Menangis Bersama Super 30 (2019): Laskar Pelangi ala India


Sejak pertengahan film, saya sudah tidak tahan untuk menitikkan air mata.

Bagaimana tidak? Film ini sangat-sangat mengharukan. Siapa orang yang tidak tersentuh hatinya manakala tahu ada seorang genius di pelosok India sana -negara dengan penduduk terpadat kesekian di dunia tapi statusnya berkembang, sama dengan Endonesa- merelakan jiwa raganya mendirikan sebuah institusi pendidikan gratis untuk anak-anak miskin? Siapa yang tidak menangis mendengar hal itu? Siapa pun yang tidak tersentuh hatinya, saya yakin orang itu bukan manusia.

Mungkin dia kadal mesir atau semacamnya.

Cerita: Inspired from True Event

Seorang Fugga Kumar memberikan pidato dalam wisuda yang ia ikuti. Sebagai orang India, ia memberikan semua keunggulan orang India: bagaimana mereka memimpin perusahaan-perusahaan multi-nasional di seluruh dunia, tapi pekerja kasarnya dibayar murah di seluruh penjuru dunia; bagaimana orang India lah yang menemukan angka 0, tapi rerata warganya tidak bisa membaca dan berhitung; bagaimana India mengahsilkan orang-orang hebat sepanjang masa, tapi tetap tidak bisa menguasai percaturan politik dunia.

Dan kesuksesannya, mengantarkan ia pada cerita di masa kecilnya. Tentang seorang pemuda kumal dari desa yang berambisi keluar India, tapi terhalang karena janji manis politikus. Anand Kumar (Hrithik Roshan) pun beralih dari cita-citanya menjadi ahli matematika, lalu berjualan roti keliling dengan harga 5 rupee setiap paketnya. Pada suatu hari, sepeda yang ia gunakan untuk berjualan ditabrak oleh manajer Indians Institus of Technology, Lallan Singh (Aditya Srivastava).

Insiden itu mengantarkan ia pada karir memukau: cara mengajarnya yang menarik membuat ia didapuk menjadi dosen 'premium', di mana hanya orang-orang kayalah yang berkuliah kepadanya. Dan karena film ini belum mencapai 'intermission'-nya, pendirian tokoh utama langsung berubah. Dalam suatu percakapan dengan seorang tukang becak, Anand menemukan fakta bahwa orang-orang kayalah yang akan pintar, dan orang miskin akan semakin bodoh. Dan situlah ia mencanangkan programnya.

Revolusi sosial dalam ide Anand adalah memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak miskin, dari seluruh distriknya yang kemudian diseleksi 30 anak paling pintar. Di sana, ia memotivasi mereka agar tidak menyerah, terus berusaha, dan memberikan metode pengajaran terbaik. Hasilnya, ia harus bertarung, dengan fakta bahwa ia tidak memiliki banyak uang dan teror dari orang-orang institusi pendidikan resmi berharga mahal, termasuk IIT.

Terburu-Buru

Sebagaimana film India lain, Super 30 (2019) dibagi menjadi dua bagian, yaitu pra-intermission dan pasca-nya. Sejujurnya, narasi film ini hendak menceritakan pengalaman Anand Kumar secara lebih dalam, tapi sayang, bagian penceritaan latar belakangnya terburu-buru. Sejak Anand remaja, meraih pengahargaan debat lokal, hendak meminjam jurnal asing, menulis makalah yang dikutip profesor Cambridge, diundang langsung ke Inggris, pergi ke menteri untuk minta bantuan dana, dan lain sebagainya. Berbagai hal itu terlalu panjang untuk diceritakan, meskipun penting artinya.

Selain itu, salah satu masalah yang patut disorot adalah betapa hiperbolik trailer yang dirilis sebelumnya. Sebagian penonton, termasuk saya, berharap 'kecanggihan': bahwa Super 30 adalah program yang benar-benar mengguncang dunia, tak sekedar meloloskan 30 anak didik -yah meskipun itu sulit juga sih. Meski begitu, film ini patut penghargaan tinggi, karena berhasil meloloskan air mata saya hingga turun ke pipi.

Menyaksikan Super 30 adalah layaknya menonton ulang Laskar Pelangi, yang berhasil membuat kita menangis haru melihat perjuangan orang miskin pedalaman, lalu turut mendoakan mereka agar berhasil survive di dunia yang kejam ini.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir