"Maaf Ya, Kalau Selama Ini Aku Bersikap Tidak Sopan Padamu"
Aku terbangun dari tidur dengan berat. Kepalaku terasa sangat sakit, seolah-olah ditekan selama delapan jam tidur. Aku kesulitan untuk bangun, dan ketika aku mencoba untuk duduk, rasa sakit itu semakin menjadi. Logo Inter Milan yang terpampang di kasurku terlihat kabur, begitu pula lemari, pakaian kotor yang menggantung, dan jam dinding. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran, tapi benar-benar terasa sulit. Tanganku menyangga tubuh, berusaha agar tak rubuh kembali.
Aku tidak tahu penyebab semua ini. Tapi yang kutahu dan kuingat sampai saat ini, adalah mimpiku yang samar-samar semalam. Sebuah mimpi yang sangat konyol dan menjengkelkan. Pengalaman bermimpi adalah bagian dari refleksi alam bawah sadar. Setidaknya, itulah pengetahuan yang kumiliki sejauh ini. Tapi benarkah aku memikirkan hal ini dalam alam bawah sadarku?
Ini menggelikan. Aku bermimpi tentang pernikahan.
Tepatnya, tentang seorang perempuan yang kusukai diam-diam dan fakta bahwa -dalam mimpi yang terlihat sangat nyata itu- ia telah menikah. Sebagai bocah yang selalu mencoba untuk mendekatinya, itu pukulan berat buatku. Dan dalam mimpiku, aku benar-benar merasa down. Bahkan hingga aku terbangun dan memulai kegiatan di pagi hari.
*****
Ia dan lelaki bernama Musthofa -yang sedikit kukenal- itu mendekatiku dengan ancaman. "Kamu kalau musikan (dengerin musik) jangan dekat-dekat dia." katanya dengan wajah serius dan tangan kanan yang menggenggam tangan wanitanya. Aku merasakan teror itu. Lalu, ketika kekasihnya pergi, wanita itu datang. "hati-hati ya, kalau deketin orang." Itu bukan nasihat, saran, atau semacamnya. Itu penghinaan. Kata-katanya merujuk pada tingkahku yang memang tidak tahu malu, hingga akhirnya mendekati istri orang lain.
Tapi aku bertanya-tanya: sejak kapan ia menikah?
Di sinilah yang berbeda. Ia tak mau menjawab, meskipun ia berada di hadapanku. Wajahnya menyembunyikan rahasia, seolah-olah pernikahannya bukanlah sesuatu yang dapat diumumkan. Aku semakin ragu, tapi tidak mau memaksanya untuk menjawab hal itu. Sejujurnya, aku masih cinta padanya, dan jika pertanyaan itu membuatnya merasa tidak nyaman, maka alangkah baiknya jika dilupakan saja.
Butuh waktu agak lama untuk berpikir, dan menerima kenyataan bahwa dia tidak lagi berada dalam jangkauanku. Akhirnya, aku berdiri dari kursi itu, hendak meninggalkan meja makan yang kami tempati. Aku menarik napas, mengumpulkan segenap keberanian, lalu mengucapkan kata-kata itu.
*****
Aku bertemu dengannya lagi pagi ini, dengan perasaan nyaman dan tak terbebani. Aku sudah tak berharap apapun, dan dia sering tersenyum. Semoga ia memaafkanku, hingga aku dapat menghilang dengan mudah, mencari titik-titik baru di mana aku dapat melupakannya, menemukan wanita yang tepat, dan hidup sewajarnya.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?