduk desa, lalu mengikuti seorang pribumi Bali ke rumahnya untuk melakukan sandiwara. Istri orang Bali yang berada di rumah tiba-tiba membersihakn rumah, menuangkan minuman ke gelas, dan mereka berempat melakukan sandiwara seolah-olah mereka sedang menerima tamu asing. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, hingga datang aparat yang berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Pemilik rumah langsung beralasan bahwa mereka sedang menerima tamu asing, dengan segala kesibukan penelitiannya, dan tidak tahu-menahu tentang sabung ayam.

Sandiwara itu berjalan semalam, Geertz dan istrinya dibawa pergi ke kantor polisi.

Esoknya, ketika mereka kembali ke desa itu, suasana telah berubah. Masyarakat desa berbondong-bondong datang padanya, lalu bertanya tentang kejadian semalam yang membuat mereka lari tunggang-langgang macam tingkah pribumi. Sebagai seorang asing, masyarakat menganggap bisa saja mereka bersikap superior, lalu beralasan di depan aparat. Tapi mereka tak melakukannya, dan itu hal yang lucu bagi pribumi. 

Sejak saat itu, Geertz dan istrinya mulai dianggap sebagai bagian dari masyarakat. Ia tidak hanya mengenal, melainkan melebur menjadi orang Bali: mereka tertawa bersamanya, tidak lagi memandang sinis padanya.

Taruhan dan Uang Tunai

Salah satu sisi yang hendak Geertz teliti dalam ritual sabung ayam di Bali, adalah bagaimana hal itu juga menciptakan adanya pertaruhan-pertaruhan di penonton. Setidaknya, Geertz mencatat adanya dua pola pertaruhan, yaitu dalam dan luar. Pertaruhan di dalam (Geertz menyebutnya 'di tengah-tengah) diikuti oleh pemilik jago beserta orang-orang di sekitarnya dan bersifat tunai, sedangkan pertaruhan luar hadir secara tidak resmi tanpa adanya pembayaran bersifat tunai. Secara umum, pertaruhan dalam sabung ayam Bali tidak mengenal utang.

Pertaruhan sangat berkaitan dengan kedalaman pertandingan. Semakin intens pertandingan yang dilaksanakan, maka taruhan akan semakin tinggi. Hal ini menunjukkan betapa sabung ayam menjadi pertandingan dan ritual yang 'dalam', tidak hanya tontonan biasa. Maka, apabila sabung ayam tidak menghadirkan peserta-peserta yang hebat, begitu pula dengan taruhan: keduanya saling berpengaruh dengan perbandingan lurus.

Geertz menyajikan data yang melimpah dan mendetail. Ia mengaku memiliki data taruhan dari setiap sabung ayam yang ia saksikan. Sayangnya, sebagaimana telah diketahui bersama, kelemahan terbesar Geetz adalah ia tidak terlalu apik dalam menyajikan datanya. Di dapur, ia semacam koki yang diberkati dengan bahan-bahan bagus, segar, dan menantang untuk dimasak, tapi kemampuannya memasaknya tingkat menengah. Dalam etnografi, kedalaman kajiannya terjamin, tapi penulisannya berantakan. 

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir