Rabu dan Senyummu yang Normal


Suara notif dari LINE dengan sengaja merusak tidur saya di pagi hari. Dari seorang teman. Ia bertanya tentang janji bertemu yang kami buat kemarin. Dengan sengaja, saya mengabaikan pesan itu, lalu mencoba kembali tidur. Tak disangka, dia menelepon. Saya pun mengangkatnya dan berbicara dengan rasa malas. Di telepon, ia memaksa saya datang. Karena tidak punya alasan untuk tidak berangkat, saya menyanggupi. Saya pun mulai pergi ke kamar mandi, mempersiapkan diri, dan memesan ojek online. Tak perlu waktu lama, saya sudah dalam perjalanan menuju kampus.

Urusan di UKM tidak lama, hanya briefing sederhana sebelum saya akan menjadi MC dalam sebuah acara kepanitiaan di Karangploso. Setelah itu saya sholat duhur dan berniat mencari makan. Tapi karena tidak ada teman, dan saya tahu rasanya gak enak makan sendirian tanpa teman atau tontonan, maka saya mengurungkan niat. Untung ada penjual es krim keliling. Hanya bermodal sepuluh ribu, saya sudah mendapatkan satu gelas kecil es krim, dengan tambahan potongan roti tawar. Yah, setidaknya perut saya sudah terisi siang itu.

Karena tidak ada urusan lagi di UKM, saya memutuskan pulang ke asrama. Toh, saya juga tidak bisa berlama-lama. Akan ada kating yang hendak mengadakan latihan, dan saya tidak mau kehadiran saya malah mengganggu. Saya membereskan tas, dan pamit. Untuk pulang, saya memilih jalan kaki, melewati rute biasanya: ke Gerbang Fapet, tembus Kerto, menikmati sepinya UIN, dan jalan kaki di Sunan Kalijaga. Tidak ada yang spesial hari ini. Senyjm-senyum bahagia sudah tersampaikan, dan tak perlu berlebihan.

*****

Dalam perjalanan pulang, saya selalu berpikir tentang takdir saya, menjadi seorang Fariduddin Aththar. Bukan apa-apa, meskipun saya bukan orang terkenal, yang diikuti setiap tulisannya oleh banyak orang, dan dikutip dalam banyak makalah, saya juga berpikir tentang eksistensi diri. Dan tentunya, banyak pula hal lain yang saya pikirkan: tentang menjadi diri sendiri, dan bagaimana saya harus hidup dalam masyarakat.

Dalam banyak perjalanan, saya bertemu dengan berbagai macam orang. Terlepas dari pengalaman saya mondok selama tiga belas tahun, dan berkenalan dengan teman-teman yang beranekaragam sifatnya, saya juga memperhatikan orang-orang yang saya temui tanpa sengaja. Seperti seorang kakek bungkuk yang berlari kecil di tepi jalan, atau penjual nasi goreng yang kebingungan karena tak punya uang recehan untuk kembalian. Di lain waktu saya bertemu dengan dengan gadis cantik yang dikagumi secara diam-diam oleh teman saya, atau bayi yang dibantu berlatih jalan kaki sehingga membuat saya gemas sendiri dalam hati.

Setiap pertemuan itu slealu menginspirasi saya untuk bercerita, atau setidaknya membantu saya membuat ide-ide cerita dalam pikiran saya. Sehingga saya dapat menceritakannya di sini, atau secara langsung kepada orang lain. Yah, saya akan tetap berusaha mengambil sudut pandang positif, sebisa saya. Walaupun, ada kalanya, keinginan untuk bercerita tentang kisah-kisah yang lebih buruk itu muncul secara tidak sengaja.

*****

Secara umum, saya bersyukur menjadi diri saya sendiri, meskipun terkadang saya juga menyesal telah membandingkan diri saya kepada orang-orang hebat atau hal-hal luar biasa. Terhadap orang-orang yang lebih hebat di mata saya, saya bisa belajar dan mengambil inspirasi, yang mungkin dapat menjadi motivasi di lain hari. Terhadap hal-hal hebat di luar diri saya (seperti lancar 30 Juz, pandai public speaking, atau motivasi menjadi Mahasiswa Beprestasi), saya hanya bisa tersenyum, dan berkata dalam hati: semoga saya menjadi Yang Terbaik di lain hari

Komentar

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir