Orang-Orang yang Menyambut Kematian Lebih Dalam


akan selalu menarik perhatian.

mereka menari-nari di atas kubur dengan sepasang nisan yang melantunkan satu-dua lagu

musik mereka tak selalu terasa, karena hanya dapat didengar dalam frekuensi tertentu, bersama orang-orang beriman yang juga ikut menari dalaam hati mereka

langgam-langgaam mereka selalu sedih, tentu saja: ini kematian orang yang mereka sayangi. Tak mungkin mereka merasaa senang terus-menerus, toh ini ritual penuh tangis.

*****

kau boleh tidak setuju denganku, toh kita memang berbeda sejak bertemu.

kau pernah menolakku, dengan alasan-alasan tak masuk akal: bahkan hati ini pun menolak kemalasan berpikir yang demikian. hidup dengan seorang wanita adalah sebuah tantangan, dan aku mengambil keputusan itu. tapi kau lagi-lagi menolakku: aku benar-benar tak tahu.

"aku ingin pergi! aku ingin pergi!" aku tak pernah memaksa. hanya pepohonan di sini yang tak rela. dan kau sendiri selalu menganggap tempat ini rumah: kau menyukai pesta-pesta yang kuadakan, kau senang dengan teman-temanku, kau tertawa bersama api di tangan mereka. kita pernah membuat pujaan untuk malaikat, tapi ia menolaknya. aku pernah berkorban untukmu, tapi kau tak melihatnya.

kau tak tahu kekejaman seperti apa yang terjadi di sini. karena yang tersayat hatiku, karena yang terkorbankan tangis darahku.

*****

di sini, tangis-tangis mereda selepas hujan. selepas kematian mempertimbangkan kedatangannya kembali setelah lelaki yang tadi. ia tak puas, lalu berkata dengan ekpresi tanpa dosa, "korbankan untukku yang lebih nikmat, ya."

Kau datangi aku saja.

Kau belum matang, nak.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir