Krida Mahasiswa dan Tugas-Tugas yang Terbengkalai


Tulisan ini ditulis sejak Minggu, dan baru selesai kemarin. Baru saya post hari ini karena sibuk mengumpulkan tugas. 

*****

Hari ini saya sibuk di krima. Itu adalah kependekan dari Krida Mahasiswa, rangkaian pertama ospek prodi. Dari dulu saya sudah bilang, kalau ini semacam kegiatan yang tidak penting-penting amat. Tapi, daripada saya harus menyajikan subjektivitas, alangkah lebih baik bagi pembaca saya agar tahu apa saja yang terjadi sepanjang hari ini. Dengan begitu, barangkali saya bisa berlatih menulis etnografi seperti petuah Pak Hipo: "Antropolog itu tugasnya menyajikan data."

Dan semoga saya lulus sebagai antropolog amatir.

*****

Saya bangun subuh, sekitar pukul setengah lima. Jam kumpul bagi panitia krima adalah pukul lima, tapi saya dengan sengaja terlambat. Ketika bangun, saya segera mengambil wudhu' dan sholat. Setelah sholat, saya segera merapikan barang-barang yang perlu dibawa: laptop -yang akhirnya useless at all, buku catatan, dompet, dan lain sebagainya. Setelah merasa cukup, saya turun dan mencari sepatu. Sepatu olahraga saya tidak ketemu, dan akhirnya saya memakai sepatu pantofel cokelat yang amat sangat saya sukai.

Ketika perjalanan saya sudah hampir mencapai mencapai UIN, saya ingat tidak membawa jas almamater. Tapi perjalanan tetap saya lanjutkan. Mungkin nanti ketika sudah di kampus, saya akan minta diantarkan teman kembali mengambil jas. Dan benar saja. Meskipun dijadwalkan berkumpul di pukul lima, masih banyak teman-teman panitia yang belum datang. Dua orang teman dari divisi perlengkapan datang bersama seorang pegawai fakultas. Mereka membuka gedung B yang ditutup pagar.

Briefing baru dilakukan di pukul enam, dengan jumlah panitia yang tidak mencapai angka kuorum. Itu pun tidak termasuk panitia yang masih sibuk dengan pernak-pernik ruangan dan perlengkapan, sehingga tidak semua panitia yang mengikuti briefing. Di tengah-tengah itu, saya mendengar seorang teman hendak pergi keluar dengan motor. Saya -yang ketika itu masih menggunakan jaket ASKING- meminta tolong padanya agar bisa mengantarkan saya kembali ke asrama, mengambil jas, dan ia menyanggupi.

Kami hanya keluar sebentar, membeli baterai untuk mikrofon di Indomaret Sigura-Gura, lalu mengambil jas. Setelah itu, kami kembali.

Mahasiswa Baru (Maba) sudah banyak yang datang, tapi mereka masih dikumpulkan di parkiran motor, agar terkumpul banyak terlebih dahulu. Setelah itu, datanglah satu-dua teman mereka yang bangun agak siang. Saya, sebagai anggota divisi medis, mengawasi wajah mereka satu per satu, agar terlihat siapa yang terlihat pucat. Seorang teman wanita memberi masukan, bahwa sudah sewajarnya bagi perempuan untuk terlihat pucat tanpa balutan make-up. Dan salah satu peraturan mengikuti krima, adalah tanpa make-up.

Maba masuk ke ruangan sekitar pukul tujuh, yang kemudian dilanjutkan dengan sweeping. Istilah terakhir ini bukanlah istilah yang sama dengan kegiatan kepolisian. Sweeping dalam rangkaian krima berarti hadirnya senior antroplogi -di luar panitia angkatan 2018- untuk kemudian memberikan pressing kepada panitia dan maba dalam bentuk tekanan psikis. Biasanya hal itu dilakukan dengan cara membentak-bentak panitia, memarahi kesalahan-kesalahan kecil, dan lain sebagainya.

Tahun lalu, saya -dalam prosesi sweeping ini- disuruh pergi ke ruang medis, karena dianggap tak tahan dengan pressing. Padahal, yang sebenarnya terjadi, saya berusaha menenangkan diri agar tidak memukul mereka, para senior yang kebanyakan bacot dan goblok itu, dengan berdzikir. Saya mengucap doa setelah sholat, karena memang dzikirnya paling lengkap. Kalau-kalau mengingat kejadian itu, saya suka tertawa.

Untuk sweeping kali ini, saya berusaha keras agar divisi medis tidak terkena masalah. Saya pun mondar-mandir di sekililing maba, untuk melihat wajah mereka yang terlihat sakit ataupun lemas. Tapi memang itu sih yang paling penting. Untuk apa memikirkan senior yang hanya bisa drama? Dan alhamdulillah, saya berhasil mendeteksi satu anak perempuan yang pucat dan minta istirahat. Awalnya, dia hanya meminta masker agar bisa menahan napas di ruangan yang penuh sesak. Agak lama, saya mendekatinya lagi, dan akhirnya ia mengaku tidak kuat. Saya memanggil dua teman, yang kemudian mengantarkannya ke ruang medis.

Tugas jaga saya di ruangan krima hanyalah ketika sweeping, dan sisanya saya harus berjaga di ruang medis sekaligus menjaga persediaan obat. Beberapa teman panitia meminta obat mag, tapi hal yang sebanarnya tak tertahankan adalah rasa lapar. Kami berangkat pagi dan tidak sempat sarapan. Tak hanya satu dua, tapi hampir seluruh panitia mengeluhkan hal yang sama. Divisi konsumsi hanya menydiakan lemper, kue lapis, teh dan kopi, yang sebenarnya hanya dapat mengganjal perut.

Kami baru makan ketika acara selesai. Itu resminya. Tapi saya dan beberapa teman makan terlebih dahulu setelah sisa makan maba datang. Maba kali ini banyak menyisakan makanan. Entah dulu nasi yang disajikan ketika kami maba terlalu sedikit, atau memang maba kali ini tidak doyan makan banyak. Kapel acara sekaligus ketua angkatan kami memergoki teman-teman yang makan, dan dia kecewa. Sebagian dari kami tidak merasa bersalah. Toh pihak konsumsi tidak melarang.

Saya tidak terlalu mengikuti jalannya acara, karena saya hanya bertugas menjaga ruang medis. Sesekali saya pergi masuk ke ruangan acara, untuk meminta fresh care atau minyak kayu putih yang hanya tersedia satu dan dipegang CO divisi. Maba yang jatuh sakit ada dua orang, dan satunya telah saya sebutkan sebelumnya: satu anak perempuan yang tidak kuat bernapas di dalam ruangan yang sesak, dan satu lagi anak lelaki yang seperti anak pura-pura sakit. Ketika diberikan teh, dia malah minta kopi.

Kalau bukan di kampus, sudah saya pukul anak kayak gini.

Acara baru selesai menjelang ashar. Divisi medis ikut pula dalam proses pemulangan maba, mengantar mereka ke jalan raya. Awalnya saya diutus untuk mengantar mereka yang pulang ke arah Veteran. Tapi, ketika melihat maba yang pulang ke arah Suhat lebih banyak -sekitar tiga kali lipat- maka saya diminta untuk mengantar mereka yang ke Suhat. Sebelum berangkat, saya memperhatikan kembali wajah mereka satu per satu, barangkali ada yang merasa sangat capek dan nge-drop. Jam-jam pemulangan memang sedikit rawan.

Tapi alhamdulillah, tidak ada maba yang nge-drop. Semuanya pulang dengan selamat. Gak tau kalo sudah sampe tempatnya masing-masing.

Kegiatan kami selanjutnya adalah evaluasi, tapi itu baru dilakukan sekitar pukul empat. Seorang teman wanita izin pergi lebih dulu. Yang tak disangka, tidak hanya dia yang izin, tetapi juga ada sekitar empat orang wanita lain yang pergi untuk kepanitiaan lain. Dalam evaluasi, setiap divisi memaparkan kekurangan masing-masing sekaligus mengkritik dan menilai kinerja divisi lain. Evaluasi baru selesai pada pukul sembilan, dan memang begitulah antropologi.

Tempat ini dipenuhi dengan diskusi yang berputar-putar. Mereka adalah kumpulan orang-orang yang suka berbicara dengan bahasa ilmiah, tapi tidak mudah dimengerti. Mungkin saya yang bodoh, tapi rasanya rata-rata teman kami seperti itu: mereka tidak mau terlibat dalam percakapan yang rumit. Hanya sebagian orang yang memonopoli percakapan serta perdebatan, lalu kemudian merekalah yang ditanya pertanyaan-pertanyaan filosofis dari senior.

Yang tak disangka sebenarnya, adalah ketika masa evaluasi tambahan, yang dicanangkan secara pribadi oleh kapel, banyak orang yang menangis. Mereka seperti menahan kesedihan sejak lama, lalu baru tumpah di malam itu. Dan yang ditangisi adalah berbagai hal: keuangan angkatan, pertemanan, stigma buruk seorang teman, dan lain sebagainya. Intinya, angkatan kami dianggap tidak kompak, tidak solid, dan kurang menyatu satu sama lain. Dan -menurut sebagian teman- kami kalah dengan adik tingkat.

Saya tidak peduli. Selama di pondok, angkatan saya juga dianggap kurang kompak. Tapi kami tetap bisa bertahan. Slogan kami ketika itu, 'sendiri kita tangguh, bersama kita tak terkalahkan.'

*****

Saya pulang ketika semua selesai, tetap sendirian, berjalan kaki menembus UIN. Hape saya taruh di kantong kanan, dengan headset tidak terpasang. Hape saya udah lama mati, dan saya tidak bisa menikmati musik. Di Jalan Sunan Kalijaga, dua orang perempuan berjalan dengan sangat lambat, menghalangi saya yang terburu-buru istirahat. Ketika sampai di kamar, saya segera mandi, sholat isya, dan mencari makan. Setelah semua beres, saya baru bisa melanjutkan tugas yang tertunda.

15-16 September, 2019

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir