Mitos Barter: Mengungkap Kepalsuan Asal-Usul Uang


Pendahuluan: Mengingat Kembali Pelajaran Ekonomi

Sebagai pelajar, masyarakat di seluruh dunia telah familiar dengan kurikulum pendidikan yang mengajarkan topik ekonomi sejak bangku sekolah dasar. Berbagai macam teori diberikan, termasuk trio penggerak ekonomi (produsen, distributor, dan konsumen), fungsi ekonomi, sistem pasar, dan lain sebagainya. Dalam topik asal-usul uang, kita telah belajar bahwa sebelum manusia menemukannya, masyarakat kita menggunakan barter -pertukaran barang yang nilainya dianggap setara. Sejauh ini, pendidikan kita masuk akal. Sebelum ada uang, apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh barang pemuas kebutuhan?

Lalu datanglah Debt: The First 5000 Years. Tepatnya, melalui buku yang mengobrak-abrik logika umum ini, David Graeber mengatakan kepada kita bahwa barter adalah sebuah mitos. Sebelum ada uang, kita tidak melakukan barter. Lalu, muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan: ekonomi macam apa yang kita lakukan sebelum ada uang? Apa yang sebenarnya membentuk uang? Bagaimana makhluk dengan kompleksitas semacam manusia menemukan uang? Bagaimana sistem rumit ini tersusun?

David Graeber menjelaskannya dengan kisah. Tentang perjalanannya mencari asal-usul uang yang menurutnya menjengkelkan.

Ekonomi yang Dipisahkan dari Manusia

Satu hal yang disorot oleh Graeber adalah bagaimana Adam Smith, lelaki asal Scotland yang disebut sebagai peletak dasar ilmu ekonomi, memisahkan ekonomi sebagai objek yang terpisah dari subjeknya, manusia. Terhadap klain yang menyatakan ia meletakkan dasar-dasar ilmu ekonomi, kita boleh setuju. Tapi sayangnya, dalam kasus ini, ia tak melihat serta pelaku ekonomi. Gambarannya, manusia hanya membutuhkan suatu barang, lalu dengan modal seadanya dan sedikit keberuntungan, menemukan orang lain yang sesuai. Orang yang ditemuinya di tengah jalan atau -katakanlah- pasar itu juga kebetulan membutuhkan barang yang ia miliki. Dari situ, barter dilakukan. Pertanyaannya:

Seberapa sering keberuntungan itu muncul? Seberapa banyak kemungkinan yang dapat terjadi? Apakah sistem yang tampak sederhana itu benar-benar dapat memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari?

Tidak ada jawaban pasti. Yang tampak jelas bagi kita adalah bahwa: setiap orang bisa jadi memiliki spesialisasinya sendiri. Ada petani, ada nelayan, dan ada berbagai ahli perkakas. Mereka tertampung dalam sebuah desa kecil. Dengan pikiran sederhana ala manusia modern, mereka akan melakukan barter. akan tetapi, barter (pertukaran) yang mereka lakukan menggunakan uang. Entah barang apa yang mereka sebut uang, mereka melakukannya berdasar itu. Tidak ada barter di sini.

Yang jelas, Smith mengarang. Ia adalah lelaki Inggris yang mungkin saja terlalu etnosentris sehingga melihat asal-usul uang dari bangsanya sendiri. Ia menganggap barter telah dilakukan bangsanya di masa lalu, dan kini masih dilakukan oleh bangsa-bangsa 'primitif' lain di pelosok Afrika atau Amerika Selatan. Dan langkahnya yang sembrono itu dilanjutkan oleh para ekonom lain: barter tersebar luas sebagai metode penukaran sehingga dianggap sebagai kebenaran.

Oke, saat ini kita boleh sepakat atau tidak sepakat tentang kebenaran barter. Lalu, bagaimana sejarah ekonomi yang sebenarnya?

Alur yang Terbalik

Menilik budaya-budaya yang tersebar di seluruh dunia, setiap masyarakat memiliki cara tersendiri untuk memenuhi kebutuhan biologisnya sendiri. Beberapa yang diungkap, seperti Gunwinggu di Australia dan Nambikwara di Brasil, memberi contoh bagaimana sebuah pertukaran atas suatu komoditas dilakukan secara lebih rumit dan melelahkan. Bisa jadi, hal itu terjadi sepanjang waktu, dilaksanakan setiap hari tanpa rasa lelah, tapi tak ada barter di sana. Pertukaran itu murni jual-beli.

Barter, sebagaimana diungkap Graeber, dilakukan dalam keadaan yang benar-benar mendesak: seseorang dengan modal suatu barang membutuhkan barang lain yang kebetulan sedang dimiliki orang lain. Mereka bertukar barang dalam keadaan yang tidak enak hati, baik di satu sisi atau di kedua belah pihak. Barter adalah opsi terakhir, dan itu dilakukan dengan orang yang tidak terikat secara emosional. Jika dilakukan di masa-masa ini, maka barter itu karena memang tidak ada uang yang tersedia di kedua belah pihak pelaku transaksi, bukan karena belum ada uang pada saat itu. Kesimpulannya, barter bukanlah asal-usul uang.

Lalu bagaimana manusia bertukar barang sebelum ada uang?

Dengan utang. Itulah jawaban sederhana yang diajukan David Graeber. Manusia berutang untuk memenuhi kebutuhannya. Di waktu lain, utang itu dibayar dengan sesuatu yang setimpal atau lebih. Masyarakat yang lebih besar -untuk tidak menyebutnya lebih maju- memiliki pemerintahan yang mengatur itu: uang diterbitkan dengan logam berlambang entah dengan nilai yang lebih besar atau kecil. Dampaknya, keadaan ekonomi timpang. Tapi, setidaknya, masyarakat tak lagi bingung lagi ketika hendak mendapatkan sesuatu yang dibutuhkannya.

David Graeber berasumsi bahwa barter barulah muncul setelah adanya uang. Sistem itu baru dilakukan ketika perekonomian nasional jatuh: contoh terbaru adalah di Rusia pada 1990 dan Argentina pada 2002.  Dalam dua kasus tersebut, barter menjadi opsi manakala uang tidak lagi berarti. Ketika inflasi, nilai guna uang sewaktu-waktu dapat jatuh, tidak lagi sesuai dengan harga barang. Akhirnya masyarakat pun beralih kepada barter, yang tampak lebih menguntungkan.

Intinya, barter muncul setelah adanya sistem uang. Bahkan ketika uang masih belum berupa koin, tapi ikan, kerang, atau semacamnya yang disepakati bersama oleh masyarakat tertentu. Memang dibutuhkan pemerintahan yang stabil dan peradaban yang maju untuk mencetak koin berlambang otoritas negara, tapi untuk menyepakati sebuah barang sebagai uang, masyarakat kecil pun dapat melakukannya.

Kesimpulan: Sulitnya Merekonstruksi Pemikiran Graeber

Awal permasalahan ekonomi adalah sifatnya yang dingin: ia terpisahkan dari manusia dan melihat semua hal atas dasar untung-rugi. Dinamika manusia yang rumit tidak dapat dijelaskan, sehingga, teori-teori umum ekonomi tidak dapat berlaku pada sebagian kelompok masyarakat. Selain itu, berasumsi bahwa barter adalah asal-mula uang, juga merupakan tindakan sembrono yang kemudian diulang-ulang. Apakah itu salah Adam Smith? Bukan. Itu adalah kesalahan manusia bersama, yang memutuskan untuk percaya sepenuhnya pada sebuah asumsi. Dan asumsi itu, tentu saja, belum terbukti kebenarannya.

Butuh usaha keras untuk memahami tulisan Graeber, meskipun ia menuliskannya dengan kisah. Kekesalan David Graeber pada seorang shaman yang ditemuinya di Madagaskar, ternyata menular. Fakta bahwa barter adalah mitos memang sulit dipercaya, apalagi dengan nalar ekonomi yang telah terbiasa dengan pengetahuan pada umumnya. Tapi, yang lebih sulit lagi adalah bagaimana merekonstruksi pemikiran Graeber dalam buku ini yang menyatakan bahwa uang bermula dari utang. Untuk membangun argumentasi itu, sebenarnya kami telah mencobanya. Entah bagaimana argumentasi itu dapat diterima atau tidak.

Benarkah uang berasal dai utang? Penulis tidak ingin langsung percaya, apalagi setelah pengetahuan lama kami tentang barter tiba-tiba runtuh setelah membaca bab kedua dari buku ini. Barter adalah asal-mula ekonomi sebelum adanya uang? Hal itu sepenuhnya terbantahkan.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir