Melawan Dukun di The Divine Fury (2019): Munafik Versi Korsel

Cerita

Seorang anak polisi bernama Yong Hoo (Park Seo-joon) sangat berbakti kepada ayahnya , sejak ia menerima kenyataan bahwa ibunya meninggal dunia. Kehidupan semakin bersikap jahat kepadanya manakala sang Ayah tertimpa insiden. Tidak tahan melihat ayahnya menderita, ia berlari ke gereja untuk berdoa kepada Tuhan. Di sana, ia bertemu dengan pendeta yang sangat ia percayai. Sayangnya, kepercayaan itu hilang, setelah ayahnya meninggal. Ia mengusir pendeta itu dari rumahnya di hari berduka, sekaligus mengusir Tuhan dari hatinya.

Di titik itulah, ia tidak lagi mempercayai Tuhan.

Nama Besar Aktor

Ketika saya masih setengah perjalanan menonton film ini, beberapa teman sudah mengkonfirmasi aktornya, "Oh, yang Park Seo-joon itu, ya?" Saya, sebagai penikmat film bagus -dan bukan penghafal nama aktor Koryah yang wajahnya sama semua itu, menggelengkan kepala. Saya tidak tahu. Dan ternyata benar. Aktor ini punya reputasi besar. Mungkin akan saya berikan sedikit filmografinya.

Karir filmnya dimulai sejak 2011, manakala ia berperan sebagai Chil-goo dalam Perfect Game. Karir filmnya semopat terhenti lama sebelum dilanjutkan kembali dengan berbagai peran dalam berbagai film: The Chronicles of Evil (2015), The Beauty Inside (2015), Midnight Runners (2017), Be with You (2018), dan yang terbaru, Parasite (2019). Karirnya sebagai aktor serial sangat banyak, sehingga tak mampu saya paparkan di sini. Silahkan cari namanya di Wikipedia. Atau mungkin pembaca lebih tahu dia daripada saya.


Tak hanya mengandalkan itu, horor Korea ini menampilkan komposisi baru dalam dunia perfilman: bagaimana beladiri juga dapat membantu pendeta dalam memberantas kesesatan. Sejak awal, karakter Yong Hoo sudah diperkenalkan sebagai atlet MMA, dan pencapaian sempurnanya membuat ia melanglang buana hingga Amerika, sama seperti karakter yang diperankan Wirda Mansur di film The Santri nanti. Sayangnya, latar belakang mengenai pilihan karir beladirinya tak dijelaskan. Kalau mau sedikit diceritakan, misalnya ia memilih beladiri untuk melawan depersi setelah ayahnya meninggal, akan lebih bagus.

Bintang Tiga

Secara keseluruhan, film ini masih layak masuk bioskop, tidak seperti film-film horor Indonesia yang meskipun sudah tidak esek-esek seperti jaman dahulu, tetap saja semua ceritanya serupa. Hal itu membuat variasi film horor menurun. Tapi, The Divine Fury juga tidak lepas dari kekurangan. Setidaknya, saya mencatat ada beberapa poin yang miss dalam film ini, di antaranya: 

Pertama, bagaimana bisa Yong Hoo tiba-tiba menjadi pendeta? Hanya karena dia punya tanda ajaib berupa salib di telapak tangan kanan dan bisa mengusir setan (eksorsis, lebih tepatnya), ia langsung bisa menggantikan posisi Father Ahn (Ahn Sung-ki)? Kenapa bukan pendeta satunya yang lebih junior? Okelah ia diberi amanah. Tapi masak dia pergi sendirian? Bukannya ia jadi perwakilan Gereja Katolik Vatikan yang gak sembarangan asal tunjuk gitu aja? Inget. Di serial The Conjuring, Ed Lorraine yang bukan pendeta aja harus minta izin dulu. Apalagi ini yang cuma atlet MMA. Ramasok!

Kedua, saya memang tidak tahu-menahu kapabilitas Park Seo-joon sebagai aktor. Tapi, kok kayaknya dia kurang emosional, ya? Wajahnya terkesan datar dan kurang ekspresif. Atau apakah itu memang sesuai dengan karakteristik perannya, saya tidak tahu. Ada satu scene yang sebenarnya membuat wajahnya terlihat lebih bersahabat, yaitu ketika beberapa anak panti asuhan memeluknya sebagai tanda terimakasih, setelah ia berhasil mengusir 666 setan dari tubuh teman mereka. Di situ, ia tampak berkaca-kaca, hendak menangis. Tapi di scene itu jugalah saya baru menyadari kekurangan ini.

Ketiga, kurangnya latar belakang musuh yang dihadapi. Kekuatannya yang ajaib dan aneka ragam kemampuannya dalam menyantet mungkin mengagumkan, tapi penonton butuh kisah mengapa remaja tampan harus meminta bantuan Iblis. Haruslah ada alasan-alasan di balik keputusannya, dan tak mungkin bagi film-film di zaman ini menghadirkan 'tokoh jahat karena ia memang murni jahat'. Tidak mungkin. Thanos saja yang di komik versi orisinil murni jahat, divisualisasikan sebagai sosok yang berniat baik pada dunia. Sedikit scene dan satu-dua percakapan tambahan bisa membuat penonton paham.

Yah, terlepas dari tiga kekurangan itu, The Divine Fury sudah cukup bagus, dan laik untuk sebuah film layar lebar. Kesan action yang dihadirkan dari poster film ini berhasil menutupi fakta bahwa ini film horor semacam Munafik (2016) yang menghadapkan institusi agama resmi dengan setan yang menyesatkan manusia. Film ini juga tidak lepas dari perannya sebagai pemberi pesan: jangan pernah melupakan Tuhan, bahkan di saat kau benar-benar marah pada-Nya.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir