Motivasi Pagi Pak Hipo


Saya mendengar suara samar-samar, yang terdengar seperti suara ustadz. Lampu di kamar masih mati, dengan teman sekamar saya sudah pergi ke Masjid Utsman. Saya berbaring, mendengar kata-kata ustadz yang berbicara kepada salah satu senior di Rumah Tahfidz. Intinya, beliau menitipkan anak-anak, agar dikontrol ngaji paginya. Tak lama kemudian, saya terbangun dengan fakta tugas semalam masih menyala. Laptop itu masih menampilkan tugas antroplogi ekonomi yang berantakan.

Ya. Tugas antropologi ekonomi itu dikumpulkan hari ini. Tepatnya, tadi ketika kelas sehabis maghrib. Kemarin, saya bekerjasama dengan seorang teman perempuan yang -saking sibuknya- hanya memberikan sedikit bantuan. Hmm, setelah dipikir-pikir kembali, sepertinya ia tidak membantu. Ia hanya mengulang-ulang poin yang telah saya tuliskan, hingga tampak terlihat banyak. Wajar. Tugas kami menulis review dengan ketentuan minimal 1000 kata, dan saya memberinya tulisan setengah matang 800 kata.

Setelah sholat subuh, saya langsung memperbaiki tugas antropologi ekonomi. Beberapa poin yang tercerai-berai saya coba susun kembali, dengan mengurangi kata-kata yang diulang. Tak lama, senior asrama membuka pintu, lalu menyuruh saya turun untuk mengaji. Saya mengiyakannya, lalu pergi turun setelah menutu laptop. Saya sempat kebingungan mencari al-Qur'an, yang ternyata saya taruh bukan di tempat biasa.

Saya mengaji juz 12 hari ini. Sebagai orang yang cepat bosan, saya berganti-ganti tempat setiap mengaji: kadang di meja ustadz, kadang di depan pintu, dan kadang sambil tiduran di ruang tamu. Ketika jam dinding menunjukkan pukul enam kurang seperempat, saya minta izin ke senior untuk pergi dahulu, bersiap-siap pergi kelas pagi. Tak lupa, saya juga minta izin untuk kembali agak malam. Jangan heran, untuk hari Kamis, memang butuh usaha ekstra.

Sembilan SKS dalam satu hari menanti.

Seperti biasa, saya pergi berjalan kaki. Ke arah UIN, menyeberangi Jl. Sumbersari, lalu tembus ke Kertoleksono dan masuk ke Gerbang Fapet. Saya sampai di fakultas pukul tujuh kurang seperempat. Seorang teman dengan kaus polo UB warna biru menyapa dan bersalaman. Saya mengajaknya duduk dahulu, mengistirahatkan kaki. Ia bertanya tentang beberapa tugas kuliah, termasuk tugas antropologi ekonomi yang akan dikumpulkan hari ini. Tak lama, ia naik ke atas duluan, saya menyusulnya beberapa menit kemudian.

Kelas pagi kami di hari Kamis, tentunya Pengantar Antropologi Terapan. Pak Hipo yang mengampu mata kuliah ini selalu datang terlambat lebih dari tiga puluh menit. Ketika jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan, saya keluar. Baru saja saya menamatkan bab kelima buku The Death of Expertise yang wajib saya habiskan bulan ini. Saya menaruhnya kembali ke tas, lalu berjalan keluar, menghindari keramaian kelas.

FIB menggunakan Gedung Rektorat Lama, yang ruang kelasnya hanya tersedia di lantai empat. Saya pergi ke tangga, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, naik dan turun. Barangkali, saya bisa melihat Pak Hipo naik tangga, dan saya bisa kembali ke kelas. Nyatanya tidak. Konsentrasi saya buyar tatkala hape saya menyetel sebuah lagu bagus. Saya melihat judulnya -Underground, by Lindsey Stirling-. Saya yakin tidak pernah mendownloadnya. Mungkin ini kiriman dari seorang teman, melalui grup WA.

Lagu itu bagus, dan saya putar sepanjang hari.

Pak Hipo datang tepat pukul delapan kurang seperempat. beliau langsung memerintah kelompok yang bertugas untuk presentasi maju. Dua orang teman kami maju, Mas'ud dan Chara nama keduanya. Kali ini mereka mendapat giliran untuk menjelaskan Otherworldly Anthropology. Penjelasan yang mereka lakukan, sedikit kasar, terutama di bagian Mas'ud. Tapi bukan berarti Chara tidak memiliki kekurangan. Ia terkadang masih menggunakan penjelasan panjang-lebar yang sebenarnya tak perlu. Secara umum, cara mereka presentasi masih cukup bagus.

Beberapa pertanyaan diajukan, dan saya membantu presenter untuk menjawab bagian, 'di mana batas-batas antropologi dalam studi interdisipliner?' Setelah tanya-jawab, barulah Pak Hipo menjelaskan, dan ini adalah bagian yang paling saya suka.

Setiap kali Pak Hipo menjelaskan, ia berhasil memotivasi kami. Jika di minggu sebelumnya, beliau menjelaskan bahwa lulusan antropologi tidak diperkenankan menjadi guru, kali ini berbeda. Beliau berusaha menjelaskan titik atau fokus antropologi, jika harus interdisipliner dengan studi lain: bagaimana antropologi memiliki 'etnografi' sebagai senjata, sehingga harus dengan sangat mendetail. Dengan semangat itulah, saya mencoba menulis catatan Kamis ini, dengan sangat mendetail.

*****

Terimakasih untuk orang-orang yang mau membaca ini sampai akhir. Semoga masih ada semangat yang sama di esok hari.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir