National Geographic Agustus 2019: Kita Bukan Sepenuhnya Pribumi


National Geographic di bulan Agustus ini, berfokus pada imigran, migrasi, dan asal-usul manusia yang merupakan makhluk imigran.

Hal itu dimulai oleh Mohsin Hamid, seorang penulis novel asal Pakistan. Ia menyebut bahwa, "Kita semua adalah keturunan Migran." Lalu ia menjelaskan bahwasanya leluhur Homo sapiens tidak berevolusi di satu tempat. Ia keluar dari cangkangnya yang mungkin berada dalam bahaya atau tak mungkin lagi ditinggali, menuju tempat baru yang dianggap lebih aman, lalu mendirikan rumah. tapi proses itu bukan terjadi sekali. Ia terus-menerus terjadi hingga detik ini: dibuktikan dengan keberadaan kita yang selalu menuntut perpindahan, dan menolak domestifikasi.

Kajian tentang migrasi dilanjutkan oleh catatan Paul Salopek, National Geographic Fellow yang melakukan perjalanan menapaktilasi perjalanan evolusi umat manusia. Terhitung sejak 2013 hingga 2019, ia telah melakukan perjalanan dari Etiopia, yang menjadi titik awal leluhur manusia sampai di Chile. Dari perjalanannya, Salopek menemukan dinamika jamak ditemukan di dunia saat ini: kemiskinan di Afrika, Perang di Timur-Tengah, dan gelombang migrasi baru dari Suriah.

Tak lupa pula ia menuliskan tentang bagaimana gelombang migrasi mengubah manusia: barang bawaan, alas kaki, dan kemampuan berbahasa asing yang disiapkan untuk merantau.Tak jarang, ia dikerumuni anak-anak migran yang berceloteh dengan bebasnya, berharap orang asing ini mengoreksi pengucapan bahasa Inggris mereka. Di awal, ia berniat untuk menelusuri jejak asal-usul manusia. Nyatanya, ia berada dalam gerombolan itu: ia berjalan bersama gelombang migran yang semakin besar. Dan Salopek, untungnya, berada di waktu yang tepat.

Buntut dari migrasi besar-besaran itu adalah, ketiadaan identitas. Hal ini diungkapkan oleh Nina Strochlic, yang menulis tentang bayi-bayi baru lahir di tengah gelombang imigrasi itu. Mereka lahir dalam keadaan terdampar di tengah-tengah perjalanan, dan itu berkebalikan dengan ide nasionalisme modern: mereka tak punya identitas kewarganegaraan. Orang tua yang melahirkannya -dalam kacamata positif- tentu saja bersalah. Tapi, bagaimana sikap sosial kita menimpakan dosa padi bayi?

Beralih ke Eropa, ada orang-orang Afrika yang pergi dengan kepalsuan-kepalsuan. Cynthia Gorney mengungkap hal itu dan menyatakan dengan jelas, komunitas Afrika di Spanyol, yang pada mulanya hijrah dengan iming-iming hidup mewah. Sampai di sana, tidak ada harapan bagi mereka. Pekerjaan yang tersedia hanyalah di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Dan pada akhirnya, mereka hanya dapat hidup dalam kepalsuan: mereka berkirim kabar tentang kesuksesan, tapi nyatanya tidur di tepi jalan.

Di akhir, ada Andrew Curry yang berusaha dengan keras menolak anggapan lama bahwasanya pemukim Eropa, adalah ras murni di dunia. Hampir seabad yang lalu, anggapan ini menimbulkan perang dunia. Bayangkan saja, bagaimana sebuah ide yang belum tentu benar pada saat itu menimbulkan kerusakan global: ratusan jiwa melayang tanpa dosa dan kerugian harta tak terhingga. Di sini, Andrew mengulik kembali, siapa sebenarnya penghuni pertama Eropa: Yamnaya nama mereka.

"Seberapa kuat dorongan untuk pergi? Untuk meninggalkan apa yang kau cintai? Untuk berjalan ke tempat asing dengan semua harta dijejalkan ke dalam saku? Itu lebih dahsyat daripada rasa takut akan kematian?" -Paul Salopek-

Damai Bagai Sungai oleh Pete Muller

"...bahwa kekerasan dan kekejaman bisa muncul di tempat tertenang sekalipun."

Gelombang Migrasi
  • 258 Juta orang pada 2017 tinggal di luar negara asal mereka
  • 3% orang di seluruh dunia merupakan migran: angka ini bertahan selama 50 tahun
  • Penyebab imigrasi: kemiskinan (Bangladesh, Meksiko, Vietnam), ketidakstabilan (Suriah, Afghanistan, Sudan, Irak, Nigeria, Rwanda), pasar tenaga kerja (Thailand, Spanyol, Arab Saudi, UEA, Jerman, Rusia, USA), dan perubahan kebijakan (Tiongkok, Etiopia, dan Inggris)

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir