Rowsie
"Nyari apa, Mas?"
Aku sedang memperhatikan indahnya bunga-bunga, ketika gadis itu muncul. Ia membuka gerbang hingga mengeluarkan suara berisik besi yang saling bergesekan. Aku segera berdiri, mendekati sepeda yang kutempatkan di dekatku. Gadis itu keluar dari pagar bersama sesosok kakek tua yang dia iringi. Selain menatap gadis itu, aku menunduk hormat pada kakek itu.
"Kalau emang mau lihat-lihat gak papa kok, nak." Aku baru sadar kakek itu berbicara padaku. Aku pun mengiyakan dengan malu-malu. Tatapan wajah gadis yang di sampingnya membuatku takut, sekaligus malu. Seolah-olah aku seorang pengintai, yang kemudian berpura-pura memperhatikan bebungaan. Tapi, jujur, bunga-bunga di taman rumah ini memang bagus. "Kalau mau minta, bilang saja ke Rowsie."
Rowsie? Aku bertanya-tanya dalam hati, lalu sadar bahwa kakek itu menunjuk pada gadis di sampingnya. Aku mengiyakan saja, lalu hendak beranjak pergi. Tampaknya kedua orang itu memesan taxi online. Aku berpamitan pada keduanya. Sebelum aku benar-benar pergi, gadis dengan nama aneh itu memanggilku. Aku pun berhenti, menoleh padanya.
"Gelangmu bagus." Ia mengatakannya dengan wajah yang sedikit mengerikan, meskipun aku tahu ia menahan malu. Aku menatap gelang di pergelangan tangan kiriku, lalu tersenyum padanya. "Makasih."
Sore itu, aku pulang dengan wajah tersenyum, meskipun hari itu dimulai dengan agak buruk.
*****
Malam itu, aku bergegas pergi ke Pasar Besar setelah menyelesaikan administrasi Kakek di rumah sakit. Dengan uang pinjaman, aku memesan ojek online. Tak lama kemudian seorang driver datang dengan motor yang cukup besar. Dalam hati, aku mengeluh: driver ini salah motor. Harusnya ia mencari yang ukurannya lebih kecil. Tapi tak apalah. Toh, ini hanya ke Pasar Besar yang tak jauh jaraknya. Mungkin hanya lima sampai tujuh menit perjalanan. Tidak terlalu lama.
Sepanjang perjalanan, driver yang mengambil orderanku banyak bertanya padaku: tentang siapa yang sakit (kakekku tentunya), sakit apa, hingga biaya pengobatan. Ia juga turut berkeluh-kesah tentang program pemerintah yang -ternyata, berdasarkan penuturan driver itu- belum menyentuh seluruh masyarakat. Tentu itu bukan kesalahan pemerintah sepenuhnya. Ada oknum-oknum pejabat yang menyalahgunakan kebijakan, ada mafia yang berkelindan dalam sistem pemerintahan, dan banyak lainnya.
Driver ini lulus S1, ucapku dalam hati sembari tersenyum. Yah, setidaknya pemikiran kritisnya menjadi bukti masyarakat negeri ini sudah mulai terdidik. Setidaknya.
"Oh, iya," driver itu menoleh padaku, tapi tetap memperhatikan jalan. "Mbak mau ke Pasar Besar, kan?"
"Iya, pak." aku menundukkan sedikit kepalaku. "Kenapa emang?"
"Pasar Besar lagi berantakan, mbak." driver itu mengatakannya dengan sedikit lantang. Deru angin di jalanan menutup suara-suara kami. "Kabarnya tadi pagi ada geng yang berantem. Pasarnya jadi berantakan di mana-mana. Istri saya aja gak jadi ke pasar waktu denger kabar itu. Tapi masih ada kok orang yang jualan."
Aku mencoba mencerna ceritanya. Kemudian menyadari tentang kisah geng penguasa Pasar Besar. Wah, mereka ngelawan siapa, ya?
Belum sempat aku bertanya, driver itu sudah mengantarku di tempat tujuan. Dari mataku, kulihat betapa hancurnya kondisi pasar. Beberapa tenda yang berada di depan toko-toko emas terjatuh, tersebar di tanah. Banyak pula barang dagangannya yang berantakan: ikan, sayur-mayur, bebuahan, daging-daging, dan banyak pula yang lainnya. Seelah membayar ojek online dengan uang tunai, aku melangkahkan kaki ke dalam. Dalam pikiran, aku berusaha fokus. Aku mencoba mengingat apa saja bahan dapur yang ingin kubeli.
Keadaan dalam pasar tidaklah lebih baik daripada yang di luar. Meski sudah di-upgrade dengan bantuan pemerintah, hingga Pasar Besar di kecamatan ini terlihat lebih baik, tawuran geng itu menghancurkannya kembali. Aku mencoba berjalan dengan hati-hati, menuju toko langgananku yang letaknya agak ke dalam. Bebauan khas pasar tradisional menyeruak. Aku tak menutup hidung. Bebauan macam ini sudah menjadi keseharianku.
Dalam hati, aku merasa tak enak. Selain bebauan pasar, aku tiba-tiba merasakan hal lain. Semacam insting bertahan hidup. Yang tadi aku temukan pada anak itu.
Ya, anak lelaki yang tadi mengamati bunga-bunga kertas di depan rumahku.
*****
"Jadi kamu yang ngelawan anak-anak pasar?" aku mengajukan pertanyaan sembari melihat langit malam. Taman tempat kami bertemu dipenuhi cahaya. Tapi ketegangan yang nampak dari wajah anak laki-laki itu sungguh terasa: ia seperti bocah kecil yang merasa bersalah. Tapi tak mau meminta maaf karena ia melakukan apa yang ia anggap benar. Semacam itulah. "Hebat juga kamu bisa menang."
"Enggak, aku gak menang." Anak itu menggelengkan kepalanya. Ia menggenggam erat benih bunga yang kuberikan. Wajahnya masih malu-malu, tidak ingin menghadap padaku. Padahal, ia menemuiku dengan wajah yang sangat menyakinkan, meminta bunga apa saja yang mungkin bisa ia tanam di rumahnya. Ketika aku bertanya apa ia punya pengalaman botani, ia juga menggeleng. "Anak-anak pasar itu kuat. Mereka udah di sana sejak lama."
"Terus, gimana ceritanya kalian bisa tengkar?" aku penasaran dengan banyak hal. Terutama dengan kekuatannya yang tak tampak secara fisik. Hei, dia melawan geng pasar sendirian! "Ada masalah apa?"
Ia semakin terdiam, dan diamnya membuatku merasa sangat bersalah. Bagian mana dari pertanyaanku yang salah? Apa tak seharusnya aku menanyakan itu?
"Bukan apa-apa, itu hanya soal ibuku." Ia kini menatap wajahku, sembari beranjak dari bangku taman yang kami duduki. Aku mengikutinya berdiri, lalu berjalan menapaki trotoar di jalanan sepi. "Mereka sedikit kenal dengan ibu, dan kadang bikin marah. Gitu aja. Gak ada yang lain kok."
Aku mulai mengerti, dan diam, tak bertanya lagi. Ini terlalu berat. Ini tentang ibunya.
"Makasih ya, buat bunganya." sekali lagi mengucapkan itu, lalu mengajakku pulang. Rumah kami searah, dan jarak kedua rumah kami tak jauh. Ia mengajakku berjalan kaki, sembari bercerita tentang pertarungannya dengan anak-anak pasar.
*****
Kupikir masih akan ada doa-doa yang terkabul di tempat lain, sebagaimana nabi-nabi tersebar di seluruh muka bumi. Tapi aku salah. Harapanku hanyalah harapan. Ia kosong layaknya hatiku, menggenggam pasir-pasir di dasar lautan. Lagipula, doa-doa yang lahir dari lisanku bukanlah doa yang baik. Ia bercampur dengan niat-niat busuk, keinginan nafsu, dan amarah. Tuhan Maha Tahu. Ia tahu bagaimana seharusnya doa-doaku tak terkabul.
Salah satu doaku, adalah Rowsie.
Ia wanita yang menarik, dan kemunculannya yang cepat dalam hidupku, menarik sebagian besar perhatian. Sujud-sujud malam tergantikan dengan perjalanan. Kami saling bertukar kisah kehidupan. Ia bercerita tentang dunia bunga yang telah lama ia pelajari, dan aku bercerita tentang hidupku yang biasa saja, tak ada yang menarik.
Tapi Rowsie tetap tersenyum mendengarkan cerita-ceritaku. Entah apa yang membuatnya bahagia begitu.
Sebagai penutup, aku hanya ingin mengatakan bahwa Rowsie telah pergi. Ia hanya datang sebentar dalam kehidupanku. Tak banyak kejadian yang membumbui dinamika hubungan kami. Dan aku tak berharap kepergiannya benar-benar terjadi. Tapi apa daya, aku sendiri tidak bisa mengubah keputusannya untuk pindah rumah.
Kami tak bertukar kontak, dan setelah kepergiannya, kami benar-benar tak pernah berhubungan lagi.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?