Dia Memang Tersenyum, tapi Bukan Untukmu (Rama - Bagian Dua)


"Kalau ingin menulis kisah cinta, kenapa kau tak menulis kisah nyata?" pertanyaan itu muncul dari seorang teman, yang menemaniku makan siang dengan mie instan di tangan. Tetes-tetes kuah bertebaran di atas meja, mengotori tanganku hingga jari-jemari. Mataku masih mencari-cari gulungan mie di antara kuah tebal. Dalam hati, aku memuji rasa mie instan ini. "Heh, kamu denger gak?"

"Eh, kamu ngomong apa, Ram?" aku menoleh pada sahabat terbaikku ini. Rama namanya, yang dahulu kuceritakan tentang perasaan mendalamnya terhadap Hasna, teman baikku lainnya. Meski dia termasuk cowok yang sering dighibahin karena tampan, ternyata dia memendam perasaan kepada perempuan sederhana. Aku sendiri terkadang masih minder berjalan berdua dengan dia. "Jangan marah dong, gak konsen tadi."

"Udahlah, gak mau ngulang." Wajahnya kesal, lalu meminum kembali teh pagi harinya itu yang sisa setengah. Kami bertemu kembali di kantin setelah kelas usai, dan ini merupakan ritual yang coba kami biasakan sejak duduk di bangku kuliah: diskusi sembari sarapan hingga duhur menjelang. Toh, kami juga tak akan cepat pulang. Di tempat tinggal masing-masing, kami tidak punya kesibukan yang khusus. Maka lebih baik bagi kami untuk bersantai-santai sebentar, sembari mengisi waktu sarapan yang tertunda karena kelas pagi. "Lagian, kamu kalo makan mie segitunya."

"Kata ayahku, kalo makan harus konsen. Gak boleh ngerjain yang lain." Aku mencoba tertawa padanya. Meski bukan orang yang ramah senyum, bukan berarti Rama tidak bisa tertawa. Sejauh ini, obrolan dan lawakan kami setara, masih nyambung dan termasuk komunikatif. Lagipula, kedekatan kami didukung dengan kelas yang selalu sama di semester ini. "Lagian tinggal ngulang aja sulit banget sih. Ngomong apa tadi kamu?"

"Yaudah." Ia mengambil posisi duduk menghadap padaku, menyingkirkan piring kotor dan gelas kopinya. Aku sendiri tetap menghadap ke arah fakultas kami yang penuh pemandangan -taman bunga dan kakak-kakak tingkat cantik berseliweran. Sebelum mulai berbicara, aku mendengar Rama menghela napas dahulu, lalu mendekatkan wajahnya. "Bantuin saya ketemu Hasna, dong."

Sontak saja aku terkaget. Ia mengucapkan kalimat itu dengan pelan, seolah-olah tak mau didengar pengunjung kantin lain yang mayoritas pegawai fakultas. Aku tertawa dalam hati, pada mulanya. Tapi kemudian aku tak tahan dan memuntahkan tawa itu hingga terdengar ke penjuru kantin. Rama memukulku dengan keras, menyuruku diam dan tenang. Selagi aku sibuk menahan tawa, ia memohon maaf kepada pengunjung kantin yang lain.

"Apasih, ketawa keras banget." Ia memukulku lagi, untuk kedua kalinya. Dengan wajah memerah ia menyuruhku meminum tehku sendiri. "Ayo dong, serius. Beneran nih."

"Lah, ngapain juga minta tolong saya?" aku bertanya balik, kali ini langsung menghadap matanya yang malu-malu. "Kan kamu bisa bilang sendiri ke anak itu."

"Ya gak bisa, dong." Ia mengalihkan pandangannya, takut pada tatapanku yang memang kumaksudkan untuk mengintimidasi. "Kan saya gak akrab sama dia."

"Terus harus saya, gitu?"

Tak lama kemudian, ada suara memanggil. "Hei, Bocil!" Aku mengenal suara itu. Dari sesosok perempuan yang dengan anggunnya berjalan ke arah kami. "Eh, ada Rama juga. Gimana kabarnya si Ganteng?"

"Panjang leher kamu, Has. Baru aja diomongin." Rama salah tingkah, ia mengambil gelas tehku yang sudah habis. Hasna menaruh ransel coklatnya dan duduk di hadapan kami. Aku sedikit menyesal ia menghalangi pemandangan kampus. Tapi tak apa. Toh, pemandangan yang sesungguhnya berada di hadapan kami. "Dari mana barusan?"

"Dari perpus." Ia menjawab singkat, lalu dengan sibuknya membuka tas mengeluarkan buku-buku mata referensi mata kuliah teori. Dalam beberapa matkul, aku dan Hasna sekelas. Begitu pula dengan Rama. Dia termasuk anak yang aktif di kelas -karena di bangku kuliah kita tidak bisa mengklasifikasi pintar atau tidak. Ta[pi entah kenapa, ia menumpuk buku-buku itu di hadapan kami. "Emag kalian bicarain apa tentang aku?"

"Ya, kamu anak baik, terus pintar juga." begitu jawabku. Rama diam saja, lalu tersenyum kecil ketika aku menoleh padanya. Demi menutupi kegugupannya berhadapan dengan Hasna, ia memesan satu cangkir kopi lagi. Hasna sendiri membuang muka mendengar pujian seperti itu." Emang apalagi yang harus dibicarain tentang kamu?"

"Halah, boong." Gadis cantik di hadapnku ini tertawa kecil. Ia merapikan buku-bukunya dan mulai masuk ke dalam obrolan kami berdua. "Emang kapan kamu mau muji aku?"

"Eh, saya balik dulu ya." Rama yang diam saja sejak Hasna datang, tiba-tiba pamit. Ia mengemasi tasnya dan beranjak. "Kayaknya ada kerjaan nih di kosan."

"Hah?" aku dan Hasna kompak bertanya-tanya. "Kok 'kayaknya'? Emang gak pasti kerjaan kamu?"

"Ada cucian." Rama menjawab pertanyaan kami dengan terbata-bata. Ia tampak berbohong. Aku dan Hasna saling berpandangan, lalu membiarkannya pergi. "Ketemu besok, ya. Jangan lupa yang tadi."

"Oke!"aku mengatakannya dengan sedikit keras, lalu melihat punggungnya yang semakin jauh. Dalam hati, aku merasa iri dengan Rama. Ia tampan, pintar dan mudah bergaul. Aku mengatakannya terus-menerus, karena memang tidak seperti diriku yang hanya pemuda desa biasa. Temanku hanyalah Hasna seorang, dan kini Rama juga ikut menyukainya.

"Eh, jangan bengong, dong!" Hasna memukulku dengan buku, lalu menunjuk catatan kuliahnya yang berantakan. "Ini nih, bantuin saya mahamin teori yang tadi!"

Aku mengiyakannya, lalu kami belajar bersama.

*****

Dalam perjalanan pulang, Hasna banyak bercerita padaku tentang buku yang baru saja selesai ia baca. Selain merangkumnya, ia juga memberi komentar pada setiap kekurangan buku itu. Aku mendengarnya, lalu menambahkan sedikit komentar tentang bagaimana ia terlalu subjektif memandang penulisnya.

"Seharusnya kamu baca juga biografi penulisnya," aku mengatakannya dengan sedotan di mulut. Siang itu lumayan terik. Kami berdua sempat berhenti membeli air. "Semua buku pasti ada latar belakangnya. Kalo latar belakang penulisnya gak ikut dibaca, kadang penilaian kita jadi subjektif."

"Lah, tapi kan biografi itu -di beberapa buku- gak tersedia, buat apa kita capek-capek nyari latar belakang?" Hasna membantahku dengan sinis. Matanya menyipit ketika mengatakan itu. "Lagipula, karya itu harusnya seperti kata sastrawan, ketika sudah dilempar ke publik, itu bukan lagi milik penulisnya. Iya, kan?"

"Bukan itu maksudnya, Cantik." Aku tertawa mendengarnya. "Maksudnya, penafsiran dari sebuah karya itu diserahkan kepada pembaca dan penikmat, tidak lagi bergantung pada penafsiran senimannya. Kalau memang sebuah karya bukan lagi milik senimannya, untuk apa diberi nama?"

"Oh iya ya." Hasna mengangguk. Air mineralnya hampir habis, yang kemudian ia main-mainkan di tangan kiri. "Pinter juga kamu, Mar."

Aku menoleh, membuat raut wajah sakit hati. "Baru tahu?", lalu aku berlari mendahuluinya.

Hasna terdiam, lalu berteriak dengan sangat kencang, "SOMBONG!!" Ia mengejarku, di jalanan sempit yang penuh dengan pedagang makanan ringan. Dari jauh, kulihat wajah cantiknya, lalu berpikir, apakah aku rela meberikan kesempatan pada Rama? Sejak mengetahui rasa suka Rama pada Hasna, aku menjadi lebih sering merenung. Ia satu-satunya temanku, yang benar-benar dekat denganku. Bagaimana aku rela?

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir