Berkeliling Kota Malang di Hari Kamis (Bagian Dua)
Kali ini, saya diajak kembali untuk menyebarkan proposal ke beberapa perusahaan di Kota Malang, demi suksesnya event yang UKM kami adakan.
Tapi sebenarnya, saya hanya ingin bercerita tentang satu hal, yaitu bagaimana kami berhenti untuk istirahat, di sebuah warung kopi pinggir jalan.
Warung kopi itu kecil, dengan luas 3x2 meter. Seorang wanita paruh baya sedang melayani pelanggan-pelanggannya yang berbaju batik. Ia ditemani seorang lelaki berkaus biru, dengan raut wajah tampak lebih tua. Warung kopi itu penuh, kami datang tepat saat jam makan siang. Dari seragam batiknya, saya menduga para pelanggan warkop itu berasal dari sebuah kantor dinas. Beberapa dari mereka memiliki warna seragam yang sama, dan obrolan mereka -yang dapat saya tangkap- masih seputar kehidupan berkeluarga.
Warung kopi itu tidak menyediakan makan berat. Di atas meja, hanya ada kotak kaca berisi gorengan: tempe goreng, ote-ote, tahu goreng, dan tahu isi. Di bawah etalase itu, tersedia semangkuk cabai dan beberapa botol petis. Pelanggan yang datang dapat mengambill piring plastik kosong, kemudian mengisinya dengan gorengan pilihannya sendiri. Kami yang baru datang mengambil dua buah ote-ote dan tahu. Tak lupa pula kami memesan dua gelas Nutrisari.
Kami duduk meghadap jalan. Mobil dan motor melewati muka kami dalam jarak yang amat dekat. Terkadang, asap knalpot menerpa wajah, dengan angin yang sedikit kencang. Di satu sisi, kami merasa siang itu tidak terlalu gerah, tapi di sisi lain, angin itu juga membawa asap. Kami mencoba bertahan dalam keadaan tak nyaman. Bangku yang kami duduki, hanyalah sebuah bangku panjang yang sama sekali tidak sesuai dengan standar antropometri.
Beberapa pelanggan menawari kami duduk di dalam, beralih dari menghadap jalanan ke arah dalam. Beberapa pelanggan yang lain telah pergi, karena mereka belum sembahyang duhur. Di Indonesia, jam istirahat dimulai ketika adzan berkumandang, dan orang-orang menangguhkan waktu pergi ke masjid atau musholla terdekar untuk makan terlebih dahulu. Bangku yang kami duduki terasa lebih luas, dan jangkauan kami untuk mendapat gorengan yang lebih hangat lebih mudah.
Jalan tempat kami berhenti dinamakan Jl. Rumah Sakit, dengan gang-gang kecil diberi nama yang sama, tetapi dengan tambahan kode-kode huruf. Sebuah pick-up yang mengantar pengiriman perabot rumah tangga berhenti di tepi jalan, membuat kemacetan-kemacetan kecil. Tak lama kemudian, kemacetan itu memanjang: seorang lelaki tua berompi biru turun ke jalan untuk mengatur kendaraan-kendaraan berlalu-lalang. Motor yang kami pakai juga kena, kemudian disurh pindah ke sebuah gang kecil.
Di seberang, dua orang tukang sedang memasang atap untuk garasi sebuah rumah. Saya melihatnya sekilas, dua lantai dengan warna dominan putih dan hijau. Atap garasi yang hendak dipasang itu transparan, dengan warna hijau pula. Kating yang saya temani berkeliling itu pergi ke seberang, lalu membantu kedua tukang yang terlihat kesulitan. Tak lama, atap itu berhasil dinaikkan. Kating saya kembali, lalu kami lanjut berdiskusi tentang perusahaan-perusahaan yang akan kami datangi.
Ketika kami sadar bahwa proposal yang kami bawa sudah habis, kami kembali.
*****
Pengalaman kelas hari ini, tidak buruk-buruk amat.
Kelas pagi dimulai dengan presentasi. saya dengan seorang teman perempuan sekelas mendapat giliran pertama, lalu membuka perkuliahan. Setelah panjang lebar berbicara dengan poin yang selalu diulang-ulang, kami menyelesaikan presentasi. Satu-dua pertanyaan datang, dengan teman yang selalu membuat pertanyaan di luar konteks presentasi atau pertanyaan yang tidak dapat dipahami. Partner presentasi saya tidak banyak membantu. Ia menghadapi pertanyaan sederhana dengan jawaban yang melantur.
Tapi, yang paling menyenangkan, tentu saja Pak Hipo.
Beberapa kali kelas kami tertawa. Tak hanya candaannya tentang kondisi pemerintah Indonesia, tapi juga bagaimana prospek kerja kami setelah lulus dari prodi Antropologi UB. Beliau tak ingin kami menjadi guru, karena hal itu hanya membuat beliau malu. "Kami, sebagai perancang kurikulum, tidak menyebutkan 'guru' sebagai profil alumni." Setidaknya, selepas lulus, kami menjadi peneliti, baik dalam lembaga pemerintah, maupun swasta. Kalau bisa, mendirikan firma penelitian sendiri.
Kelas politik membosankan, sama membosankannya dengan membaca buku Antropologi Politik- Georges Balandier. Saya sudah berusaha konsentrasi, tetapi tetap saja merasa bosan. Begitu pula dengan mata kuliah Kebudayaan dan Sistem Ekonomi. Mengetahui beberapa fakta baru memang menyenangkan. Tapi, hal itu terasa tidak menyenangkan manakala ada hal-hal yang mengganggu: teman pintar yang bicara sendiri, pulpen yang tiba-tiba hilang, dan anggota kelas yang kebanyakan. Intinya, saya merasa tak nyaman.
Beberapa tugas baru sudah muncul, dan saya harus menyelesaikannya. Semangat!!!


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?