Bahasa Sebagai Model Studi Kebudayaan di Indonesia: Sebuah Review


Deskripsi Kebudayaan dan Fonologi Deskriptif

Masalah Keterbandingan

Ada tiga faktor yang membuat data-data etnografi tidak dapat diperbandingkan satu sama lain, yaitu: 1) ketidaksamaan data, 2) sifat data etnografi, dan 3) konsep-konsep yang digunakan untuk klasifikasi. Pencarian yang tepat agar data etnografi dapat diperbandingkan mengantar antropolog untuk menggunakan model fonologi desriptif. Ilmu itu sendiri merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang berfokus pada pendiskripsian fonem dari berbagai bahasa di dunia.

Model Linguistik I: "Kebudayaan itu Seperti Bahasa"

Bahasa, yang merupakan bagian dari kebudayaan dianggap lebih maju dalam penelitian komparasi, sehingga menjadi contoh akan komparasi etnografi.

Dalam fonologi deskriptif, ada dua cara yang dikenal untuk mendiskripsikan bahasa, yaitu dengan fonetik dan fonemik. Fonetik adalah pelukisan simbol-silmbol bunyi bahasa yang digunakan oleh si peneliti, sedangkan fonemik adalah pelukisan simbol-simbol bunyi bahasa yang digunakan oleh penutur bahasa tersebut.

Dari dua cara tersebut, para antropolog akhirnya menemukan inspirasi atas kendala yang seringkali terjadi di lapangan, yaitu tidak adanya pemahaman yang sama atas suatu masalah kebudayaan. Maka muncullah istilah etik dan emik yang perrtama kali diperkenalkan oleh Kenneth Pike. Melalui dua pandanga itu, maka antropolog pun akhirnya menemukan jalan keluar atas perbedaan pemahaman tentang kebudayaan. Selain itu, konsep kebudayaan yang selama ini muncul sangat eropa-sentris pun dapat didefinisikan ulang.

Kebudayaan Didefinisikan Kembali

Implikasi yang terjadi atas penggunaan bahasa sebagai model dari kebudayaan adalah redefinisi. Selain itu, defenisi kebudayaan yang mengekor pada bahasa sebagai modelnya membuat definisi bahasa menjadi lebih sempit. Jika antropolog mengikuti prosedur fonetik dan fonemik ahli bahasa, maka aturan baru pun muncul: etik sebagai pandangan peneliti harus diperbandingkan dengan emik, pandangan masyarakat yang diteliti. Dari dua implikasi tersebut, maka muncullah defenisi kebudayaan yang lebih sempit, yaitu: pengetahuan. Dari definisi yang sederhana ini, muncullah paradigma Etnosains, yang berfokus pada sistem pengetahuan suatu kebudayaan.

Etnosains di Indonesia

Di Indonesia, paradigma Etnosains dibawa oleh Dr. Parsudi Suparlan, yang mengajar di prodi Antropologi Univeritas Indonesia. Sayang, menurut Ahimsa-Putra, tak banyak paradigma itu digunakan dalam karya-karya serta kuliah beliau. Paradigma ini akhirnya digunakan oleh murid-muridnya dan telah banyak berhasil. Berbanding terbalik dengan paradigma Etnosains, metode New Etnography atau Etnografi Baru tak banyak dilakukan oleh peneliti di Indonesia.

Analisis Kebudayaan dan Fonologi Struktural

Membangun Antropologi yang Ilmiah

Levi-Strauss menganggap permasalahan utama antropologi bukanlah pada pelukisan kebudayaan, melainkan pada penjelasan dan penjabaran etnografi. Ia pun menaruh perhatian khusus pada linguistik yang dianggapnya lebih maju. Pengambilan model linguistik didasari pada ide linguistik struktural yang saat itu sedang bergeliat di kalangan ilmiah. Selain itu, Levi-Strauss juga berambisi untuk menjadikan antropologi sebagai ilmu sosial yang lebih ilmiah. Hal itu dilakukan dengan cara melakukan generalisasi konsep kebudayaan untuk mendapatkan perbandingan yang sesuai.

Ide strukturalismenya sendiri didapat dari pemikiran, bahwasanya setiap fenomena kebudayaan memiliki arti dan makna lain yang mungkin saja lebih murni dan benar. Ia tak hanya melihat yang tampak di mata, tetapi juga menelusuri arti dari setiap aspek kebudayaan. Oleh karena itulah, paradigma baru ini disebut "struktur", di mana peneliti mampu 'membangun konsep-konsep baru guna memahami berbagai macam fenomena yang ada.' (Ahimsa-Putra) Maka, dengan mengambil alih metode serta konsep linguistik, antropologi akan mencapai tingkatan ilmiah untuk sebuah disiplin ilmu sosial.

Model Linguitik II: "Kebudayaan itu Seperti Bahasa"

Model linguistik yang dapat diikuti di sini adalah buah ide Rom Harre. Ia mengungkapkan dua model, yaitu homeomorph dan paramorph. Homeomorph adalah model yang juga menjadi subjeknya, sedangkan paramorph adalah model yang belum tentu sesuai dengan gambaran objek, tetapi menggambarkan objek dengan lebih dekat. Contohnya, adalah struktur double helix untuk menggambarkan DNA. Gambaran DNA tentu saja tidak sepert itu, tapi strukturnya sama.

Sebagaimana paradigma-paradigam lain yang dibangun atas berbagai pandangan, strukturalisme Levi-Strauss setidaknya juga dibangun dari lima hal: 1) perspektif paradigmatic dan sintagmatik Saussure, 2) diferensiasi langue dan parole untuk memahami gagasan budaya, 3) analisis relasi dan objek unciousness, 4) konsep binary opposition Jakobson, dan 5) segitiga vokal dan konsonan fonologi. Jika ditelusuri lebih mendalam, masih ada banyak hal lain yang turut seta dalam mempengaruhi Levi-Strauss membangun paradigma strukturalisme. Tapi, lima poin itulah yang setidaknya menjadi dasar dan berkontribusi lebih besar.

Roman Jakobson dan Fonologi Struktural

Selain De Saussure, Levi-Strauss mendapat banyak pelajaran berharga dari Jakobson. Salah satunya dan yang paling penting adalah bagaimana menangkap makna dan tatanan yang tersembunyi dari suatu fenomena kebudayaan. Hal ini sering luput dari antropolog sehingga dianggap menyesatkan pemahaman. Salah satu strategi yang digunakan oleh Jakobson -bersama aliran Praha yang diikutinya- adalah strategi paradigmatis.

Strategi paradigmatis Jakobson dan aliran Praha: 1) mencari distinctive features yang membedakan istilah-istilah kebahasaan satu dengan yang lain, 2) memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah, 3) merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana yang dapat berkombinasi dengan istilah kebahasaan tertentu lainnya, dan 4) menentukan perbedaan-perbedaan istilah yang penting secara paradigmatis.

Selain strategi sintagmatik, Jakobson juga menyimpulkan adanya dalil sintagmatik yang mengatur adanya kombinasi fonemis atau bentuk-bentuk fonem. Dari sini, para ahli linguistik mulai melihat adanya perbedaan antar-fonem yang dibangun dari ciri-xiri dan vatiasi fonologos tertentu. Bentuk analisis yang sedikit rumit seperti ini telah mengilhami antropolog macam Levi-Strauss untuk membangun paradigma strukturalisme.

Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia

Strukturalisme hanya diperkenalkan oleh Prof. Koentjaraningrat, dan tidak begitu populer di lingkup peneliti sosial di Indonesia. Hal itu kemudian berubah semenjak adanya beberapa mahasiswa pascasarjana UGM yang dikirim ke Belanda dan mempelajari strukturalisme a la Belanda. Kebutuhan akan pemahaman terhadap paradigma ini melonjak di pertengahan dekade 1990, waktu di mana muncul istilah-istilah post-modernisme, post-strukturalisme, semiotik dan lain sebagainya dalam khazanah keilmuan dunia.

Gencarnya penelitian berbasis paradigma ini mulai dirasakan di milenium baru, yang kemudian memunculkan berbagai buku, artikel jurnal dan karya-karya etnografi lain. Penelitian berbasis strukturalisme sendiri gencar dilakukan oleh mahasiswa UGM, dan mengalahkan kepopuleran etnosains.

Review

Artikel ini secara lengkap menjelaskan bagaimana ilmu linguistik mempengaruhi perkembangan paradigma penelitian antropologi. Dari modelnya, muncullah paradigma Etnosains yang berfokus pada sistem pengetahuan sebagai bentuk murni dari kebudayaan dan paradigma strukturalisme yang mneyatakan bahwa ada 'struktur' atau 'makna dan konsep-konsep' lain dibalik suatu fenomena kebudayaan. Kedua paradigma cukup berkembang di Indonesia, bersama dengan paradigma-paradigma lain sehingga mampu membantu meluaskan cakrawala khazanah antropologi Indonesia.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir