Nendes Kombet (2015) - Mempersatukan Kota dengan Bahasa


Malang adalah kota yang penuh sejarah. Kolonialisme Belanda membangun peradaban terbesar kedua di Jawa Timur, melalui kota ini. Dan Malang, sebagaimana kota-kota lain di Pulau Jawa, memiliki kebudayaan tersendiri yang berbeda. Dalam hal ini, Malang memiliki sebuah bahasa khusus yang memersatukan sekaligus menjadi identitas warganya.

Boso Walikan.

Definisi dan Identitas

Boso walikan secara sederhana adalah bahasa yang dibalik. Dalam praktiknya, satu-dua kosakata bahasa Jawa dibalik sesuai urutan abjad, sehingga menimbulkan kosakata lain yang sama maknanya. Beberapa contoh, yang sering digunakan adalah: Mas menjadi Sam, Iyo menjadi oyi, dan arek menjadi kera. Menurut sejarah, boso walikan bermula dari tradisi tentara gerilya Indonesia yang -agar tidak ketahuan oleh Belanda- menggunakan bahasa sandi buatan sendiri. Dari situlah Boso walikan muncul, dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat Kota Malang.

Boso walikan mengalami pasang surut dalam penggunaanya, sesuai dengan tuntutan zaman. Sejak digunakan dalam perang mempertahankan kemerdekaan, boso walikan tidak lagi digunakan. Barulah semangat untuk menggunakannya lagi muncul pada era 1970 akhir hingga 1980-an, di mana ketika itu boso walikan menjadi identitas bagi Aremania, suporter fanatik Arema FC. Meski dipenuhi dengan sejarah kelam yang mempertemukan mereka dengan suporter-suporter rival, boso walikan menjadi identitas yang khas, tidak hanya bagi suporter Aremania, tetapi juga bagi seluruh warga Kota Malang.

Perdebatan-Perdebatan Kecil

Sebagai tradisi lisan, boso walikan juga tidak lepas dari perbedaan-perbedaan penggunaan maupun pengucapan. Hal ini muncul akibat perkembangan zaman yang menuntut penutur boso walikan agar terus bertahan. Ada yang berpendapat bahwa boso walikan terstandarisasi dalam kosakata umum, tetapi ada juga pendapat yang mengatakan boso walikan itu fleksibel, sehingga tidak terikat dengan aturan linguistik. Kedua pendapat boleh saja mempertahankan argumennya, dan mungkin sama-sama benar.

Tapi perdebatan yang lebih penting adalah, bagaimana mempertahankan boso walikan di tengah gempuran globalisasi? Status Kota Malang yang menjadi Kota Pendidikan dengan berdirinya bebeberapa perguruan tinggi, mengundang migrasi besar-besaran. Berbagai macam suku datang, dengan budaya masing-masing, dengan bahasa masing-masing. Pergaulan internasional menjadi hal yang wajar. Akankah boso walikan bertahan?

Contoh Sempurna: Nendes Kombet

Sebagai salah satu kota yang menjadi basis gerilya pada masa mempertahankan kemerdekaan, maka tak asing bagi Malang adalah dikuasai rakyat kecil. Boso walikan adalah contoh produk budaya yang lahir dari mereka. Setidaknya ada dua hal yang dapat diambil contoh, yaitu: pertama, budaya mabuk-mabukan yang merupakan arti implisitr dari Nendes kombet atau senden tembok (bersandar pada dinding) karena terlalu nyaman dengan miras, tuak, atau alkohol.

Contoh kedua adalah nendes kombet adalah contoh bagaimana bahasa menjadi otoritas penuturnya, sehingga, meskipun tidak sesuai dengan aturan kebahasaan, tetap dipakai dan disetujui secara komunal. Dari dua contoh itulah, term 'nendes kombet' seakan mewakili rakyat kecil Kota Malang, atas kepemilikan mereka terhadap Boso walikan. Meskipun tidak satu-satunya -karena ada pula bahasa dengan pola yang sama di Jogja- boso walikan Malang, adalah identitas warganya.

Bahasa dan Kebudayaan: Menjawab Pertanyaan

Bahasa adalah bagian dari kebudayaan, adalah kalimat sederhana yang menggambarkan bagaimana keduanya berkaitan. Bahasa adalah produk kognitif otak primata yang paling maju, sehingga hanya manusialah yang dapat mencapai tataran ilmu pengetahuan di antara makhluk lain. Tanpa bahasa, kebudayaan tidak dapat terwujud. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa bahasa bukan hanya bagian dari kebudayaan, tapi juga kunci evolusi manusia, baik secara biologis maupun kebudayaan.

Dengan bahasa-lah, manusia dapat berkomunikasi. Dalam perkembangannya, bahasa tak lagi disimbolkan dengan suara, tapi juga dengan tulisan, tanda, abjad, dan lain sebagainya. Bahasa menjadi kunci perkembangan pengetahuan, melahirkan sains, filsafat, dan epistimologi kemanusiaan. Dan perkembangan bahsa masih terus berjalan. Ia akan selalu berevolusi, menjadi lebih kompleks, dari satu dimensi ke dimensi lainnya.

Bahasa jawa masih digunakan secara masif di Sidoarjo, sebagaimana layaknya kota atau kabupaten lain di Jawa Timur. Sayangnya, sebagai kota satelit yang menopang pertumbuhan Surabaya, eksistensi bahasa Jawa terancam di titik ini. Berbondong-bondong pendatang dari pelbagai daerah datang, dengan maksud bekerja di Surabaya, tapi bertempat tinggal di Sidoarjo. Penduduk asli Jawa masih bertahan, tapi pergaulan nasional mereka membuat bahasa Jawa semakin tersingkirkan.


Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir