Mensyukuri Tragedi-Tragedi Kecil Hari Ini
Jumat, 30 Agustus 2019 ini, adalah hari yang cukup bersejarah.
Setidaknya bagi saya. Ya. Bagi saya saja.
Di pagi hari, setelah saya menyelesaikan sebagian review untuk mata kuliah Kebudayaan dan Kognisi, saya sadar bahwa hari ini Jumat. Sudah waktunya bagi saya untuk mencukur kumis. Seharusnya, hari Jumat juga menjadi jadwal bagi saya untuk mencuci baju. Tapi tugas yang menumpuk menahan saya, hingga masih bertumpuklah beberapa pakaian kotor di kardus. Kapan saya akan mencucinya? Entahlah. Mungkin besok saya akan laundry.
Saya pun mengambil alat cukur, menyiapkan kamera hape sebagai cermin, dan naik ke rooftop. hari sudah menjelang siang dan panas di rooftop tak bisa dihindari. Maka saya pun berteduh di tangga, berharap masih dapat sebagian cahaya untuk melihat pantulan diri di cermin. Setelah mendapat tempat yang dirasa pas, saya mulai mencukur kumis. Cahaya yang remang-remang membantu saya melihat.
Tapi tak cukup. Cahaya matahari benar-benar kurang. Dan terjadilah apa yang musti terjadi:
hidung saya mengeluarkan darah. Rupanya terkena sayatan gilette. Saya terburu-buru turun, mengambil tisu, dan menahan darah yang terus mengalir. Saya pun panik, karena tempat hidung saya tersayat itu memang tak terasa, tapi cukup merepotkan. Saya mengambil uang, turun ke lantai satu, memakai sandal danpergi ke arah jalan utama. Tujuan saya jelas: membeli hansaplast di Indomaret. sampai di sana, saya menanyakan tempat hansaplast, lalu mengambilnya dari tempat yang ditunjukkan. Saya segera kembali untuk memasangnya.
Tapi ternyata, darah itu berhenti, tak lama kemudian. Hati saya pun lega. Setidaknya, saya tidak perlu memakai hansaplast di hidung. Itu sangat memalukan. Saya tidak ingin terlihat lemah.
*****
Tragedi kedua terjadi di sore hari.
Selepas kelas Metpen Survei, saya bersepeda ke arah UKM, dengan niat mengambil jaket ASKING kesayangan saya yang tertinggal. Setelah saya berganti pakaian, saya pulang. Di tengah jalan, seorang kating memanggil. Saya pun berhenti dan turun dari sepeda. Ketika saya berjalan ke arahnya, seorang teman lain berlari menuju sepeda saya. Ia ingin mencoba sepeda saya. Tak ayal, saya langsung berlari, mencoba melarang teman itu, dan...
BRAKK!!!
Kaki kanan saya terpeleset, kaki kiri saya tersandung pagar batu, dan saya berguling ke arah motor-motor yang terparkir. Dalam beberapa detik, saya berteriak. Meskipun tidak keras, saya merasa sangat sakit. Terutama di lutut kiri. Saya cukup lama berbaring di tengah jalan, sebelum akhirnya beberapa teman dan kating mendatangi saya lalu mengangkat saya ke pinggir.
Dan benar saja. Lutut kiri saya beset. Betis kaki kanan terasa tidak nyaman ketika ditekuk, dan punggung bagian bawah terasa sakit pula. Sampai tulisan ini dimuat, rasa sakit itu masih ada. Oleh karena itulah bahasa penulisan saya dalam tulisan ini tidak seperti biasanya. Karena saya memang sedang sakit. Dan tidak konsentrasi.
*****
Selama mengobrol dengan teman-teman, saya memang mudah mengumpat, dengan umpatan yang dimodifikasi, "Jasit!", atau "Hasut!" Tapi, selama berdiam diri, saya beristighfar. Saya tahu ada dosa yang langsung terbalaskan di hari ini, dan semoga dosa saya benar-benar berkurang. Setidaknya, itulah yang saya harapkan. Selain itu, tragedi-tragedi kecil ini harus saya syukuri. Siapa tahu, dengan kejadian ini, saya terhindar dari bahaya yang lebih besar, atau lebih mematikan. Siapa yang tahu? Bukan begitu?
Alhamdulillah ya Allah


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?