Marvin Harris dan Materialisme Kultural - A Personal Review
Setelah mendapat wawasan tentang tafsir kebudayaan a la Clifford Geertz, antropologi memasuki babak baru teoritis yaitu materialisme kultural. paradigma ini diperkenalkan oleh Marvin Harris atas pandangannya yang menganggap bahwa kebudayaan belum cukup terjelaskan sepenuhnya melalui pendekatan psikologis, strukturalis, kognitif, atau simbolik yang sejauh ini -menurut Harris- berupa pengandaian idealistik masyarakat atas kebudayaan.
Atas dasar itu, Marvin Harris memeprkenalkan materialisme kultural: materialisme yang berasal dari Karl Marx dan kultural sebagai corak penelitian antropologi. Berbeda dari pendekatan-pendekatan yang berasal dari paradigma sebelumnya, materialisme kultural melakukan pendekatan atas perilaku manusia dan lingkungan serta teknologi yang menghubungkan keduanya. Penulis melihat bahwa paradigma ini terdiri dari berbagai pendekatan, yaitu: fungsional, psikologis, dan etik-emik dalam ide struktural.
Asumsi dasarnya terletak pada logika bahwa masyarakat pada mulanya harus memperhitungkan aspek kebutuhan biologis dan politis, baik individu maupun komunal. Jika kebutuhan-kebutuhan itu sudah terpenuhi, maka manusia berada di tahap selanjutnya untuk memaknai simbol-simbol kebudayaan. Dari asumsi dasar ini, penulis melihat bahwa pendekatan yang dilakukan Marvin Harris bukanlah sesuatu yang berbeda. Paradigma-paradigma yang ada sebelumnya hanya dikumpulkan menjadi satu, dikumpulkan menjadi suatu paradigma terpadu, dan direkonstruksi dengan nama baru.
Konsep-konsep terdahulu dirangkai menjadi satu: tafsir kebudayaan yang memandang kebudayaan sebagai suatu konsep nyata bukan saja idealitas a la strukturalis, etik-emik dalam model linguistik strukturalis, partikularisme historis yang memandang kebudayaan melalui pendekatan psikologis dan historis. Satu hal yang menjadi fokus dari materialisme adalah fokusnya yang mendalam terhadap studi infrastruktur: bagaimana teknologi menjadi tolak ukur kebudayaan.
Konsep-konsep terdahulu dirangkai menjadi satu: tafsir kebudayaan yang memandang kebudayaan sebagai suatu konsep nyata bukan saja idealitas a la strukturalis, etik-emik dalam model linguistik strukturalis, partikularisme historis yang memandang kebudayaan melalui pendekatan psikologis dan historis. Satu hal yang menjadi fokus dari materialisme adalah fokusnya yang mendalam terhadap studi infrastruktur: bagaimana teknologi menjadi tolak ukur kebudayaan.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?