Lukisan Mendalam: Menuju Sebuah Teori Interpretatif tentang Kebudayaan


Pendahuluan

Sebelu melangkah lebih lanjut ke dalam paradigma tafsir kebudayaan, ada baiknya bagi seorang pelajar antropologi untuk memahami kembali strukturalisme: analisa kognitif dengan model linguistik mencoba memahami masyarakat dari unsur terkcilnya dan membangun struktur-struktur di balik fenomena, sehingga mampu melihat makna yang berbeda. Sejauh ini strukturalisme -sebagaimana paradigma lain- melakukan tugasnya dengan baik. Ia melihat ada yang salah dalam rancang-bangun teori sebelumnya sehingga berharap langkahnya adalah penyempurnan. Dan begitulah semestinya ilmu pengetahuan berjalan: ia dipenuhi dengan perdebatan-perdebatan yang menyempurnakan.

Begitu pula yang terjadi selanjutnya.

Clifford Geertz melihat ada sisi yang salah dari strukturalisme. Ia menganggap bahwa makna yang dibangun dari struktur pemikiran sang antropolog belum tentu mewakili masyarakat. Benarkah yang dilakukan sang antropolog? Ataukah dia hanya mengambil tafsir yang terlalu subjektif?

Etnografi: Tafsiran Mendalam

Sang penulis memulainya dengan fakta bahwa, 'objek etnografi: sebuah hierarki yang memiliki lapisan-lapisan struktur yang penuh makna.' Apa yang kita sebut data itu sesungguhnya adalah tafsiran-tafsiran kita sendiri mengenai tafsiran-tafsiran orang lain atas apa yang mereka lakukan. Sifat struktur yang ada dalam masyarakat adalah terkait satu sama lain, asing, tidak biasa, dan tidak eksplisit.

Clifford Geertz menolak kognitivisme-strukturalis dengan menyatakan bahwa kebudayaan itu bersifat publik. Meskipun bersifat ideasional dan berasal dari pikiran, ia tetaplah mewujud dalam masyarakat secara nyata. Permasalahan utama strukturalisme adalah subjektivitasnya yang ekstrim, dengan menggambarkan hubungan antara struktur dalam suatu masyarakat, dan kemudian dianggap cukup mewakili pemikiran suatu masyarakat

Kebudayaan berawal dari pemikiran, adalah suatu hal yang benar. Tapi kebudayaan itu lahir tidaklah dari pikiran saja, melainkan juga hasil dari kebiasaan-kebiasaan yang dilestarikan, yang dikerjakan terus menerus, sehingga menjadi suatu tata cara hidup.

Clifford Geertz menolak habis-habisan kognitivisme yang berambisi untuk mencapai tingkat saintifik sehingga melakukan analisa etnografi secara destruktif. Sisi 'merusak' dari kognitivisme itu adalah menampilkan struktur yang belum tentu benar-benar terjadi di masyarakat, tetapi hanya pemikiran mendalam dari si etnograf. Selain itu, jika kebudayaan diukur melalui pemikiran manusia secara individu, maka itu tak ubahnya seperti analisa psikologis.

Tujuan antropologi adalah memperluas semesta pembicaraan manusia. Selama ini, antropologi hanya melihat suatu hal unik yang terjadi di masyarakat yang berbeda, tanpa berpandangan bahwa suatu hal yang unik itu, adalah suatu kenormalan dalam kehidupan masyarakat tersebut. Oleh karena itu, untuk memahami suatu masyarakat, yang dapat kita lakukan adalah berbaur, hidup bersama, dan akhirnya mendapat pemahaman yang sesuai dengan masyarakat. Inilah yang kemudian oleh Clifford Geertz disebut sebagai tafsir kebudayaan.

Kesimpulan

Secara sederhana Clifford Geertz menyatakan bahwa tafsir kebudayaan itu hanyalah mencatat penafsiran yang disampaikan masyarakat, menganalisisnya, dan kemudian menata-ulang penafisran tersebut. Tapi, meskipun sederhana, tafsir kebudayaan menjadi penting manakala etnografi dituliskan secara mendalam. Seorang etnograf tidak boleh kehilangan detail-detail kecil yang membangun masyarakat, dan hal itu akan membantunya memahami masyarakat. 

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir