Tentang Perbedaan Pengalaman dan Ekspektasi terhadap Film Endonesa
Kemarin, di hari pertama memasuki kuliah semester tiga, kami mahasiswa antropologi bertemu dengan dosen baru. Mas Iwan namanya. Bernama lengkap Fransiskus Apriwan, beliau lulus dari S2 Antropologi UGM, sebagaimana dosen-dosen kami yang lain. Umurnya masih terbilang cukup muda, terpaut satu dekade dari kami yang rata-rata kelahiran 1999, setahun sebelum milenium baru. Untuk kami, mahasiswa tingkat kedua, beliau mengampu mata kuliah Teori Antropologi Modern.
Saya tak ingin memberi biodatanya, atau bercerita tentang latar belakangnya, meskipun menarik. Beliau sempat mengajar film dokumenter di ISI, yang kemudian merasa karirnya di dunia perfilman sudah habis. Maka datanglah beliau kembali ke antropologi, dengan harapan karir penelitiannya dapat berlanjut. Dan sebagaimana kelas-kelas di awal semester, kami tak langsung membahas mata kuliah: Mas Iwan memberi kami kesempatan bertanya sebanyak-banyaknya.
Saya mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan yang umumnya ditanyakan pada orang-orang yang berkecimpung dalam perfilman: film favorit?
Menghadapi pertanyaan semacam ini, menimbulkan kesulitan baginya. Tentu. Saya saja kesulitan meskipun dalam beberapa detik kemudian saya akan menyebut Kimi no Nawa, atau mother! Dan dengan pertanyaan yang saya ajukan, beliau menyebut film-film dalam negeri: Posesif,. Tak lupa beliau juga merekomendasikan kami untuk menonton Bumi Manusia, garapan terbaru Hanung Bramantyo yang sejak penunjukan aktor saja sudah dikecam. Dan memang begitulah budaya kita: mengecam dahulu sebelum tahu fakta yang sebenarnya.
Masih berkaitan dengan film, saya menyambar kesempatan kedua: Kalau berhadapan dengan film adaptasi, baik itu novel atau komik, mana yang dikonsumsi atau dinikmati dahulu? Jawaban beliau sederhana, tak sesuai ekspektasi. "Nikmati saja yang keluar dahulu." begitu tukasnya. "Kalau memang yang keluar dahulu novelnya, baca novelnya. Kalau keluar filmnya dahulu, tonton filmnya." Ya, tak salah. Terkadang memang ada novel yang diadaptasi dari film, sebagaimana 3: Alif Lam Mim (2015). Dan bagi saya, versi teks dari visualnya jauh lebih buruk.
"Ketika Anda membaca Bumi Manusia, pengalaman membaca yang Anda punya dan rasakan akan berbeda dengan pegalaman Hanung." Mas Iwan melanjutkan penjelasannya. "Memang kedua pengelamana yang berbeda itu bissa diperbandingkan, tapi jangan dipertentangkan. Jadi ketika menonton karya Hanung, sudahlah nikmati saja. Kalau memang tidak sesuai ekspektasi, maka memang perbedaan pengalaman itulah yang menjadi poinnya."
Di titik inilah saya sadar, bahwa sepertinya saya mungkin memang tidak akan menonton film produk dalam negeri. Jujur saja, saya takut berekspektasi terlalu tinggi. Menonton Wiro Sableng (2018) saja, saya kurang puas, apalagi Bumi Manusia. Saya belum membaca bukunya, dan orang seperi saya tampaknya memang pantas dicemooh.
Kalau memang ada film Endonesa yang ide ceritanya anti-mainstream, mungkin akan saya coba. Dan lagi, saya tidak mau ikut kemeriahan orang-orang menyambut Bumi Langit Cinemaic Universe. Langkah mereka tampak terburu-buru, seperti anak kecil yang baru tahu bagusnya Avengers: Endgame, kemudian esoknya memutuskan untuk marathon MCU dari awal. Semoga saja langkah mereka untuk merilis semua tokoh pahlawan itu diimbangi dengan profesionalitas. Dan semoga ekspektasi masyarakat mampu mereka bayar.


Setoran wajib, yg lain hadiah.
BalasHapus