Kita Terpisah: Janjimu Bersamanya, Waktuku Bersamaku
orang-orang menyimpan dendam, tapi yakinlah darah tak akan tumpah tanpa amarah
orang-orang datang dengan cinta, tapi lihatlah wajah-wajah masam yang ditunjukkan malam: aku bermimpi kita bermusuhan
anak kita mati di selasa
hari-hari berakhir tak terasa
*****
Lelaki itu datang dengan menyilangkan lengan: setidaknya begitulah perangainya di hadapanku. Kemeja batik berlengan panjang warna biru dan bawahan celana hitam melengkapi tubuhnya. Dan memang ia tampan, Aku turun dari panggung, mendekatinya, tapi ia melarangku. Sayang, aku sudah sampai di titik dimana ia berdiri. Bebauan masakan melingkupi kami. Beberapa wadah sayur diisi kembali, dan lelaki itu akhirnya datang mendekatiku.
"Mau makan?" ia bertanya, basa-basi tanpa ekspresi. Aku tertawa. Lagi-lagi ia bercanda di tengah keramaian. Atau setidaknya, aku berharap begitu. Beberapa mata memandangi kami, terutama kepada lelaki di hadapanku ini. Tidak ada pengantin wanita yang turun panggung, bangkit dari kursi pelaminan, kecuali aku. Dan bagaimana bisa aku tidak turun, manakala lelaki ini datang begitu saja dalam salah satu momen penting kehidupanku.
"Lah, kok ketawa. Mau diambilin apa?" Wajahnya tidak tersenyum, menunjukkan bahwa basa-basinya serius. Mengenalinya bukanlah kesalahan, dan aku tidak pernah menyesalinya. Dan Ia benar-benar lelaki dengan ekspresi paling datar yang pernah kukenal. Dengan sopan, ia memintaku mundur, agar tidak menghalanginya mengambil piring. "Kamu masih suka nasi goreng, kan? Atau udah dilarang sama si Dimas?"
Ibu mendatangiku, bersama Ayah ia turun dari panggung. Lelaki itu tersenyum kepada kedua orangtuaku, lalu bergantian menyalami Ayah dan Ibu. Selesai mengambil sepiring nasi goreng -entah dengan lauk apa- ia kembali.
"Lah, kamu kenapa nangis?" aku tak menyadari air mata yang mengaliri pipi. Dengan sedikit paksaan, aku mengelak. Lelaki itu menawarkan tisu dari atas meja. "Jangan nangis dong, Ya. Kamu harusnya bahagia, Ini momen penting lho."
Aku benar-benar tak mampu berbicara. Lelaki ini datang tanpa pembicaraan lainnya.
Kemudian Ayah mengajaknya pergi, mungkin berbicara secara empat mata di suatu sudut atau di luar ruangan. Ibu berusaha menjauhkanku darinya, menarikku kembali ke atas panggung, menaiki tangga demi tangga dengan tangisan yang tertahan. Dimas menunggu di kursi pelaminan, dengan wajah bertanya-tanya. Tapi aku mendatanginya dengan senyum, mengisyaratkan padanya bahwa semua baik-baik saja. Dan semoga semua hal berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun harus menafikan fakta bahwa aku merindukannya.
*****
Adzan Dhuhur terdengar, dan menurut jadwal, resepsi kami selesai. Dimas mendatangiku, memeluk dengan erat sebelum akhirnya bertanya, "Tadi anak itu dateng ya?" Tidak. Dimas tidak bertanya. Ia mengkonfirmasi pengetahuannya. Aku mengangguk.
"Kamu di sini dulu, ya." Dimas bangkit, lalu dengan sedikit pesan ia meninggalkanku. Dari belakang, aku melihat bajunya yang mulai kusut, dengan lengan yag disisingkan. "Aku mau ketemu sama Ayah. Nanti kita bicara."
Kalimat terakhirnya membuatku khawatir. Dimas bukan tipe lelaki pemarah, hanya saja ia menceba tersenyum sepanjang hari, menghadapi fakta bahwa kami sama-sama lelah mempersiapkan hari ini. Resepsi mewah ini kami adakan di ballroom hotel bintang empat dengan harga tak seberapa. Hanya ratusan juta.
Meski berusaha tersenyum dan terlihat tegar, Dimas tak sekuat lelaki itu: yang menyelamatkanku ketika aku hampir jatuh, dan datang dengan senyum ala kadarnya. Lelaki dengan berbagai luka di sekujur tubuhnya, dan rela kehilangan jiwanya. Lelaki yang baru saja datang, dan menghantui pernikahanku.
Dibanding dengannya, Dimas bukan apa-apa.
Kisah ini sering terjadi, dan kisahku tidak berbeda. Tapi kau musti tahu, mungkin saja kisahmu tak jauh berbeda.
*****
lelingkar itu membuat kita terdiam. sesajuen-sesajen dipindahkan, tangga-tangga dinaikkan. rupamu tak berubah: langit-langit disangga dan bebungaan tertanam di rambutmu.
tubuh itu indah: aku melihatnya dalam balutan gaun putih yang benderang. sekiranya dingin ini tidak terlalu mencekam, mungkin aku dapat menahan diri.
tapi sayang, kebahagiaanku membuncah bersama tangis dan air mata, memelukmu.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?