Kehebohan Malam Hari dan Rasa Kantuk dalam Perjalanan Jauh
Semalam, di kelas antropologi ekonomi, saya benar-benar tidak fokus. Pasalnya, notifikasi di hape saya berdering terus-menerus, berdatangan dari pesan-pesan WA. Seorang kenalan (bukan teman, saya tidak menganggapnya teman) menanyakan saya tenatng nama lengkap ketua dewan juri. Kenalan lain meminta penjelasan tentang teknis lomba yang sebagian halnya belum jelas seperti venue dan lain-lain. Beberapa pesan harus saya abaikan, agar saya tetap bisa berkonsentrasi pada dosen yang menjelaskan asal-mula kapitalisme.
Sayangnya, ada pesan yang benar-benar tidak dapat saya abaikan.
Pesan itu datang dari grup alumni pondok. Tepatnya, alumni pondok yang kini berdomisili di Malang untuk kuliah. Anggota grup itu berasal dari kampus 'sekitar sini': UIN, Unisma, UMM, UM, dan saya satu-satunya yang UB. Berawal dari seorang teman yang memberi kabar bahwa salah satu teman UIN kami jatuh sakit, maka tak ayal grup pun rame. Satu per satu teman menawarkan bantuan dan berjanji akan datang. Saya sendiri belum berani berjanji, karena masih berada dalam kelas.
Tak lama setelah kelas, saya meminta seorang teman laki-laki untuk menjemput saya di kampus, agar bisa berangkat bareng ke RS. Yang membuat heran adalah kenapa jauh sekali. Teman kami yang bernama Safa ini dirawat di RSUD Saiful Anwar. Sebelum-sebelumnya, seorang teman kami jatuh sakit dan dirawat di RS. Unisma. Sebelum itu, ada pula kakak kelas kami di pondok dulu yang dirawat di RS. UMM. Tapi kenapa sekarang harus ke RSUD?
Saya datang di pukul sembilan, mendatangi teman-teman perempuan yang duduk di ruang tunggu. Sekedar memberi tahu saja: kami tak akan berkumpul jika tidak ada peristiwa darurat semacam ini. Setiap wacana kami untuk berkumpul selalu gagal dan tinggal wacana. Tapi, kalau sudah ada sakit seperti ini, wajib bagi kami untuk datang. Entah bagaimana konsepnya, saya tidak sadar juga. Intinya, ketika ada kasus-kasus darurat seperti ini, kami harus bahu-membahu membantu.
Meskipun banyak yang datang, tak ada satu pun dari kami yang bersedia menginap di rumah sakit untuk menjaga Safa. Saya sendiri meskipun kelas hari ini baru diadakan sore, tapi tetap tidak bisa karena ada keperluan lain di kepanitiaan. Tak lama, datanglah teman kami yang lain dan bersedia menginap. Perdebatan berakhir di situ, dan kami pulang satu per satu. Kalau ada kesempatan, kami akan datang kembali mengunjungi. Sekaligus sowan kepada guru SMA kami yang datang dari Madura untuk menjenguk putrinya.
Saya pulang menjelang pukul sebelas. Saya belum sempat bertemu Safa, karena prosedur untuk membawanya ke ruang rawat inap masih belum selesai tadi malam. Lagipula, saya tidak membawa bekal apa pun. Semoga dia lekas sembuh. Kalau ada kesempatan bertemu, entah dalam keadaan sehat atau sakit, saya mungkin dapat bersilaturrahmi lagi.
*****
Tadi pagi, Mas Yaqin menjemput saya di asrama. Kami berencana sowan ke kediaman beberapa juri yang nantinya akan kami undang untuk menjadi juri MHQ. Kami berdua menuju daerah Tumpang, Kabupaten Malang dengan bermotor. Saya membawa helm sendiri, milik teman yang sudah lama belum saya kembalikan. Kami berangkat sekitar pukul sembilan atau setengah sepuluh dan perjalanan kami menuju ke Tumpang saja sekitar satu jam. Maka bosanlah saya selama perjalanan.
Alhasil, saya mengantuk sepanjang perjalanan. Beberapa kali kepala saya terantuk ke depan maupun belakang. Saya baru terbangun ketik berhenti, karena Mas Yaqin hendak mencari sarapan: sejak pagi beliau belum makan. Kami berhenti di sebuah warung seberang masjid. Sayangnya, warung berwarna hijau yang -aslinya- menyediakan rawon itu belum ada nasi, sehingga kami pergi dan mencari lagi. Kami berhenti lagi di sebuah warung sederhana di trotoar jalan. Tempatnya tidak terlalu nyaman, yang mana jika kami harus makan di tempat, maka kami lesehan dengan penjual. Tapi bagaimana lagi, perut kami sudah bergetar. Kami memutuskan makan di situ dan sedikit berdiskusi.
Banyak hal-hal baru terkuak selama diskusi. Maklum, Mas Yaqin bukanlah orang yang terbuka dan lebih mudah menyimpan pekerjaan sendiri meskipun sebenarnya harus diinformasikan kepada yang lain. Termasuk salah satu rahasia divisi kami yang tidak mau saya tulis di sini: kalau nanti ketahuan, agak sedikit bingung menghadapinya. Maka, lebih baik dirahasiakan. Diskusi kami berjalan lancar, dengan sedikit perdebatan tentang bagaimana venue MHQ yang seharusnya. Selesai makan, kami membayar dua porsi nasi campur dan dua teh hangat itu. Harga totalnya dua puluh ribu.
Apakah bendahara kepanitiaan gak mau ganti uang transportasi untuk sowan?
Untuk mencari kediaman juri, kami beberapa kali tersesat. Dengan bermodal alamat seadanya dan Google Maps yang tidak terlalu akurat, kami akhirnya sampai di rumah pertama juri yang kami hubungi. Namanya Ustadz Aynul Yaqin. Pengalaman beliau menjadi dewan juri di ajang Pionir membuat kami mengundang beliau. Pada beliau, kami mengatakan mendapat rekomendasi dari MHQ UIN. Saya tidak tahu kebenarannya. Hanya ikut-ikutan Mas Yaqin hendak ngomong apa.
Setelah itu, kami pamit untuk sholat jumat di tempat lain. Kami datang ke sebuah masjid kecil bernama Al-Hidayah dengan warna warna hijau yang kebetulan berada di pertigaan jalan desa. Saat hendak berwudhu, kami sempat kebingungan, karena tidak tahu persis di mana midho'nya. Ada sebuah tangga menurun, tapi itu kantor, bukan midho'. Lucu ya. Seorang warga desa menunjukkan pada kami lokasi midho' sekaligus sandal yang bisa dipakai untuk ke sana. Kami sholat jumat di masjid itu hingga selesai.
Tujuan kedua kami adalah rumah Ustadz Sulhan. Sama seperti Ustadz Aynul, beliau juga dewan juri Pionir. Bedanya -sepengetahuan saya- beliau lebih aktif di UIN. Ketika kami datang ke rumah pinknya -yang sekaligus menjadi TPQ bernama Al-Amin, beliau baru datang dari UIN. Kami dipersilakan masuk dan dengan malu-malu, meminum Nescafe yang disuguhkan kepada kami. Tak lupa, kami memberikan surat undangan dan form CV. Setelah berbasa-basi agak lama, kami pun pamit di jam satu.
Saya sempat berencana untuk menjenguk Safa -yang hingga kini masih- di RSUD. Tapi sayang, sepanjang perjalanan pulang, saya benar-benar mengantuk, lebih parah daripada perjalanan pergi. Maka kami pun memutuskan untuk pergi ke kampus dan tidur di UKM. Keputusan terakhir saya sendiri yang melakukannya karena akan ada kelas di jam tiga: metpen survei. Dengan menyetel lagu dari Youtube, sekaligus autoplay, saya tertidur. Tidak terlalu nyenyak memang, tapi cukup untuk beristirahat sebelum kelas.
*****
Mungkin saya akan jarang menulis. Tapi saya akan tetap menulis. Hehe


Kurangi nulis, bantu umi dulu
BalasHapus